Volume ekspor turun, emiten nikel tetap berpeluang raih kinerja positif

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Harapan bagi emiten produsen nikel untuk membukukan kinerja impresif tetap ada meski terdapat tantangan berupa perlambatan ekspor produk olahan komoditas tersebut.

Advertisements

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut volume ekspor produk nikel mengalami penurunan 12,14% year on year (yoy) menjadi 1,06 juta ton pada Januari-Juni 2026. Namun, nilai ekspor produk nikel pada selama periode tersebut melesat 69,30% yoy menjadi US$ 6,54 miliar.

Di sisi lain, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melaui forum Strategic Response Meeting (SRM) mengungkapkan nilai ekspor produk nikel nasional berpotensi hilang sekitar US$ 3,5 miliar–US$ 5 miliar pada 2026.

Advertisements

Beberapa faktor yang berpotensi memengaruhi penurunan tersebut antaranya selisih antara kuota produksi bijih nikel dengan kebutuhan industri, kuota produksi yang tidak konsisten antar perusahaan, kenaikan royalti Izin Usaha Pertambangan (IUP) dari 10% ke 14%–19%, stok sulfur di smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) yang menipis, hingga utilisasi smelter yang terbatas.

Penertiban Tambang Ilegal Jadi Katalis Produksi dan Kinerja PT Timah Tbk (TINS)

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, data realisasi yang disampaikan oleh BPS dapat diartikan bahwa kenaikan nilai ekspor sangat dipengaruhi oleh harga jual nikel yang tinggi. Kondisi ini kemudian mampu mengompensasi penurunan volume ekspor produk nikel yang terjadi pada semester I-2026.

Bila merujuk data di situs Trading Economics, harga nikel di pasar global berada di level US$ 16.954 per ton pada Senin (10/8) pukul 18.45 WIB. Angka ini meningkat 10,63% yoy secara tahunan.

Senada, Equity Analyst Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi menyampaikan, penurunan volume ekspor tidak otomatis menjadi sinyal adanya penurunan kinerja seluruh emiten nikel. Jika harga nikel atau harga produk olahan tetap tinggi, maka penurunan volume ekspor dapat sebagian atau bahkan sepenuhnya terkompensasi oleh kenaikan harga jual.

“Sebaliknya, jika penurunan volume terjadi bersamaan dengan pelemahan harga nikel, tekanan terhadap pendapatan dan margin akan jauh lebih signifikan,” ujar dia, Senin (10/8).

Peluang emiten-emiten nikel untuk terus mencetak kinerja positif hingga akhir tahun nanti masih tetap terbuka, dengan catatan bahwa harga jual komoditas ini tetap tinggi, sehingga mampu meminimalisasi efek risiko penurunan volume ekspor. Walau begitu, tantangan seperti ketidakpastian regulasi terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) hingga tarif royalti patut diwaspadai oleh emiten-emiten nikel, mengingat sentimen ini bisa berdampak terhadap kelangsungan usaha mereka termasuk mengurangi efek tingginya harga nikel di pasar.

Dibayangi Risiko Tekanan Global, Begini Prospek Pergerakan Yield SBN

Abida menjelaskan, untuk mengatasi risiko perlambatan ekspor, emiten produsen nikel perlu mempercepat akselerasi program hilirisasi ke produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan nikel sulfat yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Emiten nikel juga perlu mengoptimalisasi kuota RKAB yang dimiliki dan melakukan diversifikasi komoditas di luar nikel.

Dari sekian emiten nikel, Abida memperkirakan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi emiten yang paling menarik berkat target RKAB produksi bijih nikel sekitar 18,1 juta wet metric ton (wmt) pada 2026 yang lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya yakni 16,11 juta wmt. ANTM juga diuntungkan oleh harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) bijih nikel yang melesat 50% yoy secara tahunan.

“Diversifikasi ke sektor emas juga menjadi buffer yang kuat,” imbuh dia.

Saham ANTM pun tampil sebagai top pick dan direkomendasi beli dengan target harga di level Rp 4.900 per saham.

Selain ANTM, lanjut Abida, ada PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang juga menarik berkat integrasi vertikal ke produk MHP melalui anak usahanya, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Produk MHP sendiri mampu memberikan margin yang lebih stabil bagi perusahaan.

Imam meneruskan, terdapat risiko berupa tekanan harga jual bijih nikel memasuki kuartal III-2026. Bahkan, harga bijih nikel saat ini hanya sedikit berada di atas Harga Patokan Mineral (HPM) yang jadi tolok ukur.

“Kenaikan biaya bahan bakar juga membuat kemampuan smelter untuk menyerap harga bijih yang lebih tinggi menjadi terbatas,” tambahnya.

Dari situ, Imam tetap mengunggulkan ANTM sebagai emiten produsen nikel yang berpotensi mencetak kinerja paling moncer. Namun, untuk ke depannya, pertumbuhan ANTM tidak bisa hanya mengandalkan kenaikan ASP bijih nikel.

Beruntung bagi ANTM, lini bisnis komoditas lainnya seperti emas dapat menjadi faktor pembeda. Dengan prospek harga emas yang masih cenderung positif pada semester II-2026, komoditas ini berpeluang menjadi penopang kinerja ketika margin bisnis nikel kemungkinan mulai menghadapi tekanan.

Lantas, Imam merekomendasikan beli saham ANTM dengan target harga di level Rp 3.420 per saham dan Rp 3.700 per saham.

BUMI Bidik Metanol Jadi Sumber Pendapatan Baru

Advertisements

Also Read

Tags