BANYU POS JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan kinerja cemerlang pada paruh pertama tahun 2026.
Dalam rilis dari BEI, Bursa mencetak laba bersih sebesar Rp 779,97 miliar per Juni 2026, melonjak 178,83% secara tahunan (YoY) dari Rp 279,72 miliar.
Pertumbuhan laba BEI ditopang melesatnya pendapatan sebesar 56,37% (YoY) menjadi Rp 2,17 triliun dari Rp 1,39 triliun di semester I-2025.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, pertumbuhan pendapatan terutama didorong aktivitas perdagangan bursa yang meningkat yang tercermin dalam pendapatan jasa transaksi dan jasa kliring. Lalu, peningkatan laba bersih diperkuat juga oleh efisiensi beban, terutama beban administrasi.
“Reformasi pasar modal berpotensi menambah dorongan pada volume transaksi di semester II 2026 untuk menopang momentum kinerja yang sudah kuat di semester pertama,” ujarnya kepada Kontan, Senin (31/8/2026).
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy melihat, kinerja BEI semester I 2026 didorong dari tingginya aktivitas transaksi, volatilitas pasar, serta pertumbuhan jumlah investor.
Namun, kenaikan laba BEI belum otomatis berarti perbaikan pasar saham sudah menyeluruh.
“Sebab, isu seperti likuiditas, free float, kualitas emiten, dan kepercayaan investor asing masih menjadi pekerjaan rumah,” ujarnya kepada Kontan, Senin.
Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang mengatakan, kinerja BEI per Juni 2026 memang sangat kuat. Namun, sebaiknya berhati-hati untuk langsung menyimpulkan bahwa lonjakan laba BEI otomatis berarti seluruh ekosistem pasar modal Indonesia sudah pulih atau membaik secara menyeluruh.
Salah satu poin penting untuk diperhatikan yaitu BEI merupakan “penjual infrastruktur pasar”, sehingga pendapatannya sangat sensitif terhadap aktivitas transaksi, pencatatan, kliring, data/informasi, dan aktivitas pasar modal lainnya.
Oleh karena itu, ketika aktivitas pasar meningkat, bahkan di tengah volatilitas, pendapatan BEI dapat tetap tumbuh.
“Contohnya, pada awal Juni 2026 IHSG sempat jatuh 8,69% dalam sepekan, tetapi frekuensi transaksi justru naik 14,11% dan volume perdagangan naik 8,66%,” ujarnya kepada Kontan, Senin.
Hingga akhir 2026, kinerja BEI diproyeksikan masih berpeluang tetap positif, terutama jika nilai transaksi tetap tinggi, jumlah investor terus bertambah, dan aktivitas initial public offering (IPO) serta penghimpunan dana membaik.
Budi mengatakan, tantangan kinerja Bursa berasal dari volatilitas global, arus dana asing, rupiah, suku bunga, serta konsistensi reformasi pasar.
“Secara keseluruhan, prospeknya positif, tetapi kemungkinan pertumbuhan semester II tidak setinggi semester I,” paparnya.
Edwin memperkirakan, untuk semester II 2026, prospek BEI masih positif jika sejumlah indikator bisa terealisasikan positif.
“Yaitu volume dan frekuensi transaksi tetap tinggi, investor domestik terus bertambah, foreign flow membaik, aktivitas IPO/corporate action meningkat, serta volatilitas pasar tetap terkendali,” ujarnya.
Sementara, tantangan terbesar berasal dari lima hal utama. Yaitu, kepercayaan investor asing, volatilitas global, kualitas dan tata kelola emiten, konsentrasi kapitalisasi dan likuiditas, serta kemampuan menjaga agar pertumbuhan transaksi tidak menjadi speculative-driven
Pertumbuhan transaksi sangat positif bagi pendapatan BEI, tetapi dari sisi kesehatan pasar, harus juga dilihat hal apa yang mendorong transaksi tersebut.
Menurut Edwin, aktivitas trading yang tinggi tidak selalu identik dengan pertumbuhan pasar yang berkualitas tinggi.
“Kinerja BEI tidak dapat dijadikan satu-satunya proxy kesehatan pasar modal. Sebab, pendapatan BEI terutama berkorelasi dengan aktivitas transaksi, bukan semata-mata arah IHSG atau kualitas fundamental emiten,” ujarnya.




