BANYU POS JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak sideway sepanjang pekan ini setelah ditutup terkoreksi 0,05% secara harian ke level 6.518,12 pada Jumat (28/8/2026). Alhasil, IHSG melemah 0,12% dalam sepekan terakhir.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, sepanjang pekan ini IHSG turun 0,12% dan disertai dengan munculnya tekanan jual, namun pergerakannya masih mampu berada di atas MA20.
Dari sisi sentimen, pergerakan IHSG bergerak seiring dengan investor yang mencermati Jackson Hole Symposium yang berlangsung pada pekan ini untuk melihat arah kebijakan The Fed ke depannya. Meskipun secara probabilitas The Fed masih cenderung mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,50%-3,75%.
Pergerakan harga emas dan minyak dunia yang masih konsolidasi di tengah menurunnya tensi geopolitik Timur Tengah juga menjadi sentimen yang mempengaruhi gerak IHSG.
Erajaya Active Lifestyle Resmi Buka Under Armour Sports House di Pondok Indah Mall
“Rebalancing MSCI diperkirakan masih menjadi perhatian investor yang disebabkan masa efektif per 1 September 2026, di mana dikhawatirkan akan adanya potensi outflow yang besar,” ucap Herditya kepada Kontan, Jumat (28/8/2026).
Terbaru, Herditya bilang, IHSG dipengaruhi adanya gejolak politik dalam negeri yang menyebabkan adanya aksi demonstrasi dari masyarakat, namun sudah berangsur kondusif.
Adapun untuk Senin (31/8/2026), posisi pergerakan IHSG masih berpeluang menguat terbatas dengan support di level 6.506 dan resistance di level 6.539.
Sejumlah saham yang dinilai menarik dicermati pada pekan depan antara lain saham AMRT dengan target harga Rp 1.455-Rp 1.520), INDF dengan target harga Rp 7.450-Rp 7.650) dan LSIP yang memiliki target harga Rp 1.525-Rp 1.590.
Axmal Fauza, Junior Research Analyst Korea Investment & Sekuritas Indonesia menambahkan, investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) secara mingguan sebesar Rp 762,47 miliar pada periode 24 – 27 Agustus 2026.
“IHSG diperkirakan masih dapat melanjutkan uptrend dalam sepekan ke depan setelah berhasil bertahan di atas EMA10,” ucap Axmal.
Axmal memproyeksikan, dalam sepekan ke depan, level support pertama IHSG di 6.295 dan level support kedua di 6.175. Sedangkan potensi resistance pertama di level 6.870 dan resistance kedua di level 7.070. Dengan demikian proyeksi rentang IHSG dalam sepekan ke depan di kisaran 6.175 sampai 7.070.
Axmal bilang, terdapat sejumlah data ekonomi yang perlu dicermati pada pekan depan yang dapat mempengaruhi pergerakan IHSG. Diantaranya data ISM Manufacturing PMI Amerika Serikat, Non-Farm Payrolls AS, Retail Sales Jepang, dan NBS Manufacturing PMI China.
Kimia Farma (KAEF) Perkuat Produk Stem Cell, Genjot Bisnis Regenerative Medicine
Sedangkan dari dalam negeri, terdapat data neraca perdagangan, data inflasi, dan data kunjungan wisatawan, yang perlu dicermati investor.
Axmal menjelaskan, IDX Sector Basic Materials berpeluang melanjutkan Minor Uptrend menguji level resistance terdekat di 1.960 setelah berhasil bertahan di atas EMA10. Investor atau trader dapat memanfaatkan momentum ini untuk melakukan Entry atau Buy on Weakness.
Kemudian, IDX Sector Properties dan Real Estate berpotensi Breakdown EMA 60 dalam sepekan ke depan. Investor atau trader dapat berhati – hati mencermati kembali saham – saham yang masuk ke dalam sektor ini.
Selanjutnya, IDX Sector Consumer Non-Cyclicals masih bergerak di atas EMA 10 dan berpotensi menguji level resistance terdekat dalam sepekan ke depan di level 1.735. Investor atau trader dapat memanfaatkan momentum ini melakukan Entry atau Buy on Weakness.
Adapun terkait rekomendasi saham, Axmal melihat saham BRMS, BULL, TINS, dan TOWR menarik dicermati dalam pekan depan.




