BANYU POS JAKARTA. Rebalancing atau kocok ulang indeks utama Bursa Efek Indonesia (BEI) yang efektif berlaku sejak awal perdagangan Agustus 2026 diproyeksikan menjadi sentimen positif bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek.
Meski demikian, analis menilai dampak rebalancing terhadap arah IHSG secara keseluruhan tetap terbatas karena pergerakan indeks masih ditentukan oleh faktor fundamental dan kondisi makroekonomi.
Pada rebalancing kali ini, terjadi perubahan komposisi pada indeks IDX80, LQ45, dan IDX30.
Untuk IDX80, tiga saham baru yang masuk adalah BFIN, LSIP, dan NCKL, menggantikan INTP, PANI, dan SIDO. Pada indeks LQ45, terdapat dua saham baru, yakni INDY dan NCKL, yang menggantikan SMGR dan TOWR. Sementara itu, pada indeks IDX30, DEWA masuk menggantikan PTBA.
Data per 4 Agustus 2026 menunjukkan indeks-indeks utama masih mencatatkan kinerja negatif sejak awal tahun. Indeks LQ45 turun 24,97% secara year to date (YTD), IDX30 melemah 18,22% YTD, sedangkan IDX80 terkoreksi lebih dalam hingga 28,23% YTD.
Di sisi lain, IHSG ditutup menguat 1,37% ke level 6.319 pada perdagangan Selasa (4/8/2026). Dalam sebulan terakhir, IHSG telah naik 5,56%, meskipun secara YTD masih terkoreksi 26,92%.
OJK Update Kinerja Pasar Saham di Juli 2026, Net Buy Rp 1,62 Triliun di Bursa
Rebalancing Dorong Likuiditas dan Perhatian Investor
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai saham-saham yang baru masuk ke indeks utama berpotensi memperoleh perhatian lebih besar dari investor serta mengalami peningkatan volume perdagangan.
“Setelah fase penyesuaian selesai, volume dan harga saham kembali lebih ditentukan oleh fundamental dan sentimen sektoral masing-masing emiten,” tuturnya kepada Kontan, Selasa (4/8/2026).
Menurut Rully, rebalancing indeks lebih berpengaruh terhadap struktur likuiditas dan perubahan bobot sektoral dibandingkan langsung mengubah tren IHSG. Hal itu karena arah IHSG masih sangat dipengaruhi oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI.
Senada, Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mengatakan bahwa masuknya saham ke IDX80, LQ45, maupun IDX30 umumnya mampu meningkatkan nilai transaksi dan likuiditas dalam jangka pendek. Hal ini terjadi karena investor institusi dan reksa dana berbasis indeks perlu melakukan penyesuaian portofolio.
Menurut Harry, NCKL berpotensi memperoleh dampak paling besar karena masuk ke dua indeks sekaligus, yakni IDX80 dan LQ45. Sementara itu, INDY, BFIN, LSIP, dan DEWA juga berpeluang menikmati peningkatan aktivitas transaksi.
“Dana asing dapat ikut masuk, meskipun besarannya tetap bergantung pada fundamental, valuasi, dan kondisi pasar,” ujarnya kepada Kontan, Selasa.
Faktor Makro Tetap Jadi Penentu Arah IHSG
Meski memberikan sentimen positif, Harry menilai dampak rebalancing terhadap IHSG relatif terbatas karena saham-saham tersebut sebelumnya sudah menjadi bagian dari indeks gabungan.
Namun, meningkatnya aktivitas transaksi dan sentimen positif terhadap saham-saham berkapitalisasi besar dinilai dapat membantu menjaga momentum penguatan IHSG.
“Pergerakan IHSG hingga akhir 2026 masih akan dipengaruhi oleh arah suku bunga, rupiah, harga komoditas, pertumbuhan laba emiten, dan aliran dana asing,” katanya.
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, juga mengingatkan bahwa masuknya suatu saham ke indeks utama tidak otomatis membuat harga saham terus naik ataupun langsung menarik arus dana asing.
Investor Asing Soroti Konsistensi Reformasi Pasar Modal Indonesia
Menurutnya, aliran dana asing masih sangat bergantung pada kondisi pasar secara keseluruhan. Saat ini, investor asing juga masih cenderung mencatatkan aksi jual bersih (net sell) di pasar saham Indonesia.
