Pertumbuhan EPS AMRT melambat, ini rekomendasi saham dari analis

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) tengah beralih ke lintasan pertumbuhan laba per saham (earnings per share/EPS) yang lebih lambat akibat hambatan di sisi daya beli konsumen serta tekanan biaya operasional.

Advertisements

Kondisi tersebut tercermin dari perlambatan pertumbuhan kinerja keuangan perseroan yang berlanjut hingga kuartal II dan semester I-2026. 

Kinerja saham pengelola jaringan ritel Alfamart ini juga dibayangi sentimen penyesuaian portofolio global, di mana premi likuiditas pada valuasi price to earnings ratio (PER) AMRT berpotensi terdampak oleh penurunan peringkat oleh MSCI dari Indeks MSCI Global Standard ke MSCI Global Small Cap pada Mei 2026. 

Advertisements

Rupiah Spot Ditutup Stagnan pada Level Rp 17.877 per Dolar AS pada Kamis (13/8/2026)

Langkah optimasi operasional dan ekspansi gerai luar Jawa diperkirakan bakal menjadi penahan tekanan di tengah persaingan ritel modern yang makin kompetitif.

AMRT mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 6% secara YoY pada semester I-2026 menjadi Rp 67,95 triliun, dengan laba bersih mencapai Rp 2,02 triliun atau naik 8% YoY.

Namun, jika dilihat secara kuartalan, laba bersih pada kuartal II-2026 tercatat sebesar Rp 950 miliar atau hanya tumbuh 5% YoY. 

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Willy Goutama mencermati bahwa capaian kinerja tersebut mencerminkan tren pertumbuhan yang kurang bergairah akibat tidak meratanya pemulihan daya beli masyarakat massal di berbagai wilayah operasional AMRT.

Laju pertumbuhan penjualan gerai yang sama (same-store sales growth/SSSG) AMRT melambat menjadi 2,6% pada kuartal II-2026, meskipun secara kumulatif semester I-2026 masih berada di level 4,4%. 

“Hasil kinerja AMRT pada kuartal II-2026 kurang bergairah akibat lambatnya pemulihan daya beli konsumen serta kenaikan beban gaji dan depresiasi dari pembukaan gerai maupun pusat distribusi (distribution center/DC) baru,” ungkap Willy dalam risetnya, (10/8/2026).

Perlambatan SSSG tersebut terjadi kendati perseroan dan para pemasok telah melancarkan gelombang kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar 2% hingga 5% di berbagai kategori produk, dengan kenaikan inflasi tertinggi mencapai 7% hingga 9% pada produk air galon, es krim, dan susu cair.

Selain itu, peningkatan biaya operasional gerai baru membuat rasio beban operasional terhadap penjualan (opex-to-sales) masih berfluktuasi.  

Di tengah perlambatan pertumbuhan penjualan, disiplin penyesuaian harga dan efisiensi jaringan logistik menjadi penopang utama margin profitabilitas perseroan.

Margin kotor AMRT mengalami ekspansi sebesar 91 basis poin (bps) YoY menjadi 22,9% pada kuartal II-2026, yang didorong oleh optimalisasi bauran produk bermargin lebih tinggi seperti makanan beku, minuman, camilan, dan produk perawatan diri. 

Analis Bahana Sekuritas Reinard Tanukusuma menilai kinerja margin operasional AMRT akan mengalami ekspansi secara struktural seiring dengan peningkatan utilisasi fasilitas logistik baru yang telah dibangun. 

Harga Minyak Dunia Berpotensi Turun, Pasar Pantau Pembukaan Selat Hormuz

“Kami memperkirakan rasio biaya operasional terhadap penjualan akan terus ternormalisasi dari puncaknya pada kuartal III-2025 seiring peningkatan kapasitas utilisasi di lima pusat distribusi baru AMRT,” ujar Reinard dalam risetnya, (6/7/2026). 

Reinard menambahkan, pemulihan utilisasi lima DC baru, seperti DC Madiun yang berhasil mencapai kapasitas penuh hanya dalam enam bulan, akan terus mendorong peningkatan daya ungkit operasional.

Di samping itu, penurunan tekanan dari anak usaha seperti Lawson yang ditargetkan mampu memangkas kerugian menjadi sekitar Rp 150 miliar tahun ini, serta kontribusi lini bisnis digital yang menguntungkan dengan porsi penjualan hingga 8,4%, akan memberikan tambahan margin bagi perseroan.

Di sisi ekspansi jaringan, AMRT terus mengalihkan fokus ke wilayah luar Jawa. Kontribusi pendapatan dari luar Jawa meningkat menjadi 37,3% pada semester I-2026 (dibandingkan 35,8% pada semester I-2025), didorong oleh permintaan produk yang lebih kuat serta tingkat persaingan ritel yang relatif lebih rendah.  

Peta persaingan ritel modern di dalam negeri juga menunjukkan dinamika ketat, khususnya persaingan antara AMRT dan Indomaret.

Dalam enam bulan terakhir, Indomaret melancarkan strategi promosi yang lebih agresif untuk memacu pertumbuhan volume penjualan, tetapi harus mengorbankan tingkat profitabilitas.

Sebaliknya, AMRT memilih untuk mempertahankan disiplin penetapan harga demi menjaga marjin profitabilitas ketimbang mengejar volume semata. 

Analis UBS Global Research Alex Manoonpol menyoroti bahwa ketahanan pangsa pasar AMRT tetap solid di tengah ketatnya arus promosi pesaing.

“Meskipun latar belakang persaingan makin ketat, AMRT terus meraih pangsa pasar yang sebagian besar didorong oleh berlanjutnya konsolidasi dari minimarket independen dan perdagangan tradisional ke format ritel modern terorganisir,” kata Alex dalam risetnya, (6/8/2026).

Selain itu, terkait dengan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang digulirkan pemerintah, Alex menilai inisiatif tersebut berpotensi lebih difungsikan sebagai saluran distribusi produk komoditas bersubsidi seperti Minyakita dan pupuk, sehingga tidak akan menjadi pesaing langsung bagi bisnis ritel grosir modern terorganisir seperti Alfamart.

Melihat kombinasi antara tantangan pertumbuhan EPS, sentimen rebalancing indeks MSCI, serta potensi efisiensi operasional AMRT, ketiga analis memberikan pandangan yang bervariasi.

Reinard dan Alex kompak mempertahankan rekomendasi buy untuk saham AMRT dengan masing-masing target harga Rp 2.600 dan Rp 2.300 per saham.

Sementara itu, Willy memilih untuk mempertahankan rekomendasi hold sembari menurunkan target harga saham AMRT menjadi Rp 1.400 per saham.

IHSG Ambruk 1,18% ke 6.298 Sesi I, Top Losers LQ45: ESSA, MBMA, CUAN, Kamis (13/8)

Advertisements

Also Read

Tags