Investor Asing Kembali Masuk, Cek Rekomendasi Saham Big Cap Ini

Hikma Lia

Aksi jual yang dilakukan oleh investor asing di pasar modal Indonesia kini mulai memperlihatkan tanda-tanda mereda yang cukup signifikan. Fenomena ini membuka celah dan peluang investasi yang menarik bagi para pelaku pasar, khususnya untuk melakukan strategi tactical re-entry atau masuk kembali secara taktis ke pasar saham domestik. Fokus utama dari potensi kembalinya dana asing ini diperkirakan akan tertuju pada deretan saham yang memiliki kapitalisasi pasar besar (big cap) serta memiliki tingkat likuiditas yang tinggi.

Advertisements

Berdasarkan laporan komprehensif bertajuk Indonesia Equities: Foreign Flows edisi September 2026 yang dirilis oleh Bloomberg Intelligence, kondisi pasar saham di tanah air mulai menunjukkan sinyal perbaikan yang nyata. Sufianti, yang menjabat sebagai Equity Strategist di Bloomberg Intelligence, mengungkapkan bahwa perbaikan ini terjadi di tengah situasi regional di mana arus keluar dana asing (outflow) kembali melanda kawasan Asia Tenggara sepanjang bulan Agustus 2026. Menariknya, Indonesia tampil sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang masih mampu mencatatkan arus masuk modal asing (inflow), meskipun nominalnya masih relatif tipis. Sinyal positif ini menjadi indikator awal bahwa daya tarik pasar saham Indonesia masih cukup kuat di mata investor global dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

Sufianti dalam laporannya menegaskan bahwa Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang cukup solid. Salah satu indikator utamanya adalah berkurangnya tekanan jual yang menyasar saham-saham berkapitalisasi pasar besar. Menggunakan metode estimasi yang berbasis pada volume-weighted average price (VWAP), terlihat jelas bahwa akumulasi aliran dana keluar dari saham-saham yang tergabung dalam indeks LQ45 mengalami penyusutan yang sangat tajam. Pada bulan Agustus 2026, nilai outflow dari konstituen LQ45 tercatat menyusut hingga berada di bawah angka Rp 2 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan yang sangat drastis jika dibandingkan dengan bulan Juli yang mencatatkan outflow sekitar Rp 4 triliun, dan bulan Juni yang bahkan menembus angka lebih dari Rp 15 triliun.

Advertisements

Selain dari sisi nilai nominal, penurunan tekanan jual asing juga tecermin dari jumlah emiten yang mengalami arus keluar dana. Pada bulan Agustus 2026, jumlah saham di dalam indeks LQ45 yang mencatatkan outflow berkurang menjadi hanya 27 saham. Angka ini menunjukkan tren penurunan yang konsisten jika dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya, di mana pada bulan Juli terdapat 34 saham yang mencatat outflow, dan pada bulan Juni angka tersebut sempat menyentuh 36 saham. Tren penurunan ini mengindikasikan bahwa minat jual investor asing terhadap saham-saham unggulan di Indonesia sudah mulai jenuh dan perlahan mulai beralih ke fase akumulasi kembali.

Melihat perkembangan data tersebut, Irwan Ariston selaku