“Sementara itu, arah harga saham tetap akan kembali kepada fundamental, valuasi, sentimen sektoral, dan kondisi makroekonomi,” ujarnya kepada Kontan, Selasa.
Ekky menilai rebalancing berpotensi meningkatkan aktivitas perdagangan pada saham-saham konstituen baru. Likuiditas yang lebih tinggi dapat memperbaiki market breadth dan membantu menjaga momentum pasar, terutama apabila saham-saham yang baru masuk mampu mencatatkan penguatan.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa rebalancing bukan satu-satunya faktor penentu arah IHSG. Stabilitas nilai tukar rupiah, arah suku bunga, pergerakan yield Surat Berharga Negara (SBN), transaksi investor asing, hingga pertumbuhan laba emiten tetap menjadi faktor utama.
Ekky memperkirakan IHSG masih berpeluang bergerak pada kisaran 6.900 hingga 7.100 hingga akhir 2026. Target tersebut dinilai realistis apabila rupiah mulai stabil, tekanan jual investor asing mereda, serta kinerja emiten pada semester II menunjukkan perbaikan.
“Sebaliknya, apabila asing masih terus keluar dan ketidakpastian domestik berlanjut, kenaikan IHSG berpotensi lebih terbatas,” ungkapnya.
Saham Pilihan Pascarebalancing
Dari sisi fundamental, Rully menilai prospek saham-saham yang baru masuk indeks cukup beragam.
BFIN dinilai memiliki model bisnis pembiayaan konsumer dengan net interest margin (NIM) tinggi dan return on equity (ROE) yang kuat. Sementara itu, LSIP mendapat dukungan dari prospek harga crude palm oil (CPO) serta efisiensi operasional.
“Masuk indeks bukan otomatis sinyal beli. Investor bisa tetap fokus pada fundamental, valuasi, momentum, dan risiko,” katanya.
Harry menambahkan, prospek NCKL masih didukung oleh bisnis nikel terintegrasi dan peningkatan kapasitas produksi. INDY memiliki potensi pertumbuhan dari diversifikasi bisnis nonbatu bara, sedangkan LSIP diperkirakan memperoleh manfaat dari harga CPO yang tetap kuat.
Di sisi lain, BFIN masih ditopang kualitas pembiayaan yang relatif baik, sementara DEWA memiliki peluang pertumbuhan dari peningkatan volume pekerjaan dan kontrak baru.
Di antara penghuni baru indeks, Harry menilai NCKL, DEWA, dan LSIP masih menarik untuk dicermati.
Rupiah Anjlok Hampir 8% Sejak Awal Tahun 2026, Cermati Prospeknya
Ia merekomendasikan target harga masing-masing sebesar Rp1.300 per saham untuk NCKL, Rp700 per saham untuk DEWA, dan Rp1.900 per saham untuk LSIP.
“Potensi kenaikan tetap terbuka apabila pertumbuhan operasional, harga komoditas, dan sentimen pasar bergerak sesuai harapan, meskipun investor tetap perlu memperhatikan valuasi setelah kenaikan akibat rebalancing,” katanya.
Sementara itu, Ekky merekomendasikan buy untuk NCKL dengan target awal di kisaran Rp1.050–Rp1.100 per saham, serta target lanjutan Rp1.200–Rp1.300 per saham.
Untuk LSIP, rekomendasinya adalah accumulate dengan target harga Rp1.800–Rp2.000 per saham, didukung katalis berupa pemulihan produksi, harga CPO, dan permintaan biodiesel domestik.
Adapun untuk INDY, Ekky memberikan rekomendasi buy on weakness dengan target harga sekitar Rp3.500 per saham, sembari mengingatkan investor untuk tetap memperhatikan perkembangan diversifikasi bisnis serta kebutuhan belanja modal perusahaan.
Sementara itu, DEWA direkomendasikan speculative buy dengan target harga sekitar Rp600 per saham.
“Saham ini memiliki potensi momentum yang kuat, tetapi risikonya juga lebih tinggi sehingga pembelian sebaiknya dilakukan secara bertahap,” tuturnya.




