BANYU POS JAKARTA. Baru-baru ini, Bursa kripto Indonesia PT Central Finansial X (CFX) meluncurkan indeks kripto pertama di Indonesia bernama CFX10. Layaknya pada pasar modal, indeks ini membantu investor melihat gambaran umum kondisi pasar aset kripto di Indonesia.
Indeks CFX10 terdiri dari 10 token yang terbesar dalam hal market cap serta kapitulasi pasarnya. Sejumlah token yang masuk indeks tersebut adalah Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), BNB, XRP, Solana (SOL), dan lainnya.
Sejalan dengan itu, data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjabarkan bahwa nilai transaksi pasar kripto domestik mengalami peningkatan. Pada Juni 2026, nilai transaksi aset kripto mencapai Rp 28,58 triliun, meningkat 24,20% secara bulanan.
Indo Premier Siap Luncurkan ETF Emas, Bidik Dana Kelolaan Rp 100 Miliar
Kemudian, jumlah akun konsumen aset kripto di Indonesia telah mencapai 22,69 juta akun hingga Juni 2026 atau meningkat 21,32% dibandingkan periode sebelumnya.
Co-founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir, mengatakan kehadiran indeks tersebut dapat menjadi salah satu acuan bagi investor dalam melihat perkembangan pasar kripto secara keseluruhan.
“Indeks ini akan hanya cenderung membantu untuk melihat gambaran umum dari kondisi pasar crypto secara keseluruhan. Hal ini tentunya dapat membantu investor untuk menjadikan ini sebagai acuan secara umum,” ujar Christopher kepada Kontan, Minggu (9/8/2026).
Menurut dia, indeks tersebut dapat memberikan gambaran mengenai pergerakan pasar secara lebih luas, sehingga investor tidak hanya melihat pergerakan harga dari satu aset kripto tertentu.
Di sisi lain, meningkatnya aktivitas transaksi aset kripto belum cukup menjadi indikator bahwa pasar kripto Indonesia telah memasuki fase pemulihan atau konsolidasi yang lebih terstruktur.
Sementara itu, harga Bitcoin, aset kripto dengan kapitalisasi terbesar, masih cenderung bergerak sideways beberapa waktu terakhir. Melansir Coin Market Cap pada Minggu (9/8) pukul 17.04 WIB, harga Bitcoin berada di US$ 64.844 atau melemah 0,17% dalam 24 jam terakhir.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, berpandangan pasar kripto pada semester II 2026 masih berpotensi berada dalam fase konsolidasi sebelum muncul katalis besar yang mampu mengubah arah tren.
“Untuk Agustus, skenario dasar menunjukkan harga Bitcoin cenderung bergerak dalam rentang terbatas,” jelas Yudhono.
Peluang untuk melanjutkan tren kenaikan dinilai semakin terbuka jika imbal hasil riil mulai menurun atau arus dana masuk ke ETF BTC kembali menunjukkan konsistensi positif.
Meski menghadapi tekanan dari faktor makroekonomi dan sentimen industri kripto, Bitcoin tetap menunjukkan ketahanan. Sepanjang Juli, Bitcoin berhasil mencatat kenaikan sekitar 7,5%, mengindikasikan tekanan jual akibat likuidasi posisi leverage telah mereda dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
FTSE Russell Segera Putuskan Status Freeze, Begini Dampaknya ke IHSG
Dengan demikian, Yudhono kemudian memproyeksi harga Bitcoin bakal bergerak fluktuasi, dengan rentang yang cukup lebar antara US$ 75.000 hingga US$ 225.000, mencerminkan tingginya sensitivitas Bitcoin terhadap kebijakan moneter global dan perkembangan regulasi.




