BANYU POS JAKARTA. PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) mencatatkan perkembangan positif dalam kinerja operasional dan kondisi keuangan pada semester pertama I-2026. Perbaikan tersebut tercermin dari pertumbuhan penjualan, peningkatan profitabilitas, penguatan ekuitas, serta langkah strategis BAJA untuk memperkuat struktur permodalan melalui Rencana Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue yang saat ini masih dalam proses untuk memperoleh Pernyataan Efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Sebagaimana diketahui, BAJA membukukan penjualan bersih sebesar Rp 634,54 miliar pada semester I-2026 atau meningkat sekitar 85,8% year on year (yoy) dibandingkan Penjualan Bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 341,63 miliar.
Pertumbuhan penjualan tersebut diikuti dengan peningkatan laba kotor yang signifikan, dari Rp 8,98 miliar pada semester I-2025 menjadi Rp 50,47 miliar pada semester I-2026. Dengan demikian, margin laba kotor meningkat dari sekitar 2,6% menjadi sekitar 8%.
PIPA Incar Akuisisi Pengolah Migas: Intip Profil Emiten, Lini Bisnis, dan Kinerjanya
Perbaikan kinerja operasional juga tercermin dari laba usaha. Jika pada semester I-2025 BAJA mencatat rugi usaha sebesar Rp 5,01 miliar, maka pada semester I-2026 BAJA sukses membukukan laba usaha sebesar Rp 40,89 miliar.
Setelah memperhitungkan beban Keuangan, termasuk dampak kerugian kurs, BAJA tetap mampu mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp 21,09 miliar dan laba bersih sebesar Rp 21,33 miliar pada semester I-2026. Hasil ini berbanding terbalik dengan rugi bersih sebesar Rp 16,53 miliar yang didapat pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas operasional perusahaan telah menunjukkan pemulihan yang nyata dan mulai memberikan kontribusi positif terhadap kondisi keuangan perseroan,” ujar Manajemen BAJA dalam keterbukaan informasi, Kamis (20/8/2026).
Sejalan dengan pencapaian laba pada semester I-2026, posisi ekuitas BAJA juga mengalami peningkatan yang signifikan. Per 30 Juni 2026, total ekuitas BAJA tercatat sebesar Rp 42,68 miliar, meningkat sekitar 100,6% dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp 21,28 miliar. Peningkatan tersebut terutama mencerminkan laba komprehensif periode berjalan sebesar sekitar Rp 21,40 miliar.
BI Perkuat Instrumen Stabilitas, Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS Kamis (20/8) Pagi
Selain itu, total aset BAJA meningkat dari Rp 684,67 miliar pada 31 Desember 2025 menjadi Rp 769,45 miliar per 30 Juni 2026. Kas dan bank BAJA juga meningkat dari Rp 11,35 miliar menjadi Rp 24,21 miliar, sementara aset lancar meningkat dari Rp 538,83 miliar menjadi Rp 620,17 miliar.
BAJA juga mencatatkan perbaikan pada posisi modal kerja. Defisit modal kerja yang pada akhir 2025 tercatat sekitar Rp 116,24 miliar berkurang menjadi sekitar Rp 98,22 miliar per 30 Juni 2026.
Di samping melakukan perbaikan kinerja operasional, BAJA saat ini sedang menjalankan proses rights issue sebagai bagian dari langkah strategis untuk memperkuat struktur permodalan dan memperbaiki struktur kewajiban perusahaan.
Salah satu kewajiban material BAJA yang menjadi bagian dari langkah penataan struktur keuangan adalah kewajiban kepada pihak berelasi yang berdasarkan laporan posisi keuangan per 30 Juni 2026 tercatat sebesar sekitar Rp 348,86 miliar dan diklasifikasikan sebagai Kewajiban yang akan jatuh tempo dalam satu tahun.
Rencana rights issue tersebut merupakan salah satu langkah strategis yang dipersiapkan BAJA untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung penataan kewajiban perusahaan, termasuk kewajiban kepada pihak Berelasi, sesuai dengan Rencana Penggunaan Dana dan Mekanisme Transaksi yang akan dilaksanakan setelah seluruh persyaratan dan tahapan PMHMETD terpenuhi.
IHSG Menguat pada Perdagangan Kamis (20/8) Pagi, AMMN, HRTA, DEWA Top Gainers LQ45
Dengan demikian, rights issue tidak semata-mata diarahkan untuk mendukung kebutuhan pendanaan BAJA, tetapi juga merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk membangun struktur keuangan yang lebih sehat, mengurangi tekanan kewajiban jangka pendek, dan meningkatkan kemampuan perusahaan dalam menjalankan kegiatan usaha secara berkelanjutan.
Lebih lanjut, sehubungan dengan dibukanya kembali suspensi perdagangan saham, Manajemen BAJA menyampaikan bahwa saat ini perusahaan terus menjalankan langkah-langkah strategis untuk memperkuat kinerja dan fundamental usaha.
BAJA sebelumnya telah menyampaikan rencana aksi korporasi kepada publik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal dan prinsip keterbukaan informasi yang berlaku.
“Rencana aksi korporasi tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mengembangkan usaha dan diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap penguatan kinerja, fundamental, serta prospek usaha perusahaan ke depan,” jelas Manajemen BAJA.
Di sisi lain, berdasarkan laporan keuangan periode Juni tahun 2026, BAJA mencatatkan perbaikan kinerja yang signifikan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
BAJA akan terus berfokus pada pelaksanaan strategi usaha secara prudent dan berkelanjutan, serta senantiasa memenuhi prinsip keterbukaan Informasi dengan menyampaikan setiap informasi atau perkembangan material kepada publik sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.
“Perusahaan mengapresiasi perhatian dan kepercayaan para pemegang saham serta pemangku kepentingan dan akan terus berupaya menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan perusahaan,” tandas Manajemen BAJA.
Sebagai informasi, harga saham BAJA pada perdagangan intraday Kamis (20/8) terkoreksi 9,82% ke level Rp 294 per saham.




