Membangun kota sinema, menggerakkan mesin ekonomi Jakarta

Hikma Lia

Bean bag warna-warni memenuhi lantai salah satu ruangan di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (4/7) siang. Di atasnya, ratusan pelajar dan mahasiswa duduk bersisian tanpa memedulikan asal sekolah atau kampus mereka.

Advertisements

Seluruh perhatian tertuju ke layar lebar yang memutar film-film pendek karya sineas muda finalis Jakarta Youth Film Festival (JYFF) 2026. Ruangan itu tidak hanya menjadi tempat pemutaran film. Di ruangan sederhana itu, masa depan industri film Jakarta bukan hanya dipertontonkan, tetapi sedang dipersiapkan. 

Di salah satu sudut ruangan, Satria Raka Mahendra menatap layar dengan cara yang berbeda. Siswa kelas XII jurusan Broadcasting SMKN 45 Jakarta itu tidak sekadar mengikuti jalan cerita. Matanya justru sibuk mengamati pergerakan kamera, komposisi gambar, dan cara sutradara membangun emosi penonton. Ia datang bukan sekadar untuk menonton, tetapi juga untuk belajar. 

Advertisements

Salah satu film yang paling diingatnya mengangkat budaya Betawi melalui kisah tentang ondel-ondel. Tak sekadar menikmati alur cerita, Satria mengamati setiap teknik pengambilan gambar yang disuguhkan sineas dan sutradara di baliknya. 

“Filmnya menarik karena bisa memberi perspektif bagaimana budaya bisa hidup dalam film dan menjadi nilai yang bisa diserap para penonton,” ujar Satria di sela pemutaran film kepada Katadata.co.id. 

Bagi Satria festival film yang merupakan bagian dari gelaran Jakarta Kreatif Festival (JKF) itu tidak hanya menjadi hiburan tetapi memberi kesempatan bagi pelajar untuk saling belajar. Mereka dapat melihat bagaimana sekolah lain menyusun cerita, menentukan tema, hingga menerjemahkan gagasan menjadi sebuah film.

“Banyak sekolah bisa berkreasi. Dari situ kita belajar cara membuat film dan mengembangkan ide,” ujarnya.

Tak hanya Satria, di barisan penonton lainnya duduk tiga mahasiswa Indonesia Banking School (IBS) yaitu Sintia, Salma, dan Dewi. Mereka datang bukan sebagai peserta, melainkan penonton yang penasaran dengan karya para sineas muda.

Bagi Sintia, festival seperti ini penting agar perfilman Indonesia tidak berhenti pada pola cerita yang berulang. Menurut dia, selama ini dunia perfilman Tanah Air terutama di Jakarta semakin monoton dan kurang berkembang. Dia berharap dengan makin seringnya digelar film festival akan muncul karya-karya yang lebih bernilai.

Salma memiliki harapan serupa. Sebagai penikmat film horor, ia ingin sineas Indonesia lebih berani mengeksplorasi genre.

“Horor Indonesia sering memakai pola yang sama. Akan menarik kalau muncul pendekatan yang lebih beragam,” ujarnya.

Kesadaran akan perlunya hiburan alternatif itulah yang ingin dibangun Bank Indonesia Perwakilan Provinsi DKI Jakarta melalui Jakarta Youth Film Festival yang menjadi bagian dari Jakarta Kreatif Festival (JKF) 2026. Dalam dua bulan masa pendaftaran, festival tersebut menerima 242 karya dari pelajar dan sineas muda. 

Bagi Bank Indonesia, festival ini bukan sekadar ajang apresiasi film. JYFF menjadi bagian dari strategi memperluas ekosistem ekonomi kreatif Jakarta. Festival semacam ini  memiliki efek berganda tinggi karena melibatkan rantai usaha yang panjang, mulai dari penulis naskah, rumah produksi, penyewaan alat, hotel, transportasi, fesyen, kuliner, hingga platform digital. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan mengatakan peran inilah yang ingin dimaksimalkan. BI Perwakilan DKI Jakarta pun  mulai menempatkan industri kreatif sebagai salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi Jakarta pasca transformasi ibu kota menuju kota jasa dan kota global. 

“Ekonomi kreatif mampu menciptakan lapangan kerja yang luas dan mentransformasi ruang kota menjadi lebih menarik dan inovatif,” kata Iwan di sela pelaksanaan Jakarta Kreatif Festival.

