Global Expansion Director TUKU, Adisti Ikayanti, mengatakan ekspansi bisnis bukan hanya soal menambah jumlah gerai, tetapi juga membangun organisasi yang mampu mengambil keputusan secara lebih baik.
Menurut Adisti, seiring bertambahnya jumlah gerai, kompleksitas pengambilan keputusan di setiap toko juga meningkat. Karena itu, TUKU kini tidak lagi berfokus pada scaling jumlah toko, tetapi juga scaling pengambilan keputusan.
“Kami tidak lagi sekadar menumbuhkan jumlah toko. Kami menumbuhkan skala pengambilan keputusan,” ujar Adisti pada sesi From Cipete to Amsterdam: Creating Structure from Hype to Legacy pada Asia Pacific Marketing Forum (APMF) 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali, Rabu (5/8/26).
Ia mengatakan, pertumbuhan bisnis tidak menciptakan persoalan baru, tetapi memperjelas tantangan yang sudah ada, mulai dari komunikasi internal, budaya kerja, hingga kualitas pengambilan keputusan.
Dalam proses ekspansi ke Surabaya, Bandung, dan Bali, TUKU juga mempelajari bahwa setiap kota memiliki karakter pasar yang berbeda. Karena itu, strategi yang berhasil di satu wilayah tidak selalu dapat diterapkan di wilayah lain.
Pendekatan tersebut kemudian menjadi bekal saat TUKU berekspansi ke luar negeri. Sebelum membuka gerai di Amsterdam, perusahaan lebih dulu melakukan uji coba di Korea Selatan.
Meski produk, menu, dan desain toko terus berkembang mengikuti kebutuhan pasar, Adisti menegaskan identitas TUKU sebagai “tetangga” bagi pelanggan maupun tim tidak boleh berubah. Nilai tersebut menjadi dasar dalam merekrut, melatih tim, hingga menyelesaikan berbagai persoalan di dalam organisasi.
“Produk bisa berevolusi, menu bisa berubah, resep bisa disempurnakan, tapi perilaku akan tetap bertahan,” katanya.
Menurut Adisti, kehadiran TUKU di Amsterdam bukan hanya untuk membawa kopi Indonesia ke pasar global, tetapi juga memperkenalkan cara membangun relasi yang menjadi bagian dari budaya Indonesia.
“Kami rasa dunia tidak butuh satu kedai kopi lagi. Tapi kami percaya dunia akan selalu butuh satu tetangga baik lagi,” ujar Adisti.




