Wall Street cetak rekor baru, saham AI melonjak dan harapan damai dongkrak pasar

Hikma Lia

BANYU POS NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali mencetak rekor pada perdagangan Selasa (4/8/2026).

Advertisements

Penguatan Wall Street didorong oleh kinerja emiten yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI) yang melampaui ekspektasi, ditambah harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah yang menekan harga minyak.

Indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average sama-sama menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa.

Advertisements

Hingga pukul 09.35 waktu New York, Dow Jones melonjak 647,09 poin atau 1,22% ke level 53.825,50. Sementara itu, S&P 500 naik 0,58% ke 7.644,56, mencatat rekor intraday pertama sejak Juni. Indeks Nasdaq Composite juga menguat 1,16% ke level 26.213,57.

Bursa Asia Naik Tipis Selasa (4/8) Pagi Ikuti Reli Wall Street, Harga Minyak Stabil

Kinerja impresif perusahaan-perusahaan yang diuntungkan oleh geliat investasi AI menjadi motor utama reli Wall Street. Palantir Technologies melesat 17,4% setelah kembali menaikkan proyeksi pendapatan tahunannya.

Sementara itu, produsen chip On Semiconductor naik sekitar 1% berkat proyeksi pendapatan kuartalan yang melampaui ekspektasi analis.

Sentimen positif juga datang dari Caterpillar yang sahamnya melonjak 12% setelah menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan tahunan.

Produsen alat berat tersebut memperoleh manfaat dari meningkatnya pembangunan pusat data AI yang mendongkrak permintaan terhadap peralatan konstruksi dan pembangkit listrik.

“Kinerja emiten AI sangat kuat, tetapi investor kini menilai apakah pertumbuhan itu bisa berkelanjutan,” ujar Chief Market Strategist Great Valley Advisor Group, Eric Parnell.

Wall Street Ditutup Menguat, Amazon Redakan Kekhawatiran Investor Terkait AI

Menurutnya, jika tren tersebut terus berlanjut, pasar akan semakin selektif dalam membedakan perusahaan AI yang benar-benar mampu menghasilkan keuntungan dari yang tidak.

Optimisme pasar juga diperkuat oleh perkembangan geopolitik. Harga minyak mentah turun lebih dari 2% setelah pejabat Qatar menyatakan upaya penyelesaian diplomatik konflik di Timur Tengah terus berlangsung.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan mengatakan kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz berpeluang tercapai dalam waktu dekat.

Penurunan harga minyak membuat sektor energi menjadi pemberat utama di S&P 500 dengan koreksi sekitar 2,5%. Meski demikian, penguatan saham-saham teknologi mampu mengimbangi pelemahan sektor lain sehingga indeks utama tetap bergerak di zona hijau.

Indeks saham semikonduktor Philadelphia Semiconductor bahkan melonjak sekitar 4%, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek industri chip.

Di sisi lain, saham raksasa teknologi seperti Alphabet dan Microsoft bergerak lebih beragam dengan pelemahan tipis pada awal perdagangan.

Wall Street Dibuka Naik Jumat (31/7), Lonjakan Saham Amazon Redam Tekanan dari Apple

Musim laporan keuangan kuartal II juga terus memberikan kejutan positif. Hingga akhir pekan lalu, sebanyak 85,2% dari 304 perusahaan anggota S&P 500 yang telah merilis laporan keuangan berhasil membukukan laba di atas ekspektasi analis. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis sebesar 67,5%.

Di luar sektor AI, saham SpaceX naik 4,4% menjelang publikasi laporan keuangan pertamanya sejak melantai di bursa.

Sementara itu, saham perusahaan fotonik Coherent dan Lumentum masing-masing melonjak 14% dan 7,8% setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump tengah menyiapkan larangan impor komponen baru pusat data asal China.

Adapun saham McDonald’s menguat 1,2% meski membukukan kinerja yang mengecewakan, sedangkan Pfizer turun 1% setelah merilis laporan keuangan kuartalan.

Wall Street Dibuka Melemah Jelang Keputusan The Fed, Saham Chip Bergejolak

Pelaku pasar selanjutnya menantikan rilis data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) dari Departemen Tenaga Kerja AS.

Data tersebut diperkirakan menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan turun menjadi sekitar 7,4 juta pada Juni dari 7,6 juta pada bulan sebelumnya, yang akan menjadi petunjuk baru mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Advertisements

Also Read

Tags