KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), salah satu perusahaan konstruksi terkemuka yang memiliki peran vital dalam pembangunan infrastruktur nasional, telah mencatatkan pencapaian signifikan dalam perolehan kontrak baru. Hingga bulan Juli 2026, perseroan berhasil membukukan nilai kontrak baru yang mencapai Rp 8,3 triliun. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan yang luar biasa, melonjak sebesar 118,4% secara tahunan (year-on-year/YoY) apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, di mana total kontrak baru yang berhasil diraih adalah Rp 3,8 triliun. Peningkatan drastis ini menjadi indikator kuat terhadap pemulihan sektor konstruksi, keberhasilan strategi akuisisi proyek yang diterapkan oleh ADHI, serta meningkatnya kepercayaan dari berbagai pemangku kepentingan terhadap kapabilitas dan rekam jejak perseroan dalam melaksanakan proyek-proyek berskala besar dan kompleks.
Kenaikan perolehan kontrak baru sebesar 118,4% dalam kurun waktu satu tahun bukan hanya sekadar statistik, melainkan cerminan dari daya saing yang diperkuat dan kemampuan ADHI dalam memanfaatkan momentum pembangunan nasional serta peluang pasar yang muncul. Pertumbuhan yang substansial ini merupakan sinyal positif yang sangat penting bagi investor dan seluruh pemangku kepentingan, menegaskan posisi ADHI sebagai salah satu pemain kunci yang tak tergantikan dalam sektor infrastruktur dan konstruksi di Indonesia. Ini juga mengindikasikan efektivitas manajemen dalam mengidentifikasi dan memenangkan tender-tender proyek strategis.
Dari total nilai kontrak baru yang berhasil dibukukan tersebut, komposisinya menunjukkan pendekatan strategis ADHI dalam mengelola risiko dan potensi keuntungan. Sekitar Rp 5,27 triliun berasal dari proyek yang dilaksanakan secara non-joint operation (NJO). Proyek NJO umumnya merujuk pada proyek di mana ADHI bertindak sebagai kontraktor utama tunggal atau memimpin konsorsium dengan kendali penuh atas seluruh aspek pelaksanaan proyek. Pendekatan ini memungkinkan perseroan untuk sepenuhnya mengoptimalkan efisiensi operasional, mengelola risiko secara langsung, dan memaksimalkan potensi keuntungan yang diperoleh dari proyek tersebut. Ini juga menunjukkan kepercayaan pemberi kerja terhadap kemampuan mandiri ADHI.
Di sisi lain, sekitar Rp 2,99 triliun dari total kontrak baru berasal dari proyek yang dikerjakan melalui skema joint operation (JO). Proyek JO melibatkan kerja sama strategis dengan perusahaan lain, di mana sumber daya, keahlian, dan risiko dibagi bersama di antara para mitra. Skema JO seringkali dipilih untuk proyek-proyek yang membutuhkan kapasitas finansial dan teknis yang lebih besar, atau ketika ada kebutuhan untuk berbagi risiko yang kompleks serta memperluas jangkauan pasar. Keseimbangan antara proyek NJO dan JO ini menunjukkan kematangan ADHI dalam menyusun portofolio proyeknya, baik untuk proyek yang dapat dikelola secara mandiri maupun proyek yang memerlukan kolaborasi strategis untuk pencapaian tujuan bersama.
Ditinjau dari lini bisnis, perolehan kontrak baru ADHI didominasi secara signifikan oleh segmen Engineering & Construction, yang menyumbang porsi terbesar, yakni mencapai 92% dari total kontrak. Dominasi yang kuat ini secara lugas menegaskan bahwa kompetensi inti ADHI tetap berada pada sektor konstruksi dan rekayasa, yang memang telah menjadi tulang punggung bisnis perseroan sejak lama. Fokus yang mendalam pada lini ini memungkinkan ADHI untuk terus mengoptimalkan sumber daya, mengembangkan keahlian spesifik yang mendalam, dan mempertahankan posisi kepemimpinan dalam pembangunan berbagai jenis infrastruktur vital di seluruh pelosok Indonesia.
Selain lini Engineering & Construction yang menjadi andalan, lini bisnis lain juga turut memberikan kontribusi meskipun dalam porsi yang lebih kecil. Segmen Property & Hospitality serta Manufacture masing-masing berkontribusi sebesar 3%. Lini Property & Hospitality mencakup pengembangan properti residensial, komersial, hingga pengelolaan hotel, yang merupakan upaya ADHI untuk melakukan diversifikasi pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada satu lini bisnis. Sementara itu, lini Manufacture kemungkinan besar berkaitan dengan produksi material atau komponen konstruksi yang secara strategis mendukung proyek-proyek inti ADHI, sehingga menciptakan sinergi internal. Terakhir, lini Investment menyumbang 2%, menunjukkan adanya ekspansi ke sektor investasi yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah jangka panjang dan stabilitas finansial bagi perseroan. Dominasi yang berkelanjutan pada Engineering & Construction ini tidak hanya memperkuat identitas perusahaan sebagai kontraktor utama, tetapi juga selaras dengan prioritas pembangunan nasional yang terus berfokus pada infrastruktur.