Menurut Iwan, penyelenggaraan JKF tahun ini tidak hanya menghadirkan pameran UMKM, tetapi juga memadukan tiga sektor kreatif yang dinilai memiliki efek berganda besar, yakni olahraga, musik, dan film. Ia meyakini tumbuhnya industri film akan menggerakkan banyak sektor lain, mulai dari perhotelan, transportasi, kuliner, hingga pelaku usaha mikro yang terlibat dalam proses produksi.

Jakarta Kreatif Festival (Katadata) Tumbuhnya Ruang Kreatif 

Makin tingginya minat masyarakat terhadap industri film tak hanya terlihat selama dua hari gelaran JYFF. Belakangan makin banyak kegiatan di Jakarta yang memadukan event dengan pertunjukan film terbuka seperti terlihat dalam kegiatan Semasa Piknik yang berlangsung di Lapangan Banteng, 26-28 Juni 2026. 

Tema piknik dengan jajanan kuliner yang beragam menjadi semakin semarak dengan adanya layar lebar yang disediakan Jakarta Film Commission. Dengan format outdoor, para pengunjung bisa bersantai duduk-duduk di rumput sembari menonton film.

Indar (32 tahun) salah satu pengunjung yang datang bersama keluarga kecilnya merasa memiliki hiburan yang menyenangkan dan cocok untuk bersantai bersama keluarga. Menurut dia, Jakarta kini semakin membutuhkan hiburan kreatif yang bisa menjadi alternatif warga. Pertunjukan film di area terbuka menurut dia memberi pengalaman berbeda sehingga perlu lebih sering dilaksanakan. 

“Warga Jakarta butuh ruang hiburan yang aman dan nyaman serta ramah dengan keluarga salah satunya bisa lewat pertunjukan film terbuka seperti di taman ini,” ujar Indar. 

Bagi Jakarta yang menyumbang sekitar seperlima aktivitas ekonomi nasional, sektor kreatif menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru di tengah transformasi kota menuju pusat jasa dan ekonomi berbasis pengetahuan. Namun, membangun industri film tidak cukup hanya dengan memperbanyak produksi.

Pengamat film Hikmat Darmawan menilai cita-cita Jakarta menjadi Kota Sinema akan sulit tercapai apabila film hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi. Menurut dia, kota sinema bukan sekadar kota yang ramai menjadi lokasi syuting.

“Kita harus membangun budaya sinema, bukan hanya industrinya,” ujarnya.

Budaya sinema, kata Hikmat, mencakup banyak hal antara lain komunitas film, ruang diskusi, klub film, arsip perfilman, festival, pendidikan, hingga penonton yang terus tumbuh. Ia mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan industri film tidak semata-mata jumlah tiket yang terjual.

“Jangan hanya memenuhi kursi bioskop, tetapi bagaimana menghidupi kursi itu,” katanya.

Karena itu, Jakarta memerlukan lebih banyak ruang pemutaran alternatif agar masyarakat dapat mengakses film-film di luar arus utama. Festival juga harus diposisikan sebagai ruang belajar dan tempat bertemunya sineas, komunitas, investor, dan publik. 

Antusiasme masyarakat menikmati film yang ditayanngkan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat (Katadata/ Ira guslina) Membangun Ekosistem Pembiayaan 

Di balik optimisme membangun Jakarta sebagai Kota Sinema, masih ada satu persoalan mendasar yang belum sepenuhnya terpecahkan yaitu soal pembiayaan.

Berbeda dengan industri manufaktur yang memiliki aset fisik sebagai jaminan, industri film bertumpu pada gagasan, naskah, karakter, dan hak cipta. Nilai ekonominya baru lahir ketika sebuah karya selesai diproduksi, menemukan penonton, lalu berkembang menjadi kekayaan intelektual. 

Karakteristik inilah yang membuat banyak lembaga keuangan masih memandang film sebagai sektor berisiko tinggi. Akibatnya, tidak sedikit sineas yang berhenti bukan karena kehilangan ide, melainkan karena kehabisan modal.

Hikmat Darmawan menilai pembangunan ekosistem perfilman tidak akan pernah utuh jika persoalan pendanaan tidak diselesaikan sejak hulu. Menurut dia, Jakarta memerlukan mekanisme pembiayaan yang lebih progresif, mulai dari pembentukan film fund, dukungan terhadap film dokumenter dan eksperimental, hingga skema pembiayaan yang mengakui kekayaan intelektual sebagai aset bernilai ekonomi.

Ia juga mendorong hadirnya dana abadi kebudayaan agar karya-karya yang memiliki nilai artistik dan budaya tetap memiliki ruang berkembang, meski belum tentu menghasilkan keuntungan komersial dalam waktu singkat.

