Lima ETF emas kompak menguat, begini strategi investor ritel

Hikma Lia

Perkembangan instrumen investasi di pasar keuangan Indonesia terus menunjukkan dinamika yang menarik, khususnya dengan kehadiran produk investasi kolektif berbasis komoditas di pasar modal. Pada perdagangan hari Jumat, 21 Agustus 2026, sebanyak lima produk exchange traded fund (ETF) berbasis emas mencatatkan pergerakan positif dengan kompak menguat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pergerakan serempak ini menarik perhatian pelaku pasar, mengingat kelima instrumen investasi tersebut baru saja memulai debut perdagangan perdananya di bursa pada tanggal 10 Agustus 2026 yang lalu.

Advertisements

Berdasarkan data transaksi dari Stockbit, Premier ETF Gold Sharia Indonesia dengan kode emiten XGLD memimpin penguatan dengan mencatatkan kenaikan paling signifikan pada perdagangan akhir pekan tersebut. Harga unit XGLD melonjak sebesar 2,71 persen, yang membawa nilai per unitnya parkir di level Rp 265. Kinerja positif ini kemudian diikuti oleh Trimegah Syariah ETF Emas dengan kode perdagangan XTRA yang mengalami kenaikan sebesar 1,54 persen menjadi Rp 264 per unit.

Di posisi berikutnya, Syailendra ETF Sharia Gold yang diperdagangkan dengan kode XSGO juga menunjukkan taji dengan menguat sebesar 1,34 persen, sehingga harganya meningkat menjadi Rp 1.058 per unit. Sementara itu, Mandiri ETF Emas dengan kode XMES mencatatkan apresiasi sebesar 0,59 persen dan ditutup pada level Rp 855 per unit. Melengkapi jajaran produk yang menghijau, BRI MI Gold ETF Syariah dengan kode perdagangan XDES turut menguat tipis sebesar 0,20 persen ke posisi Rp 1.000 per unit.

Advertisements

Kehadiran kelima produk ETF emas ini memberikan warna baru bagi industri reksa dana dan pasar modal di tanah air. Secara rinci, kelima produk tersebut terdiri dari Trimegah Syariah ETF Emas (XTRA), Mandiri ETF Emas (XMES), BRI MI Gold ETF Syariah (XDES), Syailendra ETF Sharia Gold (XSGO), serta Premier ETF Gold Sharia Indonesia (XGLD). Keberadaan produk-produk ini memperluas opsi bagi para pemodal yang ingin mengombinasikan kepemilikan aset aman (safe haven) seperti emas dengan fleksibilitas transaksi layaknya saham biasa di bursa.

Pekan Kedua Perdagangan, ETF Emas Masih dalam Fase Price Discovery

Meskipun kelima ETF emas ini menunjukkan tren pergerakan harga yang positif pada akhir pekan tersebut, instrumen ini sejatinya masih berada dalam tahap awal perkembangan di pasar sekunder. Memasuki pekan kedua sejak peluncuran perdananya, produk-produk ETF berbasis emas ini dinilai masih berada dalam fase penemuan harga atau yang biasa dikenal dengan istilah price discovery. Fase ini merupakan periode krusial di mana pasar sedang berusaha mencari titik keseimbangan harga yang wajar berdasarkan interaksi langsung antara permintaan (demand) dan penawaran (supply) dari para pelaku pasar di bursa.

Dalam situasi pasar yang masih baru ini, investor ritel di Indonesia sebenarnya telah disuguhkan dengan berbagai alternatif pilihan untuk mendapatkan eksposur terhadap pergerakan harga emas melalui mekanisme perdagangan yang praktis di BEI. Kendati demikian, pola investasi atau perilaku transaksi dari investor ritel domestik terhadap instrumen ETF emas ini dinilai masih belum terlihat jelas dan konsisten.

Financial Planner sekaligus CEO dan Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, memberikan pandangannya mengenai perkembangan awal dari instrumen investasi ini. Menurut Melvin, pola investasi masyarakat atau investor ritel di Indonesia terhadap ETF emas masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat terbentuk dan terlihat polanya secara mapan. Karakteristik pasar domestik yang masih dalam tahap edukasi mengenai produk ETF menjadi salah satu faktor penentu lambatnya pembentukan pola tersebut.

Kondisi pasar di Indonesia ini dinilai cukup kontras jika dibandingkan dengan pasar keuangan di negara-negara yang lebih maju, salah satunya adalah Korea Selatan. Melvin menjelaskan bahwa di pasar Korea Selatan, pola pembelian dan investasi pada produk ETF emas sudah sangat terbentuk dan terstruktur dengan baik. Investor ritel di negeri ginseng tersebut cenderung melakukan transaksi pembelian unit ETF emas secara berkala dan konsisten dari waktu ke waktu.

Melihat perbedaan kondisi tersebut, Melvin memilih untuk mengambil sikap yang lebih berhati-hati dalam mengamati perkembangan pasar domestik. Ia menyatakan masih mengambil sikap menunggu dan memperhatikan bagaimana perilaku investor ritel di Indonesia dalam merespons kehadiran produk ETF emas ini ke depannya.

Lebih lanjut, Melvin membagikan pengalamannya berdasarkan hasil wawancara langsung yang pernah dilakukannya dengan beberapa warga negara Korea Selatan mengenai kebiasaan investasi mereka. Dari diskusi tersebut terungkap bahwa sebagian besar investor ritel di Korea Selatan memanfaatkan strategi investasi yang sangat populer, yaitu dollar cost averaging (DCA), ketika mereka membeli produk ETF emas.

Strategi dollar cost averaging (DCA) sendiri merupakan sebuah metode investasi yang dijalankan dengan cara membeli suatu aset secara konsisten dan berkala dalam jangka waktu tertentu dengan menggunakan nominal uang yang tetap. Strategi ini dinilai sangat efektif bagi investor ritel karena memungkinkan mereka untuk melakukan akumulasi aset secara bertahap tanpa harus merasa terbebani untuk menebak-nebak kapan waktu terbaik (timing) untuk masuk ke pasar guna menempatkan seluruh dana investasi mereka sekaligus.

DPLK Syariah Muamalat Jadi Investor Pertama ETF Emas XGLD

Di tengah proses adaptasi pasar ritel terhadap instrumen baru ini, langkah institusional justru sudah mulai terlihat di lantai bursa. Salah satu momentum penting dalam peluncuran instrumen ini adalah masuknya Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Syariah Muamalat sebagai investor perdana atau investor pertama yang menempatkan dananya pada produk ETF emas berkode XGLD (Premier ETF Gold Sharia Indonesia). Masuknya investor institusi seperti DPLK Syariah Muamalat ini memberikan sinyal awal mengenai validitas dan potensi jangka panjang dari instrumen ETF berbasis emas di Indonesia.

Meskipun kehadiran investor institusi memberikan dukungan awal yang baik, Melvin Mumpuni mengingatkan bahwa pola pembelian institusi belum tentu akan merepresentasikan atau diikuti dengan pola yang sama oleh investor ritel di Indonesia. Perilaku transaksional dari para pemodal individu atau ritel terhadap instrumen ETF emas ini masih harus terus dipantau dan dianalisis untuk melihat bagaimana perkembangannya ke depan.

Dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, Melvin menekankan dengan sangat kuat agar para investor ritel tidak hanya terpaku pada nominal harga per unit ETF emas saat memutuskan untuk melakukan transaksi pembelian. Ada berbagai variabel teknis dan biaya lain yang jauh lebih penting untuk dianalisis secara mendalam demi menghindari kesalahan dalam berinvestasi.

Menurut Melvin, para investor, khususnya dari kalangan ritel, wajib memberikan perhatian ekstra pada beberapa aspek penting. Aspek-aspek tersebut meliputi besaran biaya pengelolaan, selisih antara harga penawaran beli dan penawaran jual (bid-offer spread), tingkat likuiditas perdagangan di pasar sekunder, serta karakteristik unik yang melekat pada masing-masing produk ETF emas yang ditawarkan oleh para manajer investasi.

Satu hal teknis yang juga perlu dipahami oleh para pelaku pasar adalah bahwa harga transaksi ETF di pasar sekunder tidak selalu bergerak beriringan secara sempurna atau bernilai sama dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit dari reksa dana tersebut. Adanya deviasi atau perbedaan antara harga pasar sekunder dan NAB ini sangat dipengaruhi oleh dinamika kekuatan permintaan dan penawaran yang terjadi di lantai bursa secara real-time, serta tingkat likuiditas dari perdagangan unit ETF itu sendiri di pasar.

Sementara itu, Perencana Keuangan dari Finansia Consulting, Eko Endarto, memberikan analisis mengenai korelasi erat antara kinerja ETF emas dengan aset dasarnya (underlying asset). Menurut penilaian Eko, prospek masa depan dari kelima produk ETF emas ini pada dasarnya akan sangat bergantung dan berkaitan erat dengan pergerakan harga emas fisik itu sendiri di pasar.

Eko berpendapat bahwa kecenderungan harga emas yang secara historis terus menunjukkan tren peningkatan akan menjadi katalis positif yang sangat kuat bagi kinerja produk ETF emas di masa mendatang. Di Indonesia sendiri, emas telah lama dikenal sebagai salah satu instrumen investasi dengan rekam jejak kenaikan harga yang konsisten dalam jangka panjang, sehingga menjadikannya pilihan utama untuk investasi masa depan.

Secara umum, produk derivatif atau produk indeks yang melacak aset tertentu dipastikan akan mengikuti pergerakan produk intinya, yang dalam hal ini adalah emas fisik. Dengan melihat tren pergerakan harga emas yang cenderung terus naik dan meningkat dari waktu ke waktu, prospek dari produk investasi ETF emas ini diyakini akan berjalan dengan sangat baik seiring berjalannya waktu.

ETF Emas Dapat Menjadi Pilihan Diversifikasi Portofolio di Tengah Harga Emas Tinggi

Walaupun prospek jangka panjangnya dinilai sangat menjanjikan berkat dukungan performa emas sebagai aset dasar, Eko Endarto tetap memberikan catatan penting terkait tata kelola instrumen ini. Ia menekankan pentingnya profesionalisme pengelolaan dana oleh manajer investasi serta tingkat transparansi produk yang tinggi agar dapat memberikan rasa aman dan kepercayaan bagi para pemodal.

Bagi para investor ritel yang tertarik untuk masuk ke instrumen ini, Eko menyarankan agar strategi eksekusi pembelian tetap harus diselaraskan dengan tujuan keuangan jangka panjang serta profil risiko masing-masing individu. Kehadiran lima pilihan produk ETF emas di bursa saat ini memberikan kemudahan luar biasa bagi investor untuk melakukan diversifikasi portofolio investasi mereka.

Melalui instrumen ini, investor kini memiliki alternatif yang sangat praktis untuk mendapatkan eksposur investasi pada komoditas emas tanpa harus menghadapi kerumitan fisik, seperti urusan penyimpanan di brankas keamanan maupun risiko kehilangan emas batangan secara langsung. Namun demikian, perkembangan nyata dari aktivitas transaksi dan pola investasi yang terbentuk di kalangan investor ritel terhadap instrumen ETF emas ini masih harus terus dicermati secara saksama seiring dengan berjalannya waktu dan meningkatnya volume perdagangan di Bursa Efek Indonesia.

Advertisements

Also Read

Tags