Bakal Saingi ORI030, Intip Prospek Investasi Sukuk Ritel SR025

Hikma Lia

Penawaran instrumen Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ritel terbaru, yaitu Sukuk Ritel seri SR025, diproyeksikan memiliki peluang besar untuk mencatatkan kinerja penjualan yang gemilang. Bahkan, instrumen investasi berbasis syariah ini diperkirakan mampu menghimpun dana masyarakat dalam jumlah yang sangat signifikan, menyamai pencapaian Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030 sebelumnya yang sukses menyerap dana hingga mencapai Rp 40 triliun. Walaupun tingkat kupon atau imbal hasil yang ditawarkan oleh SR025 sedikit lebih rendah dibandingkan dengan seri ORI sebelumnya, instrumen ini diyakini tetap memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi para investor domestik, khususnya investor ritel yang mencari alternatif investasi aman, stabil, dan menguntungkan di tengah dinamika pasar keuangan saat ini.

Advertisements

Kupon SR025 dan Kondisi Makroekonomi Domestik

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan telah menetapkan besaran imbal hasil atau kupon tetap (fixed rate) untuk SR025. Pemerintah menawarkan dua pilihan tenor kepada masyarakat, yaitu tenor 3 tahun (SR025-T3) dengan kupon sebesar 6,80% per tahun, serta tenor 5 tahun (SR025-T5) dengan kupon sebesar 6,90% per tahun. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai bahwa prospek penerbitan SR025 kali ini sangat kuat karena didukung oleh kondisi ekonomi domestik yang relatif stabil dan kondusif. Saat ini, Bank Indonesia (BI) terpantau masih mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75%. Sementara itu, tingkat inflasi nasional pada bulan Juli 2026 tercatat berada di level yang sangat terkendali, yaitu sebesar 2,88%.

Advertisements

Dengan kondisi makroekonomi tersebut, penawaran kupon SR025 yang berkisar antara 6,80% hingga 6,90% memberikan selisih atau spread riil yang sangat menarik, yaitu hampir mencapai empat poin persentase di atas tingkat inflasi saat ini. Menurut Josua Pardede kepada Kontan pada Jumat (21/8/2026), adanya selisih yang lebar ini menjadi alasan kuat mengapa SR025 tetap menjadi pilihan investasi yang sangat efektif untuk melindungi nilai aset masyarakat dari gerusan inflasi serta memberikan imbal hasil riil yang positif dan kompetitif bagi para pemegangnya.

Kebijakan Penetapan Kupon oleh Pemerintah

Lebih lanjut, Josua menjelaskan bahwa langkah pemerintah dalam menetapkan tingkat kupon SR025 sudah sangat tepat dan terukur. Meskipun dari sudut pandang pengelolaan anggaran negara kebijakan ini tergolong hemat dalam hal biaya pembiayaan atau cost of fund, besaran kupon tersebut tetap dinilai kompetitif bagi publik. Sebelum pengumuman resmi dikeluarkan oleh pemerintah, Josua memperkirakan bahwa rentang imbal hasil yang masuk akal dan adil bagi pasar adalah sekitar 6,75% hingga 6,90% untuk tenor tiga tahun, serta antara 6,85% hingga 7,00% untuk tenor lima tahun. Keputusan akhir pemerintah yang menetapkan kupon pada angka 6,80% untuk tenor tiga tahun dan 6,90% untuk tenor lima tahun menunjukkan upaya strategis untuk menjaga keseimbangan yang optimal antara daya tarik bagi investor dan pengelolaan beban utang negara.

Daya Tarik Utama SR025 Bagi Investor Ritel

Bagi para investor ritel yang memiliki profil risiko konservatif hingga moderat dan mengutamakan pendapatan tetap yang stabil, instrumen SR025 menawarkan berbagai macam keunggulan yang sangat kompetitif. Beberapa daya tarik utama dari produk investasi ini meliputi skema pembayaran imbal hasil yang dilakukan secara rutin setiap bulan, jaminan keamanan penuh dari pemerintah baik untuk pengembalian pokok maupun pembayaran kupon, serta tarif pajak imbal hasil yang sangat rendah yaitu hanya sebesar 10%. Tarif pajak ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan pajak bunga deposito perbankan yang umumnya mencapai 20%. Selain itu, SR025 juga bersifat tradable atau dapat diperdagangkan kembali di pasar sekunder setelah melewati periode minimum kepemilikan tertentu, sehingga memberikan fleksibilitas likuiditas yang cukup tinggi bagi para pemegangnya. Di sisi lain, iklim investasi domestik juga terus berkembang dengan berbagai kebijakan baru, salah satunya adalah rencana batas harga saham turun ke Rp1, yang diperkirakan dapat membuat transaksi saham tertentu berpotensi melesat di pasar modal.

