BANYU POS JAKARTA. Titik panas (hotspot) di Indonesia kembali meningkat dan menambah risiko bagi industri kelapa sawit. Meski demikian, sejauh ini kondisi tersebut belum berdampak signifikan terhadap perkebunan perusahaan sawit yang menjadi cakupan analis Indo Premier Sekuritas.
Analis Indo Premier Sekuritas Halima Yefany dalam riset 28 Agustus 2026 mencatat jumlah hotspot telah mencapai sekitar 6.000 titik per 26 Agustus 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan 5.100 titik pada 2015 dan 3.400 titik pada 2019.
Halima memperkirakan aktivitas hotspot masih berpotensi meningkat sebelum mulai menurun pada November 2026 seiring masuknya musim hujan. “Namun, sejauh ini belum ada hotspot yang tercatat di dalam perkebunan perusahaan yang kami cakup,” tulis dia dalam risetnya.
Asing Net Sell Rp 326 Miliar Saat IHSG Turun, Cermati Saham yang Banyak Dijual
Menurut Halima, perusahaan-perusahaan sawit juga telah menerapkan langkah pencegahan serta melakukan pemantauan secara ketat di wilayah ring 1–3 di sekitar perkebunan.
Dampak kebakaran di tingkat nasional pun sejauh ini masih terbatas. Area yang terdampak di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi umumnya hanya sekitar 5 hektare hingga 20 hektare per kejadian.
Luas tersebut dinilai masih tidak signifikan jika dibandingkan dengan total area perkebunan sawit Indonesia yang mencapai sekitar 16 juta hektare.
Meski risiko kebakaran belum menjadi gangguan besar bagi perkebunan sawit, kondisi cuaca kering yang berkepanjangan mulai menjadi perhatian lain bagi produksi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan indeks El Niño mencapai 2,99 dan positive Indian Ocean Dipole (IOD) berada di level 0,39 pada awal Agustus 2026. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang periode kering di Indonesia.
Halima memperkirakan kondisi kering berkepanjangan dapat mengganggu pembentukan tandan buah segar (TBS) dan pada akhirnya menekan produksi FFB (fresh fruit bunches).
Dampaknya, menurut dia, kemungkinan baru mulai terlihat pada akhir tahun buku 2027. Penurunan produksi tersebut berpotensi mengimbangi kenaikan harga crude palm oil (CPO).
Berkaca pada El Niño 2015
Indo Premier menggunakan pengalaman 2016 sebagai gambaran untuk mengukur potensi dampak kondisi cuaca saat ini. Setelah El Niño pada 2015, produksi FFB sektor sawit tercatat turun sekitar 15%–17% pada 2016, sementara harga CPO justru meningkat 21%.
Dipimpin BBCA dan BBRI, Cek Saham Net Buy Terbesar Asing, Rabu (2/9)
Namun, kenaikan harga CPO kala itu belum cukup untuk mengompensasi penurunan produksi FFB. Alhasil, laba PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Dharma Satya Tbk (DSNG) masing-masing turun sekitar 5%–7% secara tahunan pada tahun 2016.
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menjadi pengecualian karena labanya justru melonjak 113% secara tahunan. Halima menyebut kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh basis laba yang rendah pada 2015.
Dengan menggunakan skenario serupa, Indo Premier memperkirakan harga CPO perlu menembus RM 5.700–RM 5.900 per ton pada tahun 2027 agar mampu sepenuhnya mengimbangi risiko penurunan produksi FFB.
Namun, level harga tersebut dinilai cukup sulit dicapai.
Tambahan permintaan dari implementasi penuh kebijakan B50 memang berpotensi menopang harga CPO. Akan tetapi, harga CPO yang terlalu tinggi dapat menekan permintaan India.
India merupakan pasar yang sensitif terhadap harga dan berpotensi meningkatkan substitusi ke minyak nabati lainnya ketika harga CPO terlalu mahal. Salah satu yang berpeluang diuntungkan adalah minyak kedelai (soybean oil), terutama jika kondisi cuaca yang mendukung meningkatkan produksi kedelai di Brasil dan Argentina.
TAPG dan DSNG Lebih Tahan Risiko
Di tengah risiko tersebut, Indo Premier melihat saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan DSNG relatif lebih resilien dibandingkan AALI dan LSIP.
Halima menilai usia tanaman yang lebih muda pada TAPG dan DSNG dapat membantu memitigasi dampak periode kering yang berkepanjangan terhadap produktivitas perkebunan.
Meski demikian, Indo Premier tetap mempertahankan rekomendasi overweight (OW) untuk sektor sawit. Fundamental dalam jangka pendek dinilai masih mendukung, terutama pada paruh kedua 2026.
Penguatan permintaan dari India serta potensi pengetatan pasokan setelah implementasi penuh B50 diperkirakan menjadi katalis bagi harga CPO hingga kuartal IV 2026.
Dow Jones Naik 0,47%, Wall Street Ditopang Optimisme terhadap Saham AI
Kondisi tersebut dinilai memberikan peluang tactical buying untuk saham-saham sektor sawit pada paruh kedua 2026.
Namun, investor tetap perlu mencermati risiko yang muncul pada 2027. Cuaca kering berkepanjangan berpotensi menekan produksi FFB dan mengimbangi keuntungan dari harga CPO yang lebih tinggi.
Indo Premier mencatat pergerakan harga saham sektor sawit secara historis lebih banyak berkorelasi dengan kinerja laba, yakni sebesar 72%, dibandingkan dengan harga CPO yang hanya 23%.
Dari sisi valuasi, sektor ini juga masih diperdagangkan pada sekitar 7,4 kali P/E 2027, jauh di bawah rata-rata P/E sektor sebesar 14 kali pada 2016. Padahal, pada 2016 laba sektor sawit di luar AALI tercatat turun sekitar 5% secara tahunan.
Adapun risiko utama yang perlu diwaspadai investor meliputi kondisi cuaca ekstrem, pelemahan permintaan India, serta perubahan regulasi.




