BANYU POS JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil menunjukkan performa yang sangat impresif sepanjang pekan ini. Indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan, memberikan angin segar bagi para pelaku pasar dan investor domestik setelah melewati periode fluktuasi yang dinamis pada hari-hari sebelumnya.
Berdasarkan data resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diakses melalui aplikasi RTI Business, IHSG terpantau menguat sebesar 3,55% dalam kurun waktu sepekan perdagangan terakhir. Dengan kenaikan yang cukup tajam ini, IHSG kini mantap bertengger di level 6.525,69 pada penutupan perdagangan pekan ini. Pergerakan ke arah zona hijau ini mencerminkan adanya akumulasi beli yang kuat serta kembalinya kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi makro dan stabilitas pasar keuangan dalam negeri.
Kenaikan indeks yang cukup mencolok ini tidak dapat dipisahkan dari peran aktif investor asing di lantai bursa. Sepanjang pekan ini, terlihat adanya pergeseran strategi dari para pemodal internasional yang mulai kembali mengoleksi saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar (big cap), terutama dari sektor perbankan raksasa (big bank). Aksi beli bersih (net buy) oleh investor asing pada saham-saham berbobot besar ini menjadi pendorong utama yang mengangkat posisi IHSG dari tekanan koreksi sebelumnya.
Meskipun demikian, jika diakumulasikan secara keseluruhan selama sepekan perdagangan terakhir, investor asing sebenarnya masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) yang cukup besar. Berdasarkan data pasar, total nilai penjualan bersih asing mencapai Rp 1,19 triliun di seluruh pasar BEI. Angka ini menunjukkan bahwa pada hari-hari awal hingga pertengahan pekan, tekanan jual dari investor asing sempat mendominasi pasar saham Indonesia sebelum akhirnya situasi berbalik arah.
Situasi pasar mengalami titik balik yang sangat menarik menjelang akhir pekan. Pada hari Jumat, 22 Agustus 2026, investor asing justru melakukan aksi beli bersih secara masif. Nilai net buy asing pada akhir pekan tersebut tercatat mencapai Rp 974,57 miliar di seluruh pasar. Lonjakan aksi beli bersih di hari Jumat ini berhasil membalikkan sentimen negatif dan menjadi katalis utama yang mendorong IHSG ditutup menguat tajam di akhir pekan. Perubahan arah angin ini mengindikasikan bahwa saham-saham di Bursa Efek Indonesia kembali dinilai atraktif dan memiliki valuasi yang menarik untuk dikoleksi kembali oleh investor global.
Sebelumnya, pada perdagangan hari Rabu, 19 Agustus, investor asing juga sempat membukukan aksi beli bersih yang cukup signifikan di seluruh pasar dengan nilai mencapai Rp 933 miliar. Pola akumulasi beli yang terjadi secara periodik ini memperlihatkan bahwa meskipun ada tekanan jual akumulatif dalam sepekan, minat beli asing terhadap aset-aset berkualitas tinggi di Indonesia tetap sangat kuat pada hari-hari tertentu, khususnya saat harga saham dinilai telah terdiskon secara teknis.
Fenomena masuknya kembali dana asing ke pasar saham domestik ini sangat dipengaruhi oleh pergerakan saham-saham big cap, terutama kelompok perbankan besar atau big banks seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Sektor perbankan di Indonesia memang selalu menjadi motor penggerak utama indeks karena memiliki bobot kapitalisasi pasar yang sangat besar terhadap IHSG. Ketika investor asing mulai melakukan akumulasi beli pada saham-saham perbankan ini, dampak instannya langsung terasa pada kenaikan angka indeks secara keseluruhan.
Selain sektor perbankan, investor asing juga terlihat sangat aktif mengoleksi saham-saham di sektor komoditas, energi, dan mineral. Langkah diversifikasi portofolio oleh asing ini mencerminkan optimisme mereka terhadap kinerja fundamental emiten-emiten tersebut di tengah dinamika ekonomi global yang terus berkembang.
Untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai arah aliran dana asing sepanjang pekan ini, berikut adalah ulasan mendalam mengenai 10 saham dengan nilai beli bersih (net buy) terbesar oleh investor asing berdasarkan data resmi dari RTI Business:
1. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
Saham DSSA menempati posisi puncak sebagai saham yang paling banyak diborong oleh investor asing selama sepekan terakhir. Nilai beli bersih asing pada saham ini sangat fantastis, yakni mencapai Rp 1,05 triliun. Angka akumulasi yang menembus triliunan rupiah ini menunjukkan adanya ketertarikan yang luar biasa dari pemodal internasional terhadap prospek bisnis dan kinerja fundamental perusahaan ini. Pergerakan harga saham DSSA pun menjadi salah satu fokus perhatian utama para pelaku pasar, sebagaimana tercermin dalam analisis teknikal DSSA Chart by TradingView yang menunjukkan tren pergerakan yang sangat dinamis.
2. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
Di posisi kedua, terdapat emiten pertambangan tembaga dan emas raksasa, PT Amman Mineral Internasional Tbk. Saham dengan kode emiten AMMN ini berhasil mencatatkan nilai net buy asing sebesar Rp 287,89 miiar selama sepekan perdagangan. Ketertarikan asing pada AMMN tidak lepas dari skala operasional perusahaan yang besar serta prospek komoditas logam dasar dan mulia yang dinilai masih sangat menjanjikan di pasar global.
3. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
Sebagai salah satu pilar utama sektor perbankan nasional, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk menempati peringkat ketiga dengan nilai beli bersih asing mencapai Rp 249,28 miliar. Masuknya dana asing ke saham BBRI menunjukkan bahwa investor global masih menaruh kepercayaan yang sangat tinggi terhadap kinerja penyaluran kredit dan profitabilitas bank pelat merah yang berfokus pada sektor UMKM ini.
4. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
Tidak kalah dari pesaingnya, bank swasta terbesar di Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk, juga menjadi sasaran koleksi investor asing dengan nilai net buy sebesar Rp 221,66 miliar selama sepekan. BBCA selama ini dikenal memiliki fundamental keuangan yang sangat solid, rasio kredit bermasalah yang rendah, serta efisiensi operasional yang tinggi, menjadikannya salah satu saham wajib (core holding) bagi investor institusi asing yang masuk ke pasar modal Indonesia.
5. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
Emiten pertambangan BUMN, PT Aneka Tambang Tbk, mencatatkan nilai beli bersih asing sebesar Rp 220,08 miliar sepanjang pekan ini. ANTM, yang memiliki lini bisnis utama di sektor nikel, emas, dan bauksit, terus menarik minat investor asing seiring dengan peran strategisnya dalam rantai pasok industri hilirisasi mineral dan ekosistem kendaraan listrik yang tengah berkembang.
6. PT Timah Tbk (TINS)
Emiten pertambangan timah pelat merah, PT Timah Tbk, juga masuk dalam daftar buruan investor asing pekan ini dengan nilai net buy mencapai Rp 189,51 miliar. Permintaan global terhadap timah yang tetap stabil serta perbaikan tata kelola industri pertambangan timah domestik tampaknya menjadi stimulus positif yang mendorong asing untuk menaruh dana mereka di saham TINS.
7. PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB)
Saham produsen emas PT J Resources Asia Pasifik Tbk mencatatkan nilai beli bersih asing sebesar Rp 131,24 miliar. Kenaikan harga emas dunia yang sering kali menjadi aset pelindung nilai (safe haven) turut memberikan dampak positif secara tidak langsung terhadap minat investor asing untuk mengoleksi saham produsen emas seperti PSAB.
8. PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK)
Di peringkat kedelapan, saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk berhasil menarik perhatian pemodal asing dengan catatan net buy sebesar Rp 128,43 miliar sepanjang pekan perdagangan. Kehadiran emiten ini dalam jajaran top net buy menunjukkan adanya diversifikasi minat asing ke sektor-sektor non-komoditas tradisional dan perbankan.
9. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
Produsen nikel terkemuka, PT Vale Indonesia Tbk, mencatatkan nilai beli bersih asing sebesar Rp 43,29 miliar selama sepekan terakhir. Sebagai salah satu produsen nikel dengan biaya produksi terendah dan komitmen ESG yang kuat, INCO tetap mempertahankan daya tariknya di mata investor asing yang berfokus pada investasi berkelanjutan.
10. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
Melengkapi daftar sepuluh besar saham yang paling banyak dikoleksi asing pekan ini adalah PT Bumi Resources Minerals Tbk. Saham BRMS mencatatkan nilai net buy asing sebesar Rp 41,83 miliar. Pengembangan proyek-proyek tambang emas baru yang dimiliki oleh BRMS tampaknya terus dipantau secara positif oleh investor asing sebagai potensi pertumbuhan kinerja keuangan di masa mendatang.
Secara keseluruhan, data transaksi investor asing sepanjang pekan ini menyajikan dinamika yang sangat menarik bagi para pengamat pasar modal. Di satu sisi, adanya angka net sell akumulatif sebesar Rp 1,19 triliun menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia sempat mengalami tekanan jual yang cukup masif di awal pekan. Tekanan jual seperti ini biasanya dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) atau penyesuaian portofolio global akibat sentimen ketidakpastian ekonomi di tingkat global.
Namun, di sisi lain, lonjakan net buy yang terjadi pada hari Rabu sebesar Rp 933 miliar dan hari Jumat sebesar Rp 974,57 miliar membuktikan bahwa pasar saham domestik memiliki daya lentur (resilience) yang sangat kuat. Ketika harga-harga saham terkoreksi ke level yang dinilai cukup murah, investor asing tidak ragu untuk segera masuk kembali dan melakukan akumulasi beli dalam jumlah besar. Pola pergerakan seperti ini sering kali menjadi indikator awal dari pembentukan tren naik yang lebih berkelanjutan bagi IHSG.
Fakta bahwa saham-saham seperti DSSA memimpin dengan nilai transaksi net buy yang sangat dominan (Rp 1,05 triliun) juga mengindikasikan adanya transaksi strategis atau ketertarikan khusus pada korporasi tertentu yang mampu mengalahkan volume transaksi di saham-saham blue-chip konvensional lainnya. Perpaduan antara akumulasi pada saham-saham komoditas tambang (seperti AMMN, ANTM, TINS, PSAB, INCO, dan BRMS) serta saham perbankan utama (BBRI dan BBCA) menunjukkan bahwa strategi investasi asing saat ini sangat seimbang antara sektor defensif yang memiliki arus kas kuat dan sektor komoditas yang menawarkan potensi pertumbuhan tinggi.
Dengan posisi IHSG yang kini berada di level 6.525,69 setelah menguat 3,55%, para pelaku pasar domestik tentu akan terus memantau apakah konsistensi aksi beli bersih asing yang terjadi di akhir pekan ini dapat terus berlanjut pada pekan perdagangan berikutnya. Aliran dana masuk (capital inflow) dari investor asing tetap menjadi salah satu variabel paling krusial yang menentukan arah pergerakan indeks saham di Indonesia ke depan.




