Emiten bank berbasis teknologi PT Bank Jago Tbk (ARTO) bersiap memperkuat bisnis wealth management. Perseroan berencana meluncurkan produk tabungan emas digital untuk melengkapi pilihan investasi nasabah.
Wealth management adalah layanan pengelolaan kekayaan yang membantu nasabah mengembangkan aset melalui berbagai instrumen investasi dengan pilihan yang disesuaikan dengan profil risiko serta tujuan keuangan masing-masing.
Head of Wealth Management Bank Jago Nyoman Sukmawati mengatakan, Bank Jago telah memiliki 14,7 juta pengguna aplikas hingga Juni 2026i. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3,6 juta nasabah telah terhubung dengan ekosistem investasi Bank Jago, yakni Bibit dan Stockbit.
Perempuan yang akrab disapa Nyomi itu menilai, ruang pertumbuhan layanan investasi masih sangat besar di Indonesia. Pertumbuhan nasabah investasi pada tahun ini telah naik sekitar 20% dibandingkan tahun lalu yang mencapai 3 juta pengguna.
Ruang pertumbuhan yang besar, menurut dia, didukung oleh jumlah investor di Bursa Efek Indonesia kian banyak. Berdasarkan data BEI hingga semester pertama 2026, jumlah investor hampir mencapai 30 juta. Dari sini ARTO menangkap peluang membuka produk investasi di luar saham, reksadana dan obligasi yang telah ada.
“Kami sangat optimis melihat pertumbuhannya. Semakin banyak nanti nasabah yang juga akan mulai mencoba melihat, mendiversifikasi investasinya ke produk-produk seperti ini, reksadana, saham dan obligasi,” kata Nyomi dalam Forum Jurnalis Jagoan di Jakarta, Kamis (6/8).
Hingga semester pertama 2026, komposisi dana kelolaan atau asset under management (AUM) nasabah di ekosistem tersebut didominasi saham dengan porsi 48,4%. Adapun reksa dana menyumbang 38,6% dan obligasi sekitar 13%.
Dari sisi aktivitas transaksi, saham juga menjadi instrumen yang paling aktif diperdagangkan dengan porsi 88% dari total volume transaksi. Sementara itu, reksa dana berkontribusi 11,9% dan sisanya berasal dari obligasi.
Seiring meningkatnya minat investasi, ARTO juga mulai menyiapkan produk baru untuk memenuhi kebutuhan nasabah. Nyomi mengatakan, perseroan sedang melihat instrumen investasi lainnya yang tengah diminati masyarakat.
“Sebenarnya ada banyak yang lagi kita pelajari dan eksplorasi, tapi mungkin di beberapa pertemuan sebelumnya sudah pernah ada dimention juga ya, saat ini kita memang ada mengeksplor terutama di aset emas digital,” ujar Nyomi.
Dia mengatakan, ARTO secara rutin menghimpun masukan dari nasabah melalui berbagai kanal, termasuk media sosial. Berbagai masukan tersebut menjadi dasar perseroan dalam mengembangkan fitur maupun produk investasi baru.
Untuk perkembangan terbaru mengenai rencana peluncuran tabungan emas digital, Nyomi mengatakan hal itu masih dalam kajian internal, mencari mitra strategis serta menyelesaikan proses perizinan kepada regulator sebelum meluncurkan produk emas digital.
“Sesegera mungkin (peluncurannya),” kata Nyomi saat ditanya mengenai target peluncuran produk tersebut.
Kinerja Keuangan ARTO Semester I 2026
Merujuk laporan keuangan ARTO semester pertama 2026, perseroan membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 189 miliar. Jumlah tersebut naik 49% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 127 miliar. Kenaikan laba ditopang oleh pertumbuhan penyaluran kredit, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), serta ekspansi basis nasabah.
Hingga akhir Juni 2026, total aset ARTO mencapai Rp 41,4 triliun atau tumbuh 28% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp 32,4 triliun. Perseroan juga mencatatkan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 28,4%.
Di sisi pendanaan, DPK Bank Jago mencapai Rp 27,6 triliun hingga akhir semester I 2026, meningkat 23% dari Rp 22,4 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Dana murah atau current account and savings account (CASA) masih mendominasi dengan porsi 53% atau Rp 14,6 triliun. Sementara deposito berkontribusi 47% atau Rp 13,1 triliun.
Penyaluran kredit juga tumbuh 24% menjadi Rp 26,6 triliun dari Rp 21,4 triliun pada semester I 2025. Di tengah ekspansi tersebut, Bank Jago mempertahankan kualitas aset dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross sebesar 0,8%, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan nasional.




