Yield curve obligasi mulai normal, tapi investor masih waspadai risiko jangka panjang

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Kurva imbal hasil (yield curve) obligasi pemerintah mulai menunjukkan tanda-tanda kembali normal setelah sempat mengalami inversi pada awal Juli 2026.

Advertisements

Meski demikian, pelaku pasar dinilai masih mencermati berbagai risiko yang membayangi prospek ekonomi sehingga proses normalisasi belum sepenuhnya tuntas.

Penjualan Indofood CBP (ICBP) Tumbuh 11% pada Semester I-2026

Advertisements

Berdasarkan data Bloomberg, kurva imbal hasil obligasi pemerintah sempat mengalami inversi pada 9 Juli 2026.

Saat itu, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 1 tahun mencapai 7,39%, lebih tinggi dibandingkan yield tenor 10 tahun yang berada di level 7,28%.

Kondisi tersebut tergolong tidak lazim karena secara normal obligasi berjangka lebih panjang menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko tenor yang lebih besar.

Namun, hingga penutupan perdagangan 31 Juli 2026, kurva imbal hasil mulai kembali menanjak (steepening).

Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun tercatat sebesar 7,34%, sedangkan yield tenor 1 tahun turun menjadi 7,03%.

Terkoreksi 0,32% Dalam Sepekan, Rupiah Menyentuh Rp 18.022 per Dolar AS

Portfolio Manager Batavia Prosperindo Aset Manajemen Putri Nur Astiwi mengatakan, proses steepening saat ini terutama dipicu oleh penurunan yield pada tenor pendek yang lebih besar dibandingkan tenor panjang.

“Pada periode Juni, yield curve sempat mengalami inversi karena BI menaikkan imbal hasil SRBI secara agresif untuk menjaga stabilitas rupiah, sehingga yield tenor pendek sempat menyamai bahkan melampaui tenor panjang,” ujar Putri kepada Kontan.co.id, Jumat (31/7/2026).

Menurutnya, kondisi pasar mulai membaik setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan dan menjaga imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) relatif stabil.

Meski demikian, Putri mengingatkan bahwa selisih (spread) imbal hasil antara tenor 1 tahun dan 10 tahun masih relatif sempit dibandingkan rata-rata historis.

Apabila dibandingkan dengan posisi akhir 2025, bentuk kurva imbal hasil juga masih cenderung datar (flat), yang menunjukkan proses normalisasi masih berlangsung.

Ia menilai, spread yang masih sempit mencerminkan investor tetap meminta premi risiko untuk berinvestasi pada obligasi berjangka panjang.

Insentif Bea Masuk LPG Dinilai Jadi Penopang, Chandra Asri (TPIA) Paling Diuntungkan

Menurut Putri, kehati-hatian tersebut dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari ketidakpastian fiskal, potensi kenaikan inflasi akibat tingginya harga minyak menyusul konflik di Timur Tengah, dampak fenomena El Niño, hingga ketidakpastian ekonomi global.

Ke depan, ia menilai arah normalisasi kurva imbal hasil akan sangat bergantung pada efektivitas kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan serta perkembangan berbagai risiko eksternal yang memengaruhi sentimen investor.

Advertisements

Also Read

Tags