Kinerja Siloam (SILO) semester I-2026 tumbuh solid, ditopang efisiensi operasional

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) mencatatkan kinerja yang solid pada Semester I-2026. Emiten rumah sakit ini membukukan pendapatan sebesar Rp 6,76 triliun, naik 10,81% dari Rp 6,10 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Advertisements

Sejalan dengan itu, laba bersih SILO juga naik 27,92% menjadi Rp 609,45 miliar di semester I-2026, dari Rp 476,42 miliar di periode Januari-Juni 2025. Sementara laba usaha tercatat naik menjadi Rp 869,58 miliar per Juni 2026.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, pertumbuhan kinerja SILO pada paruh pertama tahun ini tergolong berkualitas.

Advertisements

“Kualitas pertumbuhan murni dan solid, bukan sekadar kosmetik. Pertumbuhan pendapatan 10,8% YoY diikuti laba yang naik 27,9% YoY menunjukkan adanya operating leverage yang positif, di mana laba tumbuh lebih cepat dibandingkan pendapatan,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (6/8/2026).

Menurut dia, peningkatan laba usaha menjadi Rp 869,58 miliar juga mengonfirmasi bahwa perbaikan kinerja berasal dari efisiensi operasional inti, bukan dari keuntungan non-berulang.

Pemegang Saham Sentul City (BKSL) Jual 1,32 Miliar Saham Saat Harga Reli, Ada Apa?

Dari sisi pendorong, Wafi melihat setidaknya ada tiga faktor utama yang menopang kinerja SILO. Pertama, pertumbuhan permintaan layanan kesehatan yang bersifat struktural, didorong oleh penetrasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan tren penuaan populasi.

Kedua, positioning SILO di segmen premium dan layanan spesialis yang relatif tidak terlalu tertekan oleh daya beli masyarakat. Ketiga, adanya operating leverage dari skala jaringan rumah sakit yang telah mapan, sehingga biaya per unit dapat ditekan seiring peningkatan utilisasi.

Ke depan, Wafi memproyeksikan kinerja SILO hingga akhir 2026 tetap positif, meski semester II-2026 umumnya lebih moderat secara musiman.

“Tren efisiensi bisnis yang mendongkrak laba pada Semester I diperkirakan terus berlanjut. Risiko utama berasal dari pelemahan rupiah yang dapat meningkatkan biaya alat medis dan obat impor, namun positioning premium SILO memberikan ruang pricing power yang lebih baik,” jelasnya.

Untuk Semester II-2026, terdapat sejumlah katalis yang berpotensi menopang kinerja SILO. Di antaranya adalah ekspansi kapasitas, peningkatan porsi pasien asuransi swasta dan mandiri yang memiliki margin lebih tinggi dibandingkan pasien BPJS, serta sentimen positif sektor kesehatan sebagai sektor defensif.

Selain itu, aktivitas merger dan akuisisi (M&A) di sektor kesehatan dinilai turut memperkuat prospek jangka panjang industri.

  SILO Chart by TradingView  

“Aksi korporasi di sektor ini memvalidasi thesis pertumbuhan jangka panjang yang kuat,” tambahnya.

Dengan kombinasi kualitas laba yang kuat dan positioning di sektor kesehatan premium yang defensif, Wafi menilai saham SILO masih menarik bagi investor dengan horison investasi 12 hingga 18 bulan.

Advertisements

Also Read

Tags