Tantangan Global dan Pergerakan Yield SBN

Meskipun memiliki berbagai keunggulan, momentum peluncuran SR025 ini juga tidak terlepas dari sejumlah tantangan eksternal. Pergerakan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder saat ini terpantau masih berada di level yang relatif tinggi akibat tingginya ketidakpastian di tingkat global. Berdasarkan catatan Josua Pardede, yield SBN dengan tenor 10 tahun berada di kisaran 7,02% pada pertengahan Agustus 2026, setelah sebelumnya sempat melonjak hingga menyentuh level 7,29% pada akhir Juli. Fluktuasi dan kenaikan imbal hasil SBN di pasar sekunder ini dipicu oleh berbagai faktor geopolitik global, seperti eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, ketidakpastian arah harga minyak mentah dunia, serta kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan oleh mayoritas bank sentral utama dunia.

Sementara itu, untuk tenor yang lebih pendek, yield SBN tenor lima tahun pada pertengahan Agustus 2026 tercatat berada di sekitar 6,94%, dan untuk tenor tiga tahun sempat berada di level 7,1% pada periode sebelumnya. Dengan membandingkan angka-angka tersebut, terlihat jelas bahwa kupon SR025 tidak dikategorikan sebagai produk dengan imbal hasil yang terlalu murah, namun juga tidak memberikan premi yang sangat besar di atas rata-rata pasar sekunder. Hal ini mengindikasikan bahwa SR025 diposisikan secara adil sesuai dengan kondisi pasar aktual.

Karakteristik imbal hasil yang ditawarkan tersebut membuat SR025 diperkirakan akan sangat diminati oleh tipe investor yang berorientasi jangka panjang. Permintaan terbesar kemungkinan besar akan datang dari kalangan investor yang memang berniat untuk menyimpan instrumen ini hingga jatuh tempo (hold to maturity), bukan dari para spekulan atau investor jangka pendek yang mencari keuntungan cepat dari selisih harga atau capital gain di pasar sekunder. Sebagai perbandingan instrumen investasi lain di pasar keuangan, emiten properti seperti INPP juga tengah menarik perhatian di mana INPP tebar dividen interim Rp 50,32 miliar, dan para pelaku pasar dapat melakukan cek potensi yield dan jadwalnya untuk menyusun portofolio investasi yang optimal secara keseluruhan.

Strategi Investasi: Memilih Antara Tenor 3 Tahun dan 5 Tahun

Dari sudut pandang strategi investasi, instrumen SR025 dengan tenor lima tahun dinilai jauh lebih menarik bagi investor yang memiliki dana menganggur untuk dikunci dalam jangka waktu yang lebih lama. Pilihan ini sangat cocok jika investor memproyeksikan bahwa tren suku bunga acuan dan yield obligasi global maupun domestik akan mulai mengalami penurunan pada periode tahun 2027 hingga 2028. Dengan memilih tenor lima tahun, investor tidak hanya berhasil mengunci imbal hasil tinggi sebesar 6,90% dalam jangka panjang, tetapi juga berkesempatan mendapatkan potensi keuntungan modal (capital gain) yang lebih besar di pasar sekunder saat yield pasar mengalami penurunan di masa depan, karena tenor yang lebih panjang cenderung memiliki sensitivitas harga yang lebih tinggi terhadap penurunan yield.

Sebaliknya, bagi masyarakat yang lebih memprioritaskan aspek fleksibilitas keuangan atau memiliki rencana kebutuhan dana yang mendesak dalam jangka menengah, pilihan SR025 dengan tenor tiga tahun merupakan opsi yang jauh lebih rasional dan sesuai dengan profil kebutuhan mereka. Namun, bagi para investor yang memiliki likuiditas atau modal yang cukup besar, Josua menyarankan untuk menerapkan strategi investasi yang lebih seimbang atau terdiversifikasi. Strategi ini dapat dilakukan dengan cara membagi porsi pembelian modal secara proporsional antara tenor tiga tahun (T3) dan tenor lima tahun (T5). Melalui pendekatan diversifikasi tenor ini, sebagian dana investor akan jatuh tempo lebih cepat sehingga menjaga likuiditas jangka pendek, sementara sebagian dana lainnya tetap bekerja secara optimal dengan mengunci tingkat imbal hasil yang tinggi untuk jangka waktu yang lebih panjang.

