BANYU POS – JAKARTA. Nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah. Mengutip Bloomberg, Jumat (24/7/2026) pukul 10.51WIB, rupiah melemah 0,21% ke level Rp 17.973 per dolar AS. Rupiah sempat menyentuh Rp 17.982 per dolar AS pada pukul 10.06 WIB.
Sebelumnya, rupiah ditutup melemah 0,11% secara harian ke level Rp 17.936 per dolar AS pada Kamis (23/7/2026).
Prasetya Gunadi, Analis Samuel Sekuritas Indonesia mengatakan, perekonomian Indonesia menunjukkan momentum kredit yang kuat, dipimpin pertumbuhan kredit investasi sebesar 24,9%, sementara BI mempertahankan suku bunga di 5,75% untuk menyeimbangkan pertumbuhan dan stabilitas rupiah. Investasi hilirisasi bauksit dan kerangka Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) yang baru mendukung pengembangan industri serta pendalaman pasar keuangan.
IHSG Melemah Lebih dari 1% pada Perdagangan Jumat (24/6) Pagi, Ini Sebabnya
“Namun, rupiah masih tertekan oleh defisit fiskal, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian tarif baru AS,” ujar Prasetya dalam risetnya pada Jumat (24/7/2026).
Prasetya melihat pertumbuhan jangka pendek diperkirakan tetap ditopang kredit investasi, hilirisasi mineral, dan penguatan infrastruktur digital. Namun, kenaikan harga minyak dan potensi tarif AS dapat meningkatkan tekanan inflasi, perdagangan, dan nilai tukar sehingga membatasi ruang BI untuk melonggarkan kebijakan.
Ia menyebut, kejelasan regulasi untuk cukai rokok, pekerja gig, dan restrukturisasi sektor keuangan BUMN juga akan menentukan kepercayaan dunia usaha dan investor.
Investasi Baja Turun 22%, Cermati Prospek dan Rekomendasi Saham Emiten Baja
“Disiplin fiskal akan semakin penting ketika pemerintah menyeimbangkan insentif pajak, anggaran MBG, dan prioritas pembangunan lainnya,” terang Prasetya.
Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi juga melihat sentimen defisit APBN menekan pergerakan rupiah. Ia memperkirakan rupiah hari ini (24/7/2026) bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada Rp 17.930 – Rp 17.980 per dolar AS.