Lebih lanjut, jika dianalisis berdasarkan tipe pekerjaan, mayoritas kontrak baru yang berhasil diperoleh ADHI berasal dari proyek infrastruktur, dengan kontribusi mencapai 80%. Ini adalah refleksi langsung dari peran strategis ADHI dalam mendukung program pembangunan infrastruktur yang masif di Indonesia. Proyek-proyek ini mencakup berbagai spektrum, mulai dari jalan tol, jembatan, pelabuhan, bandara, sistem transportasi publik, hingga fasilitas energi dan sumber daya air. Proyek infrastruktur merupakan tulang punggung perekonomian suatu negara, dan keterlibatan ADHI yang dominan di sektor ini menunjukkan komitmen perseroan terhadap kemajuan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Selain proyek infrastruktur, segmen proyek gedung juga menyumbang porsi yang signifikan, yakni 14% dari total kontrak baru. Proyek gedung dapat mencakup pembangunan gedung perkantoran modern, pusat perbelanjaan, rumah sakit dengan fasilitas terkini, fasilitas pendidikan, atau bangunan komersial lainnya yang mendukung aktivitas ekonomi dan sosial di berbagai daerah. Kontribusi ini menunjukkan bahwa ADHI memiliki kapabilitas yang luas tidak hanya di infrastruktur berat tetapi juga di konstruksi vertikal yang membutuhkan presisi dan desain arsitektur yang kompleks. Sementara itu, 5% sisanya berasal dari pekerjaan lainnya, yang mungkin mencakup proyek-proyek khusus atau layanan pendukung yang tidak termasuk secara spesifik dalam kategori infrastruktur atau gedung.
Dari sisi pemilik proyek, struktur kontrak baru ADHI secara jelas menunjukkan keterikatan dan kepercayaan yang kuat dari entitas negara dan badan usaha milik negara. Sektor pemerintah menjadi penyumbang terbesar dengan porsi mencapai 70% dari total kontrak. Ini menegaskan peran ADHI sebagai mitra strategis utama pemerintah dalam merealisasikan berbagai program pembangunan dan proyek-proyek strategis nasional yang memiliki dampak luas bagi masyarakat. Proyek pemerintah umumnya memiliki skala yang sangat besar, didukung oleh pendanaan yang stabil, dan memiliki dampak sosial serta ekonomi yang luas.
Kemudian, disusul oleh proyek-proyek yang berasal dari BUMN/BUMD (Badan Usaha Milik Negara/Daerah) yang berkontribusi sebesar 29%. Keterlibatan aktif dengan BUMN/BUMD menunjukkan bahwa ADHI juga dipercaya untuk mengerjakan proyek-proyek di lingkungan badan usaha negara, yang seringkali memiliki standar kualitas yang tinggi dan persyaratan teknis yang ketat. Proyek-proyek ini dapat meliputi pengembangan fasilitas milik BUMN, proyek-proyek energi, atau infrastruktur penunjang kegiatan usaha BUMN yang strategis. Kontribusi dari sektor swasta tercatat sebesar 1%, menunjukkan bahwa meskipun ADHI tetap terbuka untuk proyek-proyek swasta, fokus utamanya saat ini adalah pada proyek-proyek yang didanai oleh pemerintah dan BUMN/BUMD, yang seringkali memiliki skala dan dampak strategis yang lebih besar terhadap pembangunan nasional.
ADHI telah berhasil mengamankan sejumlah proyek strategis yang menjadi bukti nyata kapabilitas teknis dan kepercayaan pasar terhadap perseroan. Hingga Juli 2026, beberapa proyek penting yang berhasil diraih oleh ADHI antara lain Proyek Tanggap Darurat Sumatera Utara, yang kemungkinan besar melibatkan rekonstruksi atau pembangunan infrastruktur vital pasca-bencana atau untuk mitigasi risiko di wilayah tersebut. Ada pula Proyek Tambak Udang Waingapu, yang mengindikasikan keterlibatan ADHI dalam pembangunan infrastruktur pendukung sektor pertanian dan perikanan, khususnya di bidang budidaya udang yang strategis untuk ketahanan pangan nasional.
Selain itu, ADHI juga terlibat dalam Estate Management IKN, sebuah proyek yang sangat signifikan mengingat Ibu Kota Nusantara (IKN) adalah proyek strategis nasional yang menjadi prioritas utama pemerintah. Keterlibatan ini menunjukkan kepercayaan pemerintah terhadap ADHI dalam mengelola aset dan infrastruktur di kawasan IKN yang sedang berkembang. Proyek lain yang berhasil diamankan adalah Sekolah Rakyat Provinsi Jawa Tengah 2 dan Sekolah Rakyat Tahap 3 Papua, yang menegaskan komitmen ADHI dalam pembangunan infrastruktur sosial, khususnya fasilitas pendidikan yang krusial untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah-daerah tersebut. Terakhir, perolehan proyek Bandara Sentani menunjukkan peran ADHI dalam pengembangan infrastruktur transportasi udara yang vital untuk konektivitas antarwilayah di Indonesia bagian timur.