Peluang Menembus Target Rp 40 Triliun

Mengenai target pengumpulan dana, Josua Pardede memproyeksikan bahwa penjualan SR025 memiliki peluang yang cukup terbuka untuk menyamai atau bahkan melampaui rekor penjualan ORI030 yang berada di angka Rp 40 triliun. Kendati demikian, skenario tersebut bukanlah merupakan skenario dasar (base case) dalam proyeksinya. Ada beberapa faktor yang berpotensi menahan laju penjualan SR025 untuk bisa melampaui pencapaian ORI030 secara masif. Salah satunya adalah faktor besaran kupon, di mana ORI030 sebelumnya menawarkan kupon yang sedikit lebih kompetitif, yaitu sebesar 6,90% untuk tenor tiga tahun dan 7,00% untuk tenor enam tahun, berbanding dengan SR025 yang menawarkan 6,80% dan 6,90%. Selain itu, sebagian likuiditas dari kelompok investor ritel domestik juga baru saja terserap oleh penerbitan ORI030 yang berlangsung beberapa waktu sebelumnya.

Walaupun demikian, target penjualan hingga menembus angka Rp 40 triliun untuk SR025 tetap sangat realistis untuk dicapai apabila didukung oleh beberapa indikator pasar yang positif. Beberapa faktor pendorong utama yang dapat mengakselerasi penjualan ini antara lain adalah pergerakan nilai tukar rupiah yang tetap terjaga stabil terhadap dolar AS, pergerakan yield SBN di pasar sekunder yang tidak kembali mengalami lonjakan secara drastis, serta kondisi pasar saham domestik yang masih dibayangi oleh volatilitas tinggi sehingga mendorong para pemodal untuk mengalihkan portofolio mereka ke instrumen pendapatan tetap yang menawarkan kepastian hasil. Selain itu, efektivitas dan agresivitas program pemasaran serta edukasi yang dilakukan oleh seluruh mitra distribusi yang ditunjuk oleh pemerintah juga akan memegang peranan yang sangat krusial dalam menjangkau basis investor yang lebih luas di berbagai daerah.

Ketentuan Teknis dan Jadwal Penawaran Resmi

Salah satu keunggulan utama lainnya dari seri SR025 ini adalah sifatnya yang inklusif. Sebagai instrumen syariah, produk ini tidak hanya ditujukan bagi para investor yang menerapkan prinsip-prinsip keuangan syariah saja, melainkan juga sangat terbuka untuk diakses oleh seluruh kalangan investor umum tanpa memandang latar belakang. Berdasarkan informasi resmi yang dirilis melalui laman DJPPR Kementerian Keuangan, pemerintah menetapkan batas minimum pemesanan untuk SR025 pada nominal yang sangat terjangkau, yaitu hanya sebesar Rp 1 juta. Sementara itu, untuk batas maksimum pemesanan, pemerintah menetapkan nominal hingga Rp 5 mimpi untuk instrumen SR025 tenor tiga tahun (SR025-T3) dan maksimal hingga Rp 10 miliar untuk instrumen SR025 tenor lima tahun (SR025-T5).

Proses penawaran produk investasi syariah ini dijadwalkan berlangsung selama hampir satu bulan penuh, yaitu dimulai dari tanggal 21 Agustus hingga ditutup pada tanggal 16 September 2026. Setelah masa penawaran berakhir dan instrumen resmi diterbitkan, para investor akan memegang produk ini hingga tanggal jatuh tempo yang telah ditentukan. Untuk instrumen SR025 tenor tiga tahun (SR025-T3), tanggal jatuh tempo ditetapkan pada 10 September 2029, sedangkan untuk instrumen SR025 tenor lima tahun (SR025-T5), tanggal jatuh tempo ditetapkan jatuh pada tanggal 10 September 2031.

Advertisements

Also Read

Tags