IHSG anjlok 1,48%, simak rekomendasi saham INDF, INKP dan DSNG

Hikma Lia

Perkembangan terbaru dari pasar modal dalam negeri menunjukkan adanya tekanan jual yang cukup signifikan yang melanda pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam pada akhir perdagangan hari Rabu, 26 Agustus 2026. Berdasarkan data resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diakses melalui RTI Business, indeks acuan pasar saham tanah air tersebut mengalami koreksi sebesar 1,48 persen atau terpangkas sebanyak 95,96 poin, sehingga parkir di level 6.405,68 pada akhir sesi perdagangan.

Advertisements

Aktivitas transaksi di lantai bursa terpantau sangat ramai dan dinamis sepanjang hari. Total volume perdagangan saham yang tercatat di BEI mencapai angka yang sangat besar, yakni sebanyak 41,53 miliar lembar saham. Dari volume transaksi yang masif tersebut, akumulasi nilai transaksi yang tercipta menyentuh angka Rp 17,97 triliun. Tingginya nilai transaksi ini mencerminkan tingginya likuiditas sekaligus besarnya tekanan distribusi atau aksi jual yang terjadi di pasar sepanjang hari perdagangan tersebut.

Kondisi pasar secara keseluruhan didominasi oleh tren bearish yang sangat kuat. Hal ini tercermin dengan jelas dari sebaran pergerakan harga saham individual, di mana sebanyak 583 saham ditutup melemah dan menjadi beban berat yang menyeret turun pergerakan IHSG. Di sisi lain, hanya ada 118 saham yang berhasil mencatatkan penguatan atau ditutup di zona hijau, sementara 89 saham lainnya bergerak stagnan alias tidak mengalami perubahan harga dibandingkan dengan hari sebelumnya.

Advertisements

Di tengah fluktuasi pasar yang cukup tajam ini, para pelaku pasar juga sedang mencermati berbagai sentimen eksternal dan domestik yang berpotensi memengaruhi pergerakan instrumen keuangan lainnya. Salah satunya adalah proyeksi pergerakan nilai tukar Rupiah untuk hari Kamis, 26 Agustus, yang diperkirakan akan bergerak stabil. Fokus perhatian para investor saat ini tertuju pada pidato penting dari Warsh serta rilis data ekonomi krusial berupa data Personal Consumption Expenditures (PCE). Data PCE ini sangat dinantikan oleh para pelaku pasar global karena merupakan salah satu indikator inflasi utama yang menjadi acuan kebijakan moneter global.

Selain sentimen mata uang dan data inflasi, pasar komoditas juga turut memberikan pengaruh psikologis bagi para investor saham di dalam negeri. Adanya risiko gangguan pada jalur produksi minyak mentah global diprediksi akan membuat harga minyak dunia tetap berada dalam kondisi yang volatil atau bergejolak. Ketidakpastian di sektor energi ini tentu memberikan dampak tidak langsung terhadap emiten-emiten yang berbasis komoditas dan energi di bursa domestik.

Dinamika pasar menjelang pekan depan juga diperkirakan akan semakin menarik seiring dengan adanya agenda rebalancing atau penyesuaian bobot indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International). Proses rebalancing indeks global ini biasanya memicu penataan ulang portofolio oleh para manajer investasi asing dan institusi besar, yang pada gilirannya akan memengaruhi arah pergerakan arus modal asing dan IHSG secara keseluruhan.

Menghadapi tekanan jual yang cukup masif pada indeks acuan, para pelaku pasar dan investor ritel disarankan untuk tetap tenang dan menyusun strategi perdagangan yang disiplin. Di tengah volatilitas yang tinggi ini, sejumlah analis pasar modal terkemuka telah merumuskan rekomendasi teknikal untuk beberapa saham pilihan yang dinilai memiliki pola pergerakan menarik untuk perdagangan hari Kamis, 27 Agustus 2026.

1. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)

Rekomendasi pertama datang dari VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, yang memberikan ulasan mendalam mengenai saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk dengan kode emiten INDF. Menurut analisisnya, pergerakan harga saham INDF saat ini terpantau masih berada dalam fase konsolidasi atau bergerak mendatar (sideways). Area pergerakan sideways ini dibatasi oleh rentang harga antara Rp 7.200 sebagai area batas bawah hingga Rp 7.425 sebagai area batas atas (resistance).

Secara teknikal, pergerakan harga saham INDF sebenarnya masih mampu bertahan di atas garis rata-rata bergerak 10 hari atau Moving Average 10 (MA10) yang saat ini berada di level 7.233. Hal ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, tren naik minor masih mencoba untuk bertahan. Namun, para investor perlu meningkatkan kewaspadaan karena indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) mulai memperlihatkan tanda-tanda tren pelemahan momentum. Pelemahan momentum ini juga terkonfirmasi oleh indikator Relative Strength Index (RSI) yang menunjukkan grafik pergerakan menurun, mengindikasikan adanya pengurangan tekanan beli di pasar.

