Jakarta, IDN Times – S&P Dow Jones Indices menyoroti dua tren utama di pasar saham global, yakni kebangkitan sektor teknologi yang didorong perkembangan akal imitasi (Artificial Intelligence/AI) dan meningkatnya konsentrasi pada perusahaan-perusahaan besar.
Director, Global Exchange Indices di S&P Dow Jones Indices Sean Freer mengatakan, perusahaan besar kini memberi kontribusi besar terhadap imbal hasil pasar saham. Namun, konsentrasi tersebut juga membawa risiko lebih tinggi.
“Seperti contoh semikonduktor tadi, ketika mengalami penurunan (retracement), mereka dapat merusak imbal hasil pasar saham dan menarik pasar jatuh ke bawah,” kata dia dalam Fortune Indonesia Investment Forum 2026 di Jakarta pada Sabtu (29/8/2026).
1. Sektor teknologi sumbang lebih dari 55 persen imbal hasil global
Tren tersebut tidak hanya terjadi di Amerika Serikat (AS), tetapi juga terlihat secara global. Freer merujuk S&P Global 1200 yang mencakup 1.200 perusahaan sebagai salah satu indeks global utama S&P Dow Jones Indices.
Pada akhir Juni, sektor teknologi memiliki bobot 33,4 persen dalam indeks tersebut. Sementara itu, imbal hasil satu tahun S&P Global 1200 mencapai 24,9 persen per 30 Juni 2026. Dari imbal hasil tersebut, lebih dari 55 persen berasal dari sektor teknologi.
“Faktanya, perusahaan-perusahaan seperti Apple, Alphabet, produsen semikonduktor Korea seperti Samsung dan Hynix, serta TSMC dari Taiwan adalah pendorong utama imbal hasil tersebut. Lebih dari 55 persen berasal dari sektor IT saja,” ujar dia.
2. Reli semikonduktor dorong pasar Korea dan Taiwan
Di Asia, reli saham semikonduktor menjadi pendorong utama kenaikan pasar Korea Selatan dan Taiwan dalam 12 hingga 24 bulan terakhir. Namun, kedua pasar tersebut juga mengalami penurunan pada Juli.
“Hal tersebut murni didorong oleh reli semikonduktor yang kita lihat di pasar-pasar tersebut, yang juga mengalami sedikit penurunan pada bulan Juli. Terjadi sedikit penurunan pasar,” tuturnya.
Freer menyebut, sekitar 300 ribu investor Korea Selatan dilaporkan mendapat margin call dan harus menjual portofolionya dengan cepat karena menggunakan leverage berlebih pada perusahaan-perusahaan tersebut.
3. Pasar Asia makin terkonsentrasi pada sejumlah saham
Data indeks juga menunjukkan tingkat konsentrasi pasar yang berbeda di sejumlah negara Asia. Indonesia dan Singapura memiliki bobot terbesar pada sektor keuangan, sementara sektor terbesar Jepang adalah industri dan China adalah consumer discretionary.
“Jadi, Indonesia dan Singapura memiliki bobot terbesar di sektor keuangan. Jepang di sektor industri, dan Tiongkok di sektor consumer discretionary (barang konsumen non-primer),” kata dia.
Sementara itu, indeks Global 1200, Emerging, Pan Asia, dan Developed sama-sama memiliki sektor teknologi sebagai sektor terbesar. Konsentrasi juga terlihat dari lima perusahaan terbesar di Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura yang masing-masing menyumbang sekitar 60 persen hingga 70 persen dari indeks.
4. Diversifikasi lebih besar lewat eksposur pasar luas
Menurutnya, investor perlu berhati-hati ketika menggunakan leverage maupun berinvestasi pada area yang terkonsentrasi atau tematik. Dia menilai eksposur terhadap pasar yang lebih luas menjadi pilihan yang lebih aman.
Freer menyebut, investor yang menginginkan diversifikasi lebih besar dapat memilih eksposur ke pasar global, emerging, Pan Asia, atau developed.
“Anda harus beralih ke sisi kanan dan memilih pasar global, emerging, Pan Asia, atau developed, di mana lima perusahaan teratas di sana hanya mewakili sekitar 20 persen dari indeks, meskipun sektor teknologi berada di atas 30 persen,” paparnya.
S&P Dow Jones Ungkap Alasan Saham RI Masih Layak Dilirik Investor Apa Itu S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones? Kenali 3 Indeks Utama Saham AS




