Kebijakan AS Borong US Treasury Buat Otot Rupiah Menguat

Hikma Lia

Nilai tukar rupiah ditutup menguat 54 poin ke level Rp 17.694 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.748 per dolar AS, pada Jumat (21/8). Analis menyebut kebijakan Departemen Keuangan AS yang meningkatkan program pembelian kembali (buyback) surat berharga negara (US Treasury) jangka panjang jadi salah satu faktor yang membuat rupiah menguat. 

Advertisements

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, Departemen Keuangan AS pada pekan ini mengumumkan akan menggandakan pembelian kembali Treasury berjangka panjang menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi selama kuartal mendatang. Langkah tersebut membantu menurunkan imbal hasil surat utang AS berjangka panjang.

Pemerintah AS juga membuka kemungkinan untuk meningkatkan volume pembelian tersebut lebih lanjut karena menilai tingkat imbal hasil saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi AS.

Advertisements

Dari sisi ekonomi AS, klaim tunjangan pengangguran mingguan tercatat menurun. Kondisi tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil meski sebelumnya terjadi penurunan lapangan kerja yang tidak terduga pada Juli.

Baca juga:

  • Rupiah Berpotensi Melemah Jelang Rilis Data Transaksi Berjalan
  • Rupiah Menguat ke Rp 17.748, Pasar Cermati Ketegangan Selat Hormuz
  • Rupiah Diprediksi Menguat ke Rp 17.750-Rp 17.850 per Dolar AS Hari Ini

Perkembangan tersebut membuat perhatian pasar kembali tertuju pada arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), khususnya mengenai waktu perubahan suku bunga berikutnya. Karena itu, investor masih memperdebatkan kapan bank sentral AS akan mulai melakukan perubahan kebijakan suku bunga.

Konflik AS-Iran Bayangi Pasar

Sementara itu, sentimen geopolitik masih menjadi faktor yang membayangi pasar keuangan global. Kesepakatan damai sebelumnya antara pihak-pihak yang terlibat konflik berakhir pada pekan ini tanpa adanya upaya dari kedua pihak untuk kembali memulai perundingan. Pada saat yang sama, Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil tindakan ekonomi terhadap negara-negara yang mendukung Iran.

Trump sebelumnya mengancam akan menerapkan “perang ekonomi dan isolasi” terhadap Teheran serta memperingatkan konsekuensi bagi negara yang memberikan bantuan vital kepada Iran.

Ketegangan tersebut semakin meningkat setelah Uni Emirat Arab (UEA) menangguhkan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Kredit Indonesia Tumbuh Solid

Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan pertumbuhan kredit perbankan Indonesia masih menunjukkan kinerja positif. Kredit perbankan pada Juli 2026 tumbuh 13,58% secara tahunan (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan Juni sebesar 12,67% yoy.

Menurut Ibrahim, pertumbuhan kredit tersebut didukung oleh insentif likuiditas dan kebijakan makroprudensial Bank Indonesia (BI) yang akomodatif.

Di sisi lain, kondisi permodalan dan kualitas aset perbankan masih terjaga. Rasio kecukupan modal (CAR) berada di level 23,70%, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat sekitar 2,09% secara bruto.

Namun, sentimen domestik masih dibayangi pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia. BI mencatat transaksi berjalan pada kuartal II 2026 mengalami defisit US$12,5 miliar, setara 3,3% terhadap PDB. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan defisit kuartal I sebesar US$3,6 miliar atau 1% terhadap PDB.

Ibrahim juga menyoroti risiko inflasi pangan yang dapat muncul apabila fenomena El Niño berdampak terhadap produksi pertanian.

Kekeringan berkepanjangan berpotensi menurunkan produksi pertanian sehingga pasokan beras dan sejumlah komoditas pangan lainnya berkurang. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memicu kenaikan harga pangan.

Kenaikan harga pangan berpotensi menekan daya beli masyarakat sekaligus menurunkan tingkat kepercayaan konsumen.

Advertisements

Also Read

Tags