BANYU POS – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan ini dipicu oleh memburuknya neraca perdagangan, tingginya harga minyak dunia, serta menguatnya daya tarik aset-aset berdenominasi dolar AS.
Mengutip data Bloomberg, Selasa (4/8/2026) pukul 14.59 WIB, rupiah pasar spot ditutup melemah 0,49% atau 89,50 poin ke level Rp 18.021,50 per dolar AS.
Suspensi Saham WIKA Diperpanjang, Imbas Gagal Bayar dan Restrukturisasi Surat Utang
Tekanan terhadap mata uang Garuda berasal dari kombinasi faktor eksternal yang masih dominan serta sejumlah tantangan domestik, terutama pada sektor perdagangan dan arus modal.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, salah satu penyebab utama rupiah kembali menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS adalah memburuknya neraca perdagangan Indonesia.
Menurutnya, Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan selama dua bulan berturut-turut. Pada Juni 2026, defisit tercatat sebesar US$ 450 juta, setelah pada Mei mencapai US$ 1,61 miliar.
IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Cermati Rilis PDB dan Rekomendasi Saham Hari Ini
Kondisi ini dipicu oleh pertumbuhan impor yang melonjak 34,27% secara tahunan (year on year/YoY), jauh melampaui pertumbuhan ekspor yang hanya 8,84%.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah Brent ke kisaran US$ 85–US$ 89 per barel akibat gangguan pelayaran di Selat Hormuz turut memperbesar kebutuhan devisa untuk impor energi.
“Kondisi tersebut meningkatkan permintaan valuta asing untuk kebutuhan impor sehingga memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” ujar Josua kepada Kontan.
Sejalan dengan itu, Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan yang menggerakkan rupiah.
“Kembalinya rupiah ke level Rp 18.000 setelah sempat menguat ke Rp 17.900 menunjukkan tekanan eksternal masih lebih dominan dibandingkan faktor domestik,” kata Rizal.
Ia menjelaskan, kombinasi penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury), serta kenaikan harga minyak dunia terus mendorong peningkatan permintaan valuta asing untuk impor.
Di sisi lain, kebijakan moneter Amerika Serikat juga masih menjadi perhatian pasar. The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%, sementara kenaikan imbal hasil US Treasury membuat aset dolar AS tetap menarik bagi investor global.
Dow dan S&P 500 Ditutup di Rekor Tertinggi, Ditopang Harapan Damai Timur Tengah
Arus modal masih rapuh
Josua menilai dukungan terhadap rupiah juga terbatas karena kualitas arus modal asing yang masuk ke Indonesia masih didominasi investasi jangka pendek.
Sepanjang Januari hingga Juli 2026, pasar saham Indonesia mencatat arus keluar (capital outflow) sekitar US$ 4,55 miliar. Sebaliknya, arus masuk investor asing justru terkonsentrasi pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai US$ 9,72 miliar.
“Namun, ketergantungan pada instrumen BI yang berjangka pendek dan berimbal hasil tinggi membuat dukungan terhadap rupiah mudah berbalik ketika selera risiko global berubah,” jelas Josua.
Sementara itu, Rizal menilai isu tata kelola dan kepatuhan di pasar modal juga turut memengaruhi persepsi investor asing, meski Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menggulirkan berbagai agenda reformasi.
“Reformasi kebijakan bursa memang memengaruhi persepsi investor, tetapi bukan satu-satunya penyebab,” ujarnya.
Cermati Rekomendasi Teknikal AKRA, TAPG, UNTR untuk Perdagangan Rabu (5/8)
Rupiah masih berpotensi volatil
Dalam jangka pendek, kedua ekonom memperkirakan pergerakan rupiah masih akan dibayangi volatilitas tinggi seiring ketidakpastian global yang belum mereda.
Josua memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.900–Rp 18.250 per dolar AS dalam waktu dekat.
“Rupiah dapat beberapa kali bergerak di bawah Rp 18.000 ketika BI melakukan intervensi atau harga minyak turun. Namun, penguatan tersebut sulit bertahan selama neraca perdagangan masih defisit dan pasar masih memperkirakan suku bunga AS tetap tinggi,” katanya.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Josua menyarankan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% serta mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar spot maupun domestik non-deliverable forward (DNDF).
Meski demikian, ia mengingatkan agar penggunaan cadangan devisa sebesar US$ 145,6 miliar tetap dilakukan secara terukur.
Arsy Buana Travelindo (HAJJ) Optimalkan Portofolio Hotel, Margin Kian Tebal
Adapun Rizal memperkirakan rupiah masih akan bergerak di kisaran Rp 17.900–Rp 18.300 per dolar AS dalam beberapa pekan mendatang.
“Hingga ketidakpastian global mereda, rupiah masih berpotensi bergerak volatil,” katanya.
Untuk proyeksi hingga akhir 2026, Josua memperkirakan rupiah berada di rentang Rp 17.900–Rp 18.200 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp 18.050.
Sementara itu, Rizal memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp 17.800–Rp 18.200 per dolar AS, dengan level keseimbangan di sekitar Rp 18.000 per dolar AS.




