MBG kembali berjalan, harga DOC naik 51,5% dan saham poultry disarankan overweight

Hikma Lia

BANYU POS  JAKARTA. Harga day-old chick (DOC) mencatat pemulihan signifikan pada Juli 2026, seiring dengan rebound harga ayam broiler dan kembali berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor perunggasan.

Advertisements

Analis Mirae Asset Sekuritas, Andreas Saragih dalam riset 11 Agustus 2026 mengatakan harga rata-rata DOC pada Juli 2026 mencapai Rp 5.286 per ekor, melonjak 51,5% secara bulanan dan relatif stabil secara tahunan, hanya turun 0,1% dibandingkan Juli 2025. Kenaikan tersebut menjadi penguatan bulanan terbesar sejak Mei 2025.

Menurut Andreas, pemulihan tajam harga DOC terutama didorong oleh kenaikan harga broiler. Pada Juli 2026, harga broiler mencapai Rp 18.661 per kilogram, naik 11,4% secara month on month (MoM) dan 2,5% secara year on year (YoY). Meski demikian, harga tersebut masih berada di bawah level Rp 19.500 per kg yang menjadi target batas bawah dalam program stabilisasi harga unggas nasional yang ditandatangani pada 29 Juni 2026.

Advertisements

MBG Dorong Permintaan, Saham Sektor Poultry Masih Positif di Kuartal III-2026

“Kami mengatribusikan pemulihan tajam harga DOC pada rebound harga broiler. Kami menilai hal ini mencerminkan komitmen bersama perusahaan perunggasan, asosiasi, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), serta Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), bersamaan dengan kembali berjalannya program MBG,” ujar Andreas.

Di sisi lain, harga jagung relatif tidak banyak berubah pada Juli, yakni Rp 6.490 per kg, naik tipis 0,1% MoM, tetapi masih mencatat kenaikan 31,9% YoY. Menurut Mirae Asset, tingginya harga jagung mencerminkan permintaan yang kuat di tengah pasokan yang relatif stabil.

Secara kumulatif hingga Juli 2026, fundamental sektor perunggasan juga menunjukkan tren positif. Harga rata-rata DOC mencapai Rp 5.809 per ekor, naik 18,1% YoY dan 2,7% di atas rata-rata sepanjang 2025.

Sementara itu, harga rata-rata broiler mencapai Rp 20.124 per kg, meningkat 12,8% YoY dan 4,5% di atas rata-rata 2025. Adapun harga jagung rata-rata berada di level Rp 6.588 per kg, naik 38,8% YoY atau 27,7% di atas rata-rata 2025.

Andreas menilai harga jual yang tetap kuat menunjukkan permintaan terhadap produk unggas masih resilien. Kondisi tersebut terutama ditopang oleh tingginya belanja program MBG, yang mencapai Rp 101,1 triliun pada semester I 2026, jauh meningkat dibandingkan hanya Rp 5 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi saham, pergerakan JPFA pada Juli relatif sejalan dengan IHSG yang menguat 10,5% MoM. Sebaliknya, CPIN mencatat kinerja yang lebih lemah dan tertinggal 13,7% dari indeks.

Kedua saham tersebut mencatat arus keluar bersih investor asing selama Juli, masing-masing sebesar Rp90 miliar untuk JPFA dan Rp51 miliar untuk CPIN.

Namun, secara kumulatif, arus dana asing untuk kedua saham masih berada di wilayah positif. Sepanjang tujuh bulan pertama 2026, JPFA mencatat net inflow Rp 387 miliar, sementara dalam 12 bulan terakhir mencapai Rp 914 miliar. Untuk CPIN, net inflow tercatat Rp 257 miliar pada tujuh bulan di 2026 dan Rp 163 miliar dalam 12 bulan terakhir.

Skema Impor Bungkil Kedelai Topang Margin, Sektor Poultry Masih Layak Dikoleksi

Andreas melihat investor domestik mulai memanfaatkan pemulihan harga komoditas unggas. Pada JPFA, kepemilikan investor lokal meningkat 1 poin persentase (ppt) MoM menjadi 19,5%, setelah sebelumnya berada di titik terendah 12 bulan sebesar 18,5% pada Juni.

Investor individu lokal masih menjadi pemegang terbesar di kelompok domestik dengan kepemilikan 10,8%, meski turun 0,2 ppt. Di sisi lain, perusahaan asuransi lokal meningkatkan kepemilikan 0,8 ppt menjadi 3,9%, sedangkan reksa dana lokal naik 0,3 ppt menjadi 3,7%.

Investor institusi asing atau foreign IB masih menjadi pemegang terbesar JPFA dengan kepemilikan 26%, meski telah mengurangi porsinya sebesar 1,2 ppt. Sementara itu, kepemilikan korporasi asing dan reksa dana asing relatif tidak berubah, masing-masing sebesar 23% dan 17,7%.

Pada CPIN, kepemilikan investor lokal juga melanjutkan tren kenaikan, bertambah 0,3 ppt menjadi 12,6%. Investor individu lokal meningkatkan kepemilikan 0,5 ppt menjadi 4%, yang merupakan level tertinggi dalam 12 bulan terakhir. Sebaliknya, perusahaan asuransi lokal dan reksa dana lokal masing-masing turun 0,1 ppt menjadi 6,2% dan 0,8%.

Investment banking asing alias foreign IB masih menjadi pemegang terbesar CPIN dengan kepemilikan 38,3%, setelah memangkas 0,1 ppt. Sementara kepemilikan korporasi asing dan reksa dana asing tetap masing-masing sebesar 19,5% dan 13,2%.

“Kami membaca kondisi ini sebagai upaya investor domestik memanfaatkan pemulihan harga unggas, yang dipimpin oleh perusahaan asuransi lokal pada JPFA dan investor individu lokal pada CPIN. Sementara itu, foreign IB mengambil keuntungan setelah reli pada Juli,” kata Andreas.

Meski terjadi pengurangan kepemilikan asing pada Juli, Mirae Asset menilai langkah tersebut masih bersifat taktis dan belum menunjukkan perubahan pandangan investasi. Pasalnya, kedua saham masih membukukan arus dana asing bersih positif sepanjang tujuh bulan di 2026.

Dengan berlanjutnya pemulihan harga DOC dan broiler setelah program MBG kembali berjalan, Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi Overweight terhadap sektor perunggasan.

Peran Danantara & Program MBG, Begini Prospek Saham Poultry Saat Oversupply Reda

Namun, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, yakni harga DOC dan broiler yang lebih rendah dari perkiraan, biaya input yang lebih tinggi dari estimasi, serta dampak program MBG yang lebih rendah dari ekspektasi.

Andreas memberi rekomendasi trading buy pada saham CPIN dengan target harga di Rp 3.550 per saham. Sedangkan JPFA diberi rekomendasi buy dengan target harga di Rp 3.750. 

Pada Rabu (12/8/2026), saham CPIN naik 1,61% di Rp 3.150 per saham. Sedangkan saham JPFA naik 2,73% di Rp 2.260 per saham. 

Advertisements

Also Read

Tags