“Kalau semuanya hanya diukur dari pasar, kita akan kehilangan ruang untuk melahirkan karya-karya baru. Kota sinema dibangun bukan hanya oleh film yang laris, tetapi juga oleh film yang memperkaya kebudayaan,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun kini mulai membuka jalan menuju ekosistem yang lebih kondusif. Melalui Peraturan Gubernur Nomor 27 Tahun 2025, pemerintah memberikan pengurangan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) hingga 50% bagi pertunjukan film nasional di bioskop. Pemprov juga menyiapkan Jakarta Film Commission sebagai layanan satu pintu untuk perizinan syuting sekaligus mengembangkan skema cash rebate bagi produksi yang menggunakan tenaga kerja dan layanan lokal.

Investasi ekonomi kreatif di DKI Jakarta dalam 5 tahun terakhir (Bank Indonesia/ Diolah)  

Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI) Fauzan Zidni menyebut kehadiran Jakarta Film Commission sebagai langkah strategis untuk meningkatkan daya saing Jakarta sebagai lokasi produksi film nasional maupun internasional. Namun, kebijakan fiskal saja tidak cukup. Ekosistem perfilman hanya akan tumbuh jika pemerintah, pelaku industri, lembaga keuangan, komunitas, dan dunia pendidikan bergerak dalam arah yang sama.

Dalam konteks itulah peran Bank Indonesia menjadi penting. Bukan sebagai pemberi kredit, melainkan sebagai katalis yang mempertemukan pelaku industri kreatif dengan ekosistem pembiayaan, memperluas literasi ekonomi kreatif, sekaligus membuka ruang kolaborasi melalui festival yang mempertemukan sineas, komunitas, investor, dan publik.

Iwan mengatakan kajian Bank Indonesia menunjukkan setiap Rp 1 yang dibelanjakan dalam industri film mampu menciptakan aktivitas ekonomi sebesar Rp 1,38 di sektor lain. Dampaknya mengalir ke hotel, katering, penyewaan kendaraan, UMKM lokal, pekerja kreatif, hingga sektor digital. Karena itu industri film dipandang sebagai salah satu sektor ekonomi kreatif dengan efek berganda paling tinggi. 

Hal lain yang tak kalah penting, Iwan menilai industri film sangat cocok dengan karakter masyarakat Jakarta. Selain itu pertumbuhan ekonomi Jakarta juga tidak bertumpu pada sumber daya alam, tapi berbasis pada kreativitas inovasi.

“Karakter demografi Jakarta sebanyak 50% adalah anak-anak muda, talent-talent muda. DKI Jakarta juga sumber dari pertumbuhan digitalisasi yang paling cepat,” ujar Iwan. 

Peran industri kreatif bagi pertumbuhan ekonomo Jakarta salah satunya terlihat dari mesin ekonomi yang berputar selama pelaksanaan Jakarta Kreatif Festival. Selama dua hari pelaksanaan transaksi di JKF 026 mencapai Rp 55 miliar. Jumlah ini jauh dibanding capaian Rp 21 miliar pada 2025. Menurut Iwan, capaian tersebut menjadi indikator meningkatnya optimisme terhadap ekonomi kreatif Jakarta.

Dukungan terhadap penguatan industri film juga mulai mengerucut di tingkat kebijakan. Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin menilai pengembangan perfilman merupakan bagian penting dari transformasi Jakarta menuju kota global sekaligus mewujudkan visi sebagai Jakarta Kota Sinema.

Menurut Suhud, Jakarta memiliki modal besar karena menjadi daerah dengan jumlah penonton film Indonesia terbesar. Potensi tersebut perlu diimbangi dengan kebijakan yang mampu memperkuat seluruh rantai ekosistem perfilman, mulai dari produksi, distribusi, hingga pengembangan sumber daya manusia.

“Film menjelaskan kehidupan sosial dan menjadi contoh bagi masyarakat. Karena itu, penguatan industri perfilman tidak hanya mendorong ekonomi kreatif, tetapi juga memperkuat kebudayaan modern Jakarta,” ujar Suhud dalam pernyataan resmi. 

Pengunjung Jakarta Kreatif Festival antusias mengetahui lebih jauh perkembangan industri film, Sabtu (4/7) (Katadata/Ira Guslina) Memupuk Talenta, Menanam Masa Depan

Saat matahari mulai bergeser ke barat, semangat penonton di area Jakarta Youth Film Festival tak bergeser. Para penonton makin antusias menyaksikan karya kreasi sineas muda. 

