BANYU POS JAKARTA. Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor panjang diperkirakan masih menghadapi tekanan seiring meningkatnya ketidakpastian global dan terbatasnya ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Melansir data terbaru pada Minggu (26/7/2026), yield SUN tenor acuan 10 tahun berada di kisaran 7,37% meningkat 1,89% sepekan dan 13% secara tahunan (YoY).
Mengutip data Bloomberg, yield SUN tenor acuan 10 tahun berada di level 7,354% pada Jumat (24/7/2026), meningkat dari posisi di pekan sebelumnya di 7,256%.
Sekedar mengingatkan, level tertinggi yield SUN tenor acuan 10 tahun berada di 7,445%, yang terjadi pada 11 Juni 2026 silam.
Yield SUN Tenor 10 Tahun Naik Jadi 7,37%, Investor Dibayangi Risiko Global
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, pergerakan pasar dalam beberapa waktu terakhir lebih mencerminkan respons investor terhadap perbedaan antara keputusan yang diambil dan ekspektasi sebelumnya.
Pasar sebelumnya memperkirakan adanya kenaikan suku bunga dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). Namun, BI memilih mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Kondisi tersebut membuat investor menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter.
“Respons tersebut lebih terlihat pada kenaikan yield SUN tenor panjang karena investor meminta kompensasi risiko yang lebih besar, terutama terkait inflasi, nilai tukar, dan kondisi global,” ungkap Yusuf saat dihubungi Kontan, Jumat (24/7/2026).
Tekanan terhadap pasar obligasi juga muncul seiring inflasi yang mulai berada pada level yang perlu diperhatikan. Kenaikan inflasi membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi lebih terbatas karena imbal hasil riil mulai tertekan.
Di saat yang sama, kebutuhan pembayaran utang pemerintah dan dinamika likuiditas pasar turut memberikan tekanan tambahan terhadap pergerakan yield, terutama ketika sentimen global sedang melemah.
Jika dibandingkan dengan pergerakan US Treasury, Yusuf menilai kenaikan yield SUN saat ini masih relatif sejalan dengan perubahan kondisi global. Saat ini yield US Treasury tenor 10 tahun di level 4,68%. Sehingga, spread antara keduanya juga belum menunjukkan pelebaran yang signifikan.
Indeks Kompas100 Ungguli IHSG Sebulan Terakhir, Cek Rekomendasi Sahamnya
Sehingga, kata Yusuf, tekanan yang terjadi pada pasar obligasi saat ini lebih banyak berasal dari kenaikan imbal hasil global, bukan karena perubahan besar terhadap persepsi risiko Indonesia.
Meski demikian, premi risiko domestik tetap perlu diperhatikan. Investor masih mencermati kondisi fiskal, kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta keberlanjutan pengelolaan anggaran.
Selain itu, perkembangan harga energi juga menjadi perhatian. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan melalui nilai tukar, transaksi berjalan, hingga beban subsidi energi.
“Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa pasar tetap memberikan perhatian terhadap arah kebijakan pemerintah dan respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan,” imbuhnya.
Ke depan, Yusuf melihat yield SUN tenor 10 tahun masih berpotensi bergerak dalam rentang yang cukup tinggi selama ketidakpastian global belum mereda.
Pergerakan yield akan sangat bergantung pada arah kebijakan The Fed, perkembangan harga energi, stabilitas rupiah, serta kemampuan pemerintah menjaga kredibilitas fiskal.
Jika tekanan global berkurang dan kondisi domestik tetap terkendali, yield SBN memiliki ruang untuk kembali turun. Sebaliknya, tekanan akan meningkat apabila inflasi global kembali naik atau kebijakan moneter negara maju menjadi lebih ketat.
Bagi investor, kondisi saat ini justru memberikan peluang untuk mengunci imbal hasil yang menarik. Namun, pendekatan investasi perlu dilakukan secara lebih berhati-hati.
Strategi masuk secara bertahap dinilai lebih sesuai dibandingkan mengambil posisi besar sekaligus, mengingat volatilitas pasar masih tinggi. Tenor menengah dapat menjadi pilihan bagi investor yang mencari keseimbangan antara imbal hasil dan risiko harga.
DSI dan DMO Membayangi Kinerja Emiten Batubara, Cek Rekomendasi Sahamnya
Sementara itu, tenor panjang lebih tepat bagi investor yang memiliki kemampuan menahan fluktuasi dalam jangka waktu lebih lama.
“Dalam kondisi seperti ini, fokus utama investor bukan hanya mencari potensi kenaikan harga obligasi, tetapi juga mempertimbangkan kualitas imbal hasil dan manajemen risiko,” kata Yusuf.
Ia menambahkan, pergerakan rupiah, harga minyak, premi risiko, hasil lelang obligasi, serta arah kebijakan bank sentral global menjadi sejumlah indikator utama yang perlu terus dipantau investor.




