Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan saat ini terdapat total tujuh calon emiten yang mengantre untuk mencatatkan perdana sahamnya atau initial public offering (IPO). Ketujuh perusahaan itu berasal dari berbagai sektor dengan ukuran aset yang beragam.
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Saidu Solihin mengatakan, berdasarkan klasifikasi aset perusahaan yang merujuk pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017, terdapat tiga perusahaan dalam pipeline tergolong skala besar. Aset masing-masing calon emiten itu bernilai di atas Rp 250 miliar.
Berikutnya, terdapat dua perusahaan aset skala menengah atau aset antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar. Sementara perusahaan skala kecil atau aset di bawah Rp 50 miliar terdapat dua dalam pipeline.
“Sampai dengan 28 Agustus 2026 telah tercatat 7 perusahaan yang mencatatkan saham di BEI dengan dana dihimpun Rp 2,16 triliun,” tulis Saidu dalam laporannya, Jumat (28/8).
Perincian calon emiten yang tengah mengantre IPO berdasarkan sektornya:
- 1 perusahaan dari sektor industri,
- 4 perusahaan dari sektor kesehatan,
- 1 perusahaan dari sektor energi,
- 1 perusahaan dari sektor konsumer non siklikal.
Danantara Sebut Bakal Bawa BUMN Jumbo IPO
Seiring dengan itu, sebelumnya Chief Operating Officer (COO) Danantara yang juga Kepala BP BUMN, Dony Oskaria mengatakan, rencana IPO sejumlah perusahaan pelat merah menjadi bagian dari strategi menciptakan nilai dan memperdalam pasar modal Indonesia. Semakin banyak perusahaan besar yang tercatat di bursa, kata dia, semakin besar pula kapitalisasi pasar dan pilihan investasi bagi investor.
Dia pun menyebut Pegadaian sebagai salah satu perusahaan potensial untuk melantai di bursa. Selain itu, ada banyak lagi BUMN yang menurutnya layak IPO, antara lain PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, hingga PT Angkasa Pura Indonesia.
“Banyak sekali perusahaan yang memang itu secara market cap bagus untuk kita IPO-kan nanti,” kata Dony seusai bertemu Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu 5 Agustus lalu.
Dony menjelaskan, agenda IPO menjadi salah satu tahapan dalam roadmap transformasi Danantara selama lima tahun ke depan. Pada tahun pertama, Danantara akan memfokuskan diri pada konsolidasi dan restrukturisasi lebih dari 1.000 perusahaan yang berada di bawah pengelolaannya.
Merespons hal itu, Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyebut pencatatan saham BUMN berfundamental kuat akan memberikan lebih banyak opsi bagi investor dalam berinvestasi di bursa. “Kami tentu menyambut baik (rencana Danantara),” ucap Jeffrey kepada Katadata, Kamis, 6 Agustus.




