BANYU POS JAKARTA. Salah satu emiten teknologi dan e-commerce di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali mencatatkan kinerja bagus pada semester I 2026. Sementara itu, harga saham GOTO masih terjebak di level dasar, Rp 50. Dengan kinerja yang bagus, apakah saham gocapan ini sudah layak dikoleksi?
GOTO membukukan pertumbuhan pendapatan pada semester I-2026. GOTO juga berhasil membalikkan kinerja menjadi laba.
GOTO membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 10,99 triliun pada semester I-2026 atau tumbuh 28,45% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 8,56 triliun.
Perseroan juga berhasil mencetak laba periode berjalan sebesar Rp 423,25 miliar, berbalik dari rugi Rp 741,96 miliar pada semester I-2025.
Kinerja operasional GOTO turut membaik dengan laba usaha mencapai Rp 781,88 miliar, dibandingkan rugi usaha Rp 171,60 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Laba Emiten LQ45 Lampaui Ekspektasi, Cek Saham Blue Chip Pilihan Semester II 2026
Rekomendasi Saham GOTO
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai GOTO berada pada posisi paling matang dibandingkan dua emiten teknologi lainnya.
Menurut dia, keberhasilan GOTO mencetak laba menunjukkan strategi efisiensi, monetisasi ekosistem, dan pengendalian biaya mulai memberikan hasil.
“Keberhasilan mencetak laba menunjukkan strategi efisiensi, monetisasi ekosistem, dan disiplin biaya mulai membuahkan hasil,” ujar Nafan kepada Kontan, Senin (3/8).
Ia menilai profitabilitas GOTO masih berpeluang berlanjut selama perseroan mampu mempertahankan pertumbuhan gross transaction value (GTV), meningkatkan take rate, dan menjaga efisiensi biaya operasional.
Head of Research KISI Muhammad Wafi menilai prospek ketiga emiten teknologi tersebut juga berbeda.
Menurut dia, GOTO menjadi pilihan menarik karena telah mencetak laba dan memiliki posisi kas yang kuat. Per akhir Juni 2026, GOTO memiliki kas dan setara kas sebesar Rp 23,46 triliun.
“GOTO menarik melalui risk-reward asymmetry. Net cash Rp 23,46 triliun menjadi significant floor valuation dibandingkan kapitalisasi pasar yang sudah tertekan di level gocap,” ujar Wafi.
Tonton: The Fed Tahan Suku Bunga, Dominasi Dolar AS Mulai Pudar