Bagi Satria, festival itu meninggalkan inspirasi tentang bagaimana sebuah cerita dapat dihidupkan melalui kamera. Sementara bagi Dewi dan teman-temannya, acara tersebut memunculkan harapan agar perfilman Indonesia semakin berani menghadirkan cerita dan genre baru.

Harapan para pelajar dan mahasiswa itu menggambarkan bahwa Jakarta tidak kekurangan talenta. Yang dibutuhkan adalah ruang untuk tumbuh. Iwan mengatakan, melalui Jakarta Youth Film Festival, BI tidak sekadar menyelenggarakan kompetisi film. Festival itu menjadi titik temu antara talenta muda, komunitas, pelaku industri, pemerintah, hingga calon investor. 

Dalam perspektif BI, mempertemukan seluruh mata rantai tersebut sama pentingnya dengan menyediakan pembiayaan karena industri kreatif hanya tumbuh ketika ekosistemnya saling terhubung. Sementara itu pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan insentif fiskal. 

Di saat yang sama, komunitas film, sekolah, kampus, dan pelaku industri terus menumbuhkan budaya sinema dari akar rumput. Jika mata rantai itu terus diperkuat, Jakarta berpeluang menjadi kota yang melahirkan lebih banyak sineas, karya berkualitas, dan inovasi kreatif yang menggerakkan ekonomi.

Pandangan itu sejalan dengan gagasan Hikmat Darmawan tentang pentingnya membangun cinema culture. Menurutnya, kota sinema bukan hanya kota yang ramai menjadi lokasi syuting, tetapi kota yang masyarakatnya hidup bersama film. 

Menurut Hikmat Jakarta menjadi Kota Sinema tidak cukup diwujudkan melalui insentif fiskal atau kemudahan syuting. Harapan besar itu perlu didorong dengan kolaborasi multipihak. 

“Kalau ekosistem hanya diterjemahkan sebagai industri, kita akan terjebak dalam sirkulasi modal. Yang dibutuhkan adalah investasi kebudayaan jangka panjang,” ujar Hikmat. 

Di titik itulah Bank Indonesia mengambil peran. Ketika pemerintah membangun regulasi, DPRD memperkuat dukungan kebijakan, dan komunitas menumbuhkan budaya sinema, BI mengambil posisi sebagai katalis yang mempertemukan kreativitas dengan ekosistem ekonomi.

Peran itu memang sejalan dengan mandat Bank Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui penguatan sektor-sektor baru yang memiliki nilai tambah tinggi. Menurut Iwan, melalui festival, literasi ekonomi kreatif, serta penguatan jejaring pelaku usaha, BI berupaya memastikan bahwa talenta-talenta muda tidak berhenti pada ide, tetapi memiliki peluang tumbuh menjadi pelaku ekonomi kreatif baru.

 Adapun Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya menyatakan ekonomi kreatif memang merupakan mesin baru pertumbuhan ekonomi. Pramono pun menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia, OJK, pelaku ekonomi kreatif, dunia usaha, serta seluruh pihak yang terus membangun kolaborasi untuk memperkuat perekonomian Jakarta dan daya saing kota.

Menurut Pramono, meningkatnya kepercayaan berbagai pihak terhadap Jakarta menjadi indikator positif yang menunjukkan daya saing kota semakin kuat.

“Salah satu ukuran keberhasilan sebuah kota adalah ketika panggung-panggung dunia hadir di Jakarta dan para penyelenggara maupun pengunjung merasa aman dan nyaman,” ujar Pramono.

Dan akhirnya, layar yang menyala di Istora hari itu, bukan sekadar memutar film-film pendek karya pelajar. Dari ruangan sederhana beralas bean bag itulah, Jakarta sedang menanam sesuatu yang nilainya jauh melampaui sebuah festival film. Kota ini sedang menyiapkan penontonnya, melahirkan sineas mudanya, mempertemukan mereka dengan ekosistem industri, lalu membuka jalan agar kreativitas dapat tumbuh menjadi kegiatan ekonomi. 

Ketika kreativitas berhasil dipertemukan dengan ekosistem, seperti yang mulai dibangun Bank Indonesia bersama berbagai pemangku kepentingan, film tidak lagi sekadar menjadi hiburan. Ia menjelma menjadi salah satu mesin ekonomi baru Jakarta menuju cita-citanya sebagai Kota Sinema dan pusat ekonomi kreatif terdepan di Asia. 

Advertisements

Also Read

Tags