Cara menghitung nilai wajar saham secara sederhana

Hikma Lia

Salah satu tujuan utama investor adalah membeli saham pada harga yang dianggap menarik dibanding nilai sebenarnya. Karena itu, muncul istilah nilai wajar atau fair value, yaitu perkiraan harga yang mencerminkan kondisi fundamental suatu perusahaan. Dengan mengetahui nilai wajar, investor dapat memiliki gambaran apakah sebuah saham tergolong murah, mahal, atau berada di harga yang relatif sesuai.

Advertisements

Meski terdengar rumit, memahami konsep nilai wajar tidak selalu harus menggunakan perhitungan yang kompleks. Ada beberapa pendekatan sederhana yang dapat digunakan sebagai langkah awal sebelum melakukan analisis yang lebih mendalam. Berikut penjelasannya.

1. Pahami bahwa nilai wajar hanyalah estimasi

Advertisements

Nilai wajar bukanlah angka pasti yang dijamin benar. Perhitungan tersebut merupakan estimasi berdasarkan data keuangan, prospek bisnis, dan berbagai asumsi yang digunakan investor. Karena itu, hasil perhitungan antara satu orang dengan yang lain bisa saja berbeda.

Hal ini membuat nilai wajar lebih tepat digunakan sebagai alat bantu dalam mengambil keputusan investasi. Investor tetap perlu mempertimbangkan berbagai faktor lain sebelum membeli saham. Dengan begitu, analisis menjadi lebih menyeluruh.

2. Gunakan pendekatan Price to Earnings Ratio (PER)

Salah satu cara sederhana adalah menggunakan rasio Price to Earnings Ratio atau PER. Caranya, investor membandingkan PER suatu perusahaan dengan rata-rata PER perusahaan sejenis dalam industri yang sama. Jika PER perusahaan jauh lebih rendah tanpa ada penurunan fundamental yang signifikan, saham tersebut bisa menjadi menarik untuk dipelajari lebih lanjut.

Namun, PER tidak bisa digunakan sendirian. Rasio ini perlu dilihat bersama pertumbuhan laba dan kondisi bisnis perusahaan. Perbandingan juga sebaiknya dilakukan pada sektor yang sama agar hasilnya lebih relevan.

3. Perhatikan Price to Book Value (PBV)

Pendekatan lain yang cukup populer adalah Price to Book Value atau PBV. Rasio ini membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan. PBV sering digunakan untuk membantu melihat apakah harga saham berada di atas atau di bawah nilai aset bersihnya.

Meski demikian, interpretasi PBV bergantung pada karakteristik industrinya. Beberapa sektor memang lazim memiliki PBV yang tinggi karena prospek pertumbuhannya. Oleh sebab itu, jangan langsung menyimpulkan hanya berdasarkan satu rasio.

4. Bandingkan dengan kinerja perusahaan

Nilai wajar akan lebih bermakna jika dibandingkan dengan perkembangan bisnis perusahaan. Misalnya, apakah laba terus bertumbuh, pendapatan meningkat, atau arus kas tetap sehat. Perusahaan dengan kinerja yang membaik umumnya memiliki peluang mempertahankan nilai bisnisnya dalam jangka panjang.

Sebaliknya, saham yang terlihat murah belum tentu benar-benar menarik jika fundamentalnya terus melemah. Karena itu, analisis terhadap laporan keuangan tetap diperlukan. Harga yang rendah tidak selalu berarti peluang investasi yang baik.

5. Jangan lupakan margin of safety

Setelah memperkirakan nilai wajar, banyak investor juga mempertimbangkan margin of safety. Istilah ini mengacu pada selisih antara harga pasar dan estimasi nilai wajar sebagai ruang pengaman apabila perhitungan yang dilakukan tidak sepenuhnya tepat.

Dengan memiliki margin of safety, investor tidak membeli saham tepat di batas estimasi nilainya. Pendekatan ini membantu mengurangi risiko ketika kondisi pasar berubah atau proyeksi perusahaan tidak berjalan sesuai harapan. Prinsip ini cukup sering digunakan dalam investasi jangka panjang.

Menghitung nilai wajar saham secara sederhana dapat dilakukan dengan memahami konsep dasar, menggunakan rasio seperti PER dan PBV, membandingkan dengan kinerja perusahaan, serta mempertimbangkan margin of safety. Meski tidak menghasilkan angka yang benar-benar pasti, pendekatan ini membantu investor membuat keputusan yang lebih rasional.

Pada akhirnya, nilai wajar hanyalah salah satu bagian dari proses analisis saham. Menggabungkannya dengan pemahaman terhadap fundamental perusahaan, prospek industri, dan tujuan investasi akan memberikan gambaran yang lebih lengkap sebelum mengambil keputusan membeli atau menjual saham.

4 Alasan Harga Saham Turun meski Perusahaannya Untung Apa Itu Fractional Shares? Cara Beli Saham dengan Harga Murah 5 Ciri Saham Tidak Cocok Disimpan Jangka Panjang, Kenali Sejak Awal

Advertisements

Also Read

Tags