Perolehan berbagai proyek strategis ini tidak hanya berfungsi untuk memperkuat portofolio perseroan di sektor konstruksi dan infrastruktur, tetapi juga secara langsung mencerminkan tingkat kepercayaan yang tinggi dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, BUMN/BUMD, dan entitas swasta, terhadap kapabilitas dan keandalan ADHI. Setiap proyek yang berhasil diraih adalah bukti nyata dari kemampuan ADHI dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian proyek-proyek yang kompleks dengan standar kualitas yang tinggi, sesuai dengan jadwal, dan dalam batasan anggaran yang telah ditetapkan.
Siswanto, Corporate Secretary ADHI Karya, dalam keterangan resminya pada Jumat, 4 September 2026, menegaskan bahwa perseroan secara konsisten menjaga kualitas pertumbuhan bisnisnya. Strategi ini diwujudkan melalui tiga pilar utama yang saling mendukung: penguatan bisnis inti, peningkatan kualitas operasional, serta selektivitas dalam memperoleh proyek. Penguatan bisnis inti berarti ADHI terus berinvestasi dalam pengembangan keahlian, teknologi mutakhir, dan sumber daya manusia yang kompeten di bidang konstruksi dan rekayasa, memastikan bahwa kapabilitas utama perseroan tetap relevan, adaptif, dan unggul di pasar yang dinamis.
Peningkatan kualitas operasional melibatkan optimalisasi proses kerja, penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta lingkungan yang ketat, dan efisiensi dalam penggunaan sumber daya di setiap tahapan proyek. Hal ini bertujuan untuk memastikan setiap proyek dapat diselesaikan tepat waktu, sesuai anggaran, dan dengan kualitas terbaik, sehingga secara konsisten meningkatkan reputasi dan citra positif ADHI di mata publik dan klien. Sementara itu, selektivitas dalam memperoleh proyek menunjukkan pendekatan yang hati-hati dan strategis, di mana ADHI tidak hanya mengejar volume kontrak semata tetapi juga fokus pada proyek-proyek yang memiliki margin keuntungan yang sehat, risiko yang terukur, dan selaras dengan visi jangka panjang perusahaan. Pendekatan selektif ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan finansial dan operasional perseroan dalam jangka panjang di tengah persaingan industri yang ketat.
Langkah-langkah strategis yang disebutkan oleh Siswanto tersebut merupakan bagian integral dari proses transformasi yang sedang dijalankan oleh ADHI. Transformasi ini dilakukan secara bertahap dan komprehensif, dengan tujuan utama untuk memperkuat fundamental bisnis perseroan dan meningkatkan daya saing di industri konstruksi yang semakin kompetitif dan dinamis. Proses transformasi ini mungkin melibatkan restrukturisasi internal, adopsi teknologi digital dalam manajemen proyek dan konstruksi, peningkatan kapabilitas manajemen risiko, serta pengembangan model bisnis baru yang lebih adaptif terhadap perubahan pasar dan regulasi.
Melalui strategi yang terencana dan eksekusi yang cermat, ADHI optimistis bahwa upaya ini akan mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Pertumbuhan yang sehat tidak hanya diukur dari peningkatan pendapatan, tetapi juga dari profitabilitas yang stabil, efisiensi operasional, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis. Selain itu, strategi ini juga dirancang untuk terus mendukung program pembangunan nasional yang masif, yang pada akhirnya akan membawa manfaat yang luas bagi masyarakat di seluruh Indonesia melalui penyediaan infrastruktur yang berkualitas dan berkelanjutan. Komitmen terhadap pembangunan nasional ini merupakan bagian dari tanggung jawab ADHI sebagai Badan Usaha Milik Negara.
Ke depan, ADHI menegaskan kembali komitmennya yang kuat untuk terus memperkuat fundamental bisnisnya. Ini mencakup aspek keuangan yang solid, operasional yang efisien, manajemen risiko yang efektif, serta tata kelola perusahaan yang baik. Dengan fundamental yang kuat, perseroan akan lebih resilient terhadap gejolak ekonomi dan perubahan pasar. Lebih dari itu, ADHI juga bertekad untuk terus meningkatkan kontribusinya dalam mendukung pembangunan infrastruktur nasional. Ini berarti perseroan akan terus aktif terlibat dalam proyek-proyek strategis pemerintah, berinovasi dalam solusi konstruksi yang ramah lingkungan dan efisien, serta menjadi pelopor dalam menghadirkan infrastruktur berkualitas yang mendukung pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan.




