Bos Telkom sebut Indonesia berpotensi jadi pesaing bisnis AI Asia Pasifik

Hikma Lia

Indonesia diprediksi bakal menjadi pesaing para pemain bisnis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kawasan Asia Pasifik. Presiden Direktur Telkom Indonesia Dian Siswarini menyebut peluang itu datang didukung oleh pertumbuhan ekonomi digital dan tingginya adopsi teknologi di dalam negeri.

Advertisements

“Memang kami melihat bahwa Indonesia ini memiliki peluang yang luar biasa sebagai pesaing bagi para pemain di kawasan Asia Pasifik,” kata Dian dalam acara konferensi pers BATIC 2026 di Nusa Dua, Bali, Selasa (25/8).

Menurut dia, peluang tersebut semakin besar di tengah agresifnya negara-negara di kawasan dalam berinvestasi pada teknologi AI. Indonesia dinilai memiliki modal berupa pasar digital yang besar dan terus berkembang.

Advertisements

Dian menyebut nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan menembus lebih dari US$ 130 miliar pada 2026. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari US$ 360 miliar pada 2030.

Baca juga:

  • Anak Usaha TLKM Telin Bidik Ekspansi Kabel Laut ke Afrika hingga Amerika Latin
  • Telkom (TLKM) Kumpulkan Ribuan Pebisnis Digital Global di Bali, Bahas Apa Saja?
  • Telkom, Indosat, hingga DCI Indonesia Berebut Cuan dari Ledakan Data Center

Dia mengatakan besarnya potensi pasar tersebut perlu diikuti dengan pembangunan infrastruktur digital yang memadai. Tanpa dukungan infrastruktur, potensi ekonomi digital Indonesia dikhawatirkan hanya akan menjadi peluang yang belum terealisasi.

“Potensi tersebut hanya akan remain sebagai potensi kalau kita tidak bisa menerjemahkan potensi tersebut ke dalam infrastruktur digital yang mumpuni, mulai dari konektivitas hingga platform yang berstandar internasional,” ujarnya.

Selain pertumbuhan pasar domestik, Dian melihat peningkatan adopsi digital masyarakat turut mendorong kebutuhan transformasi digital di berbagai sektor. Kebutuhan tersebut mencakup pemerintah, BUMN, pemerintah daerah, sektor swasta hingga usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Menurut Dian, perkembangan tersebut akan memperkuat fondasi ekonomi digital Indonesia sekaligus membuka ruang pertumbuhan bagi industri digital dan AI.

Namun, dia menilai pembangunan daya saing digital tidak cukup hanya mengandalkan kecepatan atau besarnya investasi dalam membangun infrastruktur. Indonesia juga perlu membangun ekosistem digital yang melibatkan berbagai pelaku industri.

“Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita membangun the whole ecosystem, karena tanpa ekosistem yang terbangun di semua sisinya tentu inovasi, kolaborasi, dan juga penciptaan nilai berkelanjutan barangkali tidak bisa dicapai,” kata Dian.

Dian melanjutkan Telkom ingin mengambil peran dalam pengembangan ekosistem tersebut melalui kolaborasi dengan berbagai pelaku industri digital. Perseroan tidak hanya membidik posisi sebagai penyedia layanan di pasar domestik, tetapi juga ingin memperluas perannya di tingkat regional.

“Kami bukan hanya ingin menjadi penyedia di Indonesia tetapi juga di regional dan menghubungkan Indonesia ke the rest of the world,” ujarnya.

Dian mengatakan peningkatan partisipasi dalam BATIC menjadi salah satu indikasi semakin luasnya kolaborasi industri digital yang melibatkan Indonesia. Pada tahun ini, jumlah delegasi BATIC mencapai lebih dari 2.700 orang dari 67 negara, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 1.800 delegasi dari 55 negara.

Selain itu, lebih dari 4.200 pertemuan bisnis tercatat berlangsung dalam BATIC 2026. Menurut Dian, tingginya jumlah pertemuan tersebut menunjukkan besarnya peluang kolaborasi antarpelaku industri digital untuk menciptakan nilai baru.

Advertisements

Also Read

Tags