Kinerja keuangan CMRY semester I-2026: Pendapatan dan laba tumbuh dua digit

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) meraih kenaikan kinerja baik dari segi laba bersih dan pendapatan di sepanjang semester I-2026.

Advertisements

Melansir kinerja keuangannya, CMRY membukukan laba bersih senilai Rp 1,2 triliun per semester I-2026, atau meningkat 17,88% secara year on year (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 993,87 miliar. Kinerja laba per saham dasar pun menguat dari Rp 125,24 per saham menjadi Rp 147,65.

Dari sisi topline, pendapatan CMRY tumbuh lebih tinggi. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 6,50 triliun pada semester I-2026, meningkat 25,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Advertisements

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan pertumbuhan kinerja CMRY pada semester I-2026 berhasil melampaui target yang dipatok manajemen sebesar 15% hingga 20% secara tahunan.

Intip Rekomendasi Saham dan Prospek Cisarua Mountain (CMRY) di Semester II-2026

Menurutnya, pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kinerja segmen dairy yang sangat kuat. Pada kuartal II-2026, pendapatan perusahaan meningkat 23,4% YoY, dengan pertumbuhan penjualan segmen dairy mencapai 56,7% YoY.

“Pertumbuhan tersebut didukung oleh peluncuran produk susu UHT kemasan 125 ml sejak Januari 2026 serta kontribusi dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah,” kata Abida kepada Kontan, Kamis (6/8/2026).

Meski demikian, profitabilitas perusahaan masih menghadapi tekanan. Gross profit margin (GPM) CMRY pada semester I-2026 turun menjadi 43,3%, terutama akibat kenaikan harga skimmed milk powder sebesar 17,6% YoY dan penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah.

Kendati demikian, Abida menilai capaian tersebut masih sejalan dengan panduan manajemen yang memperkirakan GPM berada di kisaran 42% hingga 44%.

“Faktor pendorong ke depan tetap segmen dairy dan kontribusi MBG yang berkelanjutan. Sementara sentimen pemberat berasal dari tekanan margin bahan baku impor dan volatilitas kurs, meski perusahaan mencatat keuntungan selisih kurs Rp110 miliar di kuartal II-2026 yang membantu bottom line,” tambah Abida.

Sementara itu, Investment Analyst Stockbit Amara Beatrice menjelaskan capaian laba bersih CMRY sejalan dengan ekspektasi pasar karena telah mencapai 52% dari estimasi konsensus untuk laba bersih tahun 2026, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata realisasi tiga tahun terakhir yang berada di kisaran 51% dari laba bersih tahunan.

Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan sebesar 25% YoY menjadi Rp6,5 triliun sepanjang semester I 2026, bahkan melampaui panduan (guidance) manajemen CMRY untuk tahun 2026 yang sebelumnya dipatok di rentang 15%-20% YoY.

Amara menjelaskan bahwa kinerja pendapatan tersebut terutama didorong oleh segmen dairy yang melesat 57% YoY pada kuartal II 2026, sehingga kontribusinya terhadap total pendapatan naik menjadi 44%, dari sebelumnya hanya 34% pada periode yang sama tahun lalu. 

Prospek CMRY hingga Akhir 2026 Masih Cerah, Simak Rekomendasinya

Sebaliknya, segmen consumer foods hanya tumbuh tipis sebesar 6% YoY, yang menurutnya menjadi tanda normalisasi pertama sejak perseroan melantai di bursa (IPO). Ia mengaitkan perlambatan ini dengan basis pembanding yang tinggi serta dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan menekan konsumsi rumah tangga, mengingat sebagian besar produk di segmen ini biasa digunakan sebagai bekal sekolah.

Di sisi profitabilitas, Amara mencatat bahwa margin laba kotor CMRY turun menjadi 43,5% pada kuartal II 2026, dari sebelumnya 45,3% pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan biaya bahan baku dan kemasan yang melonjak 38% YoY, termasuk dampak pelemahan nilai tukar rupiah, sementara perseroan belum melakukan penyesuaian harga jual sepanjang semester I 2026.

Tekanan yang lebih dalam terjadi pada margin laba usaha yang turun ke 18,3%, dari 23,3% pada kuartal II tahun sebelumnya. Amara mengungkapkan bahwa penurunan ini dipicu oleh pencatatan provisi keusangan persediaan senilai Rp99 miliar akibat insiden kebakaran gudang, yang dibukukan pada pos beban lain-lain dan klaim asuransinya telah diajukan perseroan. Selain itu, beban distribusi juga naik 47% YoY seiring ekspansi jaringan distribusi ke luar wilayah Jawa dan Bali.

Meski demikian, manajemen CMRY disebut mulai melihat tanda-tanda margin laba kotor mencapai titik terendah (bottoming out) dan berencana menaikkan harga jual rata-rata (ASP) pada kuartal IV 2026 guna mengompensasi kenaikan biaya. Dengan strategi tersebut, ekspansi margin laba kotor diperkirakan dapat kembali terjadi pada kuartal IV 2026 atau kuartal I 2027. 

“Manajemen juga berencana meluncurkan lini produk dengan positioning lebih premium, yang turut berpotensi mendorong kenaikan ASP secara keseluruhan,” tulis Amara.

Laba Cisarua Mountain (CMRY) Terbang 15,65%, Cek Rekomendasi Sahamnya

Amara menilai tekanan margin yang terjadi pada kuartal II 2026 sebagian besar bersifat sementara (temporer), mengingat provisi akibat kebakaran gudang merupakan beban satu kali (one-off), sementara rencana kenaikan harga jual berpotensi mengompensasi tekanan dari kenaikan biaya bahan baku maupun pelemahan rupiah.

Dari sisi pertumbuhan pendapatan, manajemen CMRY memproyeksikan segmen dairy masih dapat tumbuh double-digit ke depan, didukung oleh rejuvenasi kategori produk dan inovasi, meskipun basis pembanding pada semester II 2026 dinilai akan semakin menantang.

Amara menyoroti risiko utama yang perlu dicermati adalah potensi pelemahan lebih lanjut nilai tukar rupiah. Namun, ia mencatat bahwa eksposur risiko tersebut sebagian telah dilindungi melalui penempatan kas dalam denominasi dolar AS, yang turut mendorong pendapatan keuangan neto (net finance income) perseroan mencapai Rp147 miliar pada kuartal II 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp17 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Per perdagangan Rabu (5/8/2026), saham CMRY diperdagangkan pada valuasi 14,9 kali estimasi P/E setahun ke depan (1Y Forward P/E), atau setara -2 standar deviasi di bawah rata-rata historis lima tahun terakhir. Amara menilai level valuasi tersebut cukup menarik, mengingat rekam jejak pertumbuhan pendapatan CMRY yang mencapai CAGR +27% selama periode 2021-2025, serta panduan pertumbuhan pendapatan manajemen untuk tahun 2026 yang berada di kisaran 15-20% YoY

Rekomendasi Saham 

Abida merekomendasikan buy CMRY pada target harga Rp 6.000 per saham. Target tersebut didasarkan pada valuasi price to earnings ratio (PER) tahun 2026 sebesar 21,5 kali, sejalan dengan rata-rata valuasi perseroan dalam tiga tahun terakhir. 

“Pertumbuhan penjualan solid mengkompensasi tekanan GPM, menjadikan CMRY tetap growth story konsumer yang menarik dengan risiko utama kenaikan biaya input lebih lanjut,” ujar Abida.

Kinerja Cimory (CMRY) Prospektif di Kuartal III, Kenaikan Biaya Bahan Baku Membayangi

Advertisements

Also Read

Tags