Daya beli lesu, Coca-Cola fokus jaga harga tetap terjangkau

Hikma Lia

PT Coca-Cola Indonesia menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga keinginan bisnis di tengah tekanan daya beli masyarakat dan kenaikan harga. Perusahaan menilai perubahan gaya hidup dan pola konsumsi menjadi faktor penting untuk mempertahankan relevansi produk di pasar Indonesia.

Advertisements

Presiden Direktur Coca-Cola Indonesia Eva Lusiana mengatakan perusahaan ikut merasakan adanya tekanan terhadap kondisi ekonomi saat ini, termasuk kenaikan harga yang dapat mempengaruhi kemampuan belanja konsumen.

“Memang kita juga merasakan bahwa ekonomi sekarang juga ada rasanya kontraksi. Ada beberapa tekanan yang datang dari kenaikan harga, ada beberapa tekanan juga yang datang dari kondisi ekonomi sekarang,” ujar Eva usai acara media brief Coca-Cola di Jakarta Selatan, Jumat (31/7).

Advertisements

Menurutnya, tantangan bagi perusahaan bukan hanya mempertahankan penjualan, tetapi memastikan produk Coca-Cola tetap relevan dengan kebutuhan dan kemampuan konsumen.

Baca juga:

  • Kinerja Industri Ritel Semester II 2026 Terhambat Daya Beli dan Pelemahan Rupiah
  • PMI Juni Anjlok ke 46,9, Pengusaha Dorong Pemerintah Jaga Daya Beli
  • Paylater Jadi Alternatif saat Daya Beli Lesu, OJK Soroti Perlindungan Konsumen

Pasalnya, konsumen Indonesia memiliki berbagai pilihan produk sekaligus beragam kesempatan atau kesempatan untuk mengonsumsi minuman.

“Yang harus kami lakukan sebagai bisnis adalah kita harus berhati-hati bagaimana konsumen ini masih tetap relevan dengan produk kita dan produk kita juga masih ada dalam daya belinya mereka. Itu yang harus kita dengarkan,” kata Eva.

Jaga Produk Tetap Terjangkau

Eva menekankan pentingnya menjaga kedekatan perusahaan dengan konsumen ketika kondisi ekonomi sedang menghadapi tekanan.

Meskipun demikian, perusahaan perlu memastikan konsumen tidak merasa semakin jauh dari produk, baik dari sisi harga maupun pengalaman yang ditawarkan melalui berbagai aktivitas pemasaran.

“Jangan sampai konsumen kita merasa kita jauh dan tidak mendengarkan. Justru ini momen yang sangat tepat sekali,” ujarnya.

Coca-Cola juga terus memadukan perubahan gaya hidup konsumen untuk menentukan bentuk aktivasi dan pengalaman yang relevan. Strategi tersebut dinilai penting untuk menjaga hubungan dengan konsumen sekaligus mempertahankan posisi produk di tengah semakin banyaknya pilihan yang tersedia di pasar.

Strategi mempertahankan relevansi konsumen tersebut juga menjadi bagian dari persiapan Coca-Cola menuju 100 tahun kehadirannya di Indonesia.

Eva mengatakan Coca-Cola telah berada di Indonesia selama 99 tahun dan salah satu alasan perusahaan mampu bertahan hingga saat ini adalah kemampuannya menjaga relevansi dengan konsumen.

Advertisements

Also Read

Tags