Harga minyak turun US$ 2 per barel meski AS perketat sanksi Iran, ini pemicunya

Hikma Lia

BANYU POS  NEW YORK. Harga minyak mentah turun lebih dari US$ 2 per barel pada perdagangan Senin (24/8/2026), meski Amerika Serikat memperluas sanksi terhadap Iran.

Advertisements

Investor memilih merealisasikan keuntungan setelah harga minyak mencatat kenaikan lebih dari 5% dalam dua pekan terakhir.

Harga Brent ditutup turun US$2,22 atau 2,35% menjadi US$ 92,17 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 2,05 atau 2,35% menjadi US$ 85,01 per barel.

Advertisements

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan perluasan sanksi sekunder terhadap entitas dan negara yang masih memiliki hubungan bisnis dengan Iran.

Harga Minyak Naik Imbas Trump Ancam Kenakan Sanksi Bagi Mitra Dagang Iran

Langkah ini menjadi bagian dari tekanan ekonomi Washington terhadap Teheran ketika perang memasuki hampir bulan keenam.

Namun, pasar menilai kebijakan tersebut belum memberikan kejutan baru. Investor juga mulai mengambil keuntungan setelah harga minyak menguat lebih dari 5% pada pekan lalu.

“Pasar minyak yang telah menguat cukup banyak pekan lalu kini mengalami aksi ambil untung,” kata Pavel Molchanov, analis strategi investasi Raymond James.

Menurutnya, pelaku pasar masih menunggu seberapa jauh pemerintahan Donald Trump akan memperketat dan menjalankan sanksi terhadap Iran.

Dampaknya terhadap pasokan minyak Iran juga sangat bergantung pada respons negara-negara yang masih membeli minyak dari Teheran, terutama China.

Harga Minyak turun Jumat (21/8) Pagi, Tapi Berpotensi Catat Kenaikan Mingguan

Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy Jorge Leon menilai dampak tambahan sanksi terhadap pendapatan minyak Iran berpotensi terbatas jika China tidak mengurangi pembeliannya secara signifikan.

Di sisi lain, kondisi lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih menjadi perhatian pasar. Jalur yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global itu masih mengalami pembatasan akibat blokade Iran dan AS.

Data pengiriman menunjukkan kurang dari 20 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan. Meski demikian, sejumlah perusahaan masih mampu mengalirkan minyak melalui jalur tersebut.

CEO TotalEnergies Patrick Pouyanne mengatakan perusahaannya masih dapat mengangkut minyak melalui Selat Hormuz secara menguntungkan. Biaya transportasi yang lebih tinggi tertutupi oleh diskon besar dari produsen minyak.

Analis SEB Bjarne Schieldrop menilai harga Brent yang masih berada di sekitar US$v93 menunjukkan pasokan minyak dari Teluk Persia masih mengalir.

“Brent US$93, bukan US$120-US$150, menunjukkan cukup banyak minyak masih mengalir,” ujarnya.

Harga Minyak Lanjut Menguat Kamis (20/8) Pagi, Dipicu Ancaman Perang Ekonomi AS-Iran

Menurut Schieldrop, situasi dapat berubah drastis jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz menggunakan rudal dan drone.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Morgan Stanley menaikkan proyeksi harga minyak Brent dan memperkirakan harga dapat mencapai US$100 per barel pada kuartal IV 2026.

Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) belum membahas rencana pelepasan minyak tambahan dari cadangan strategis. Kepala IEA Fatih Birol mengatakan belum ada pembicaraan mengenai pelepasan cadangan minyak tahap kedua.

Advertisements

Also Read

Tags