BANYU POS JAKARTA. Kinerja emiten properti kawasan industri beragam sepanjang paruh pertama tahun 2026.
PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) meraih pendapatan usaha sebesar Rp 1,80 triliun pada semester I 2026. “Dibandingkan dengan pendapatan usaha di semester I 2025 sebesar Rp 613,36 miliar, pendapatan usaha tahun ini naik hampir tiga kali lipat.” ujar Tondy Suwanto, Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Puradelta Lestari Tbk.
Laba bersih DMAS naik menjadi Rp1,19 triliun pada semester I 2026, atau naik 175,34% dibanding tahun lalu sebesar Rp433,02 miliar.
PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) mencatatkan pendapatan sebesar Rp 380,42 miliar per kuartal II 2026, naik 303,35% year on year (YoY). BEST juga berhasil mencatatkan rugi bersih Rp 144,32 miliar di akhir Juni 2026, berbalik dari rugi Rp 58,52 miliar di akhir Juni 2025.
Dampak Penguatan Dolar ke INCO, INKP, CUAN, dan INDY: Cek Rekomendasi Sahamnya
PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencatatkan pendapatan usaha SSIA sebesar Rp 3,3 triliun, naik 58,39% dari Rp 2,11 triliun per akhir Juni 2025. “Ini didorong oleh kuatnya pengakuan penjualan secara akuntansi dari bisnis kawasan industri,” ujar VP Investor Relations & Sustainability SSIA, Erlin Budiman, kepada Kontan, Kamis (6/8/2026).
SSIA pun mengantongi laba bersih Rp 262,55 miliar per akhir kuartal II 2026. Ini berbalik dari rugi Rp 32,34 miliar per akhir kuartal II 2025.
Di sisi lain, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp2,43 triliun pada semester I 2026, turun 11% YoY. Di periode ini, KIJA juga mencatat rugi bersih sebesar Rp6,4 miliar, dibandingkan laba bersih sebesar Rp627,6 miliar pada periode sama tahun lalu.
Corporate Secretary, Muljadi Suganda mengatakan, rugi bersih tersebut terutama disebabkan oleh beban non-operasional yang bersifat satu kali (one-off) terkait refinancing Senior Notes Perseroan menjadi pinjaman bank, yang meliputi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen derivatif (lindung nilai/hedging), serta beban amortisasi yang dipercepat terkait Senior Notes yang jatuh tempo pada tahun 2027.
Biaya-biaya tersebut merupakan konsekuensi dari langkah strategis dalam melakukan refinancing atas Senior Notes berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) menjadi fasilitas pinjaman bank dalam mata uang rupiah.
“Ini diharapkan memberikan manfaat keuangan jangka panjang meskipun berdampak sementara terhadap kinerja keuangan perseroan periode berjalan,” tuturnya.
Transaksi Kripto Melesat, Bitcoin Diproyeksi Capai US$ 85.000 di Akhir 2026
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani mengatakan, perbedaan kinerja SSIA, DMAS, BEST, dan KIJA pada semester I 2026 lebih banyak dipengaruhi oleh timing pengakuan penjualan lahan, dan struktur biaya masing-masing emiten.
“Bisnis kawasan industri memang cenderung lumpy karena transaksi lahan nilainya besar dan pengakuannya tidak selalu merata setiap kuartal,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (9/8/2026).
Secara sektoral, sentimennya sebenarnya masih cukup positif. Permintaan kawasan industri tetap kuat terutama dari data center, kendaraan listrik, baterai, logistik, dan manufaktur.
Misalnya juga, PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) mencatat permintaan di koridor timur Jakarta masih didorong data center di Cikarang serta sektor EV di Cikarang, Karawang, dan Subang. “Harga lahan di area dengan permintaan tinggi juga masih meningkat,” ungkapnya.
DMAS juga mencatat kualitas kinerja yang paling solid. Pada kuartal I saja, pendapatan naik 107% YoY menjadi Rp1,05 triliun dengan lebih dari 90% berasal dari penjualan lahan industri, terutama kepada sektor data center.
Rupiah Diproyeksi Melanjutkan Penguatan, Pasar Cermati Sentimen Global dan Data AS
“Marketing sales DMAS semester I juga mencapai Rp1,15 triliun atau sekitar 55% dari target 2026 sebesar Rp2,08 triliun dan tumbuh hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya.
SSIA dinilai Ester menarik karena mulai memperoleh kontribusi lebih besar dari kawasan industri Subang.
Pada kuartal I, pendapatan naik 35,4% menjadi Rp 1,45 triliun dan EBITDA berbalik membaik cukup signifikan. Kawasan industri memberikan kontribusi yang semakin besar, sementara bisnis hotel juga membaik.
“Ke depan, Subang menjadi katalis utamanya karena posisinya dekat Pelabuhan Patimban dan mulai menarik investasi manufaktur serta EV,” ungkapnya.
Kemudian, BEST juga menunjukkan pemulihan, meskipun skalanya masih lebih kecil. Pada kuartal I 2026, pendapatan hampir dua kali lipat menjadi Rp89,5 miliar dan laba bersih berbalik positif Rp9,3 miliar dari rugi Rp33,2 miliar tahun sebelumnya. Jadi, perbaikannya lebih banyak berasal dari peningkatan penjualan lahan dan pemulihan margin.
Sementara itu, KIJA masih menghadapi tekanan yang lebih besar. Menurut Ester, tantangan KIJA bukan hanya penjualan kawasan industri, tetapi struktur bisnisnya yang lebih kompleks serta beban bunga dan biaya keuangan yang lebih besar.
BRI MI Siap Meluncurkan Reksadana ETF Emas Syariah XDES pada 10 Agustus
“Karena itu, meskipun aktivitas kawasan industri masih berjalan, pertumbuhan operasional belum tentu langsung diterjemahkan menjadi laba bersih,” paparnya.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie mengatakan, di luar dampak refinancing, KIJA sebenarnya masih mencatat laba operasional Rp 524 miliar.
“Sebab, rugi bersihnya murni dipicu beban satu kali dari refinancing Senior Notes dolar AS ke pinjaman bank rupiah,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (7/8/2026).
Untuk semester II, prospek kinerja emiten properti kawasan industri masih positif, tetapi kemungkinan tetap selektif. Ester melihat, permintaan data center, EV, baterai, dan relokasi manufaktur masih dapat menjadi penggerak utama.
“Namun, investor perlu mencermati arus foreign direct investment (FDI), stabilitas rupiah, suku bunga, realisasi marketing sales, serta kecepatan pengakuan pendapatan dari penjualan lahan,” paparnya.
Adjie menambahkan, tren positif kinerja emiten properti kawasan industri berpeluang berlanjut, khususnya untuk SSIA, DMAS, dan BEST. Pendorongnya berasal dari permintaan data center, pemulihan hotel, dan mulai jalannya penjualan lahan.
“Sementara KIJA punya peluang rebound ke laba karena beban refinancing sifatnya tidak berulang dan fondasi operasionalnya masih sehat,” tuturnya.
Ester merekomendasikan buy on weakness untuk DMAS, BEST, dan DMAS. Sementara, Adjie merekomendasikan trading buy untuk SSIA dengan target terdekat Rp 1.760 per saham.