Dengan mempertimbangkan kondisi teknikal tersebut, Oktavianus Audi menyarankan para pelaku pasar untuk mengambil sikap wait and see terlebih dahulu. Langkah pembelian atau buy direkomendasikan secara selektif apabila harga saham INDF berhasil menembus ke atas atau breakout dari level resistance kuatnya di Rp 7.425. Jika skenario breakout ini berhasil terjadi, maka target kenaikan harga berikutnya diperkirakan akan menuju ke level resistance selanjutnya di Rp 7.600. Namun, investor juga harus disiplin dalam melakukan pembatasan risiko atau stop loss apabila harga justru berbalik arah dan turun melewati batas support di level Rp 7.100. Pada perdagangan hari Rabu, 26 Agustus 2026, saham INDF sendiri ditutup mengalami pelemehan sebesar 1,35 persen, berakhir di level Rp 7.725 per lembar saham.

  • Rekomendasi: Wait and see, buy jika menembus resistance 7.425
  • Support: Rp 7.100
  • Resistance: Rp 7.425
  • Target: Rp 7.600

Analisis ini disusun oleh Oktavianus Audi, selaku VP Equity Retail dari Kiwoom Sekuritas Indonesia.

2. PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)

Rekomendasi saham berikutnya berfokus pada emiten produsen kertas terkemuka, yaitu PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk dengan kode saham INKP. Berdasarkan pemaparan dari Technical Analyst Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova, saham INKP menunjukkan indikasi teknikal yang cukup positif di tengah koreksi pasar secara umum. Saham ini dinilai memiliki peluang atau potensi yang cukup besar untuk bergerak naik menuju target proyeksi analisis Fibonacci yang berada di level Rp 9.250.

Peluang kenaikan menuju target Fibonacci tersebut tetap terbuka lebar dengan syarat harga saham INKP mampu mempertahankan posisinya dan tidak jatuh di bawah level support minor yang berada di angka Rp 8.400. Dari sisi indikator teknikal, indikator MACD juga memberikan sinyal yang mendukung skenario kenaikan ini dengan menunjukkan adanya momentum bullish yang cukup kuat pada saham INKP. Momentum bullish ini mengindikasikan bahwa minat beli pelaku pasar terhadap saham ini masih terjaga dengan baik.

Pada penutupan perdagangan hari Rabu, 26 Agustus 2026, pergerakan harga saham INKP tercatat ditutup stagnan, tidak mengalami perubahan dari hari sebelumnya, dan bertahan di level Rp 8.725 per lembar saham. Melihat stabilitas harga ini di tengah penurunan tajam IHSG, mempertahankan kepemilikan saham menjadi opsi yang rasional bagi para investor.

  • Rekomendasi: Hold
  • Support: Rp 8.400
  • Resistance: Rp 9.200
  • Target: Rp 9.250

Analisis teknikal ini disampaikan oleh Ivan Rosanova, yang menjabat sebagai Technical Analyst di Binaartha Sekuritas.

3. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)

Sementara itu, rekomendasi ketiga datang dari Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, yang menyoroti pergerakan saham emiten perkebunan dan industri kayu, PT Dharma Satya Nusantara Tbk dengan kode saham DSNG. Berbeda dengan mayoritas saham di bursa yang mengalami tekanan hebat, saham DSNG justru tampil perkasa dengan mencatatkan penguatan sebesar 0,68 persen, sehingga berhasil ditutup di level Rp 1.470 per lembar saham pada perdagangan hari Rabu, 26 Agustus 2026.

Herditya menjelaskan bahwa pergerakan harga saham DSNG saat ini masih didominasi oleh akumulasi volume pembelian yang cukup signifikan dari para pelaku pasar. Berkat dorongan volume beli tersebut, saham DSNG juga telah berhasil menembus ke atas garis rata-rata bergerak jangka panjang atau Moving Average 200 (MA200). Keberhasilan melewati garis MA200 ini merupakan sinyal teknikal yang sangat penting karena sering kali menandakan perubahan tren jangka panjang menuju arah yang lebih optimis atau bullish.

Berdasarkan perhitungan analisis teknikal menggunakan metode gelombang (wave theory), posisi pergerakan saham DSNG saat ini diperkirakan sedang berada di dalam bagian dari wave 5 dari wave (A). Dalam teori Elliot Wave, posisi ini mengindikasikan bahwa harga saham masih berada dalam siklus kenaikan yang berpotensi berlanjut sebelum memasuki fase koreksi berikutnya. Oleh karena itu, strategi trading buy dinilai sangat cocok untuk diterapkan pada saham ini dengan memperhatikan batasan support di level Rp 1.440 dan target resistance terdekat di level Rp 1.520.

  • Rekomendasi: Trading Buy
  • Support: Rp 1.440
  • Resistance: Rp 1.520

Analisis teknikal ini direkomendasikan oleh Herditya Wicaksana, Head of Retail Research di MNC Sekuritas.

Advertisements

Also Read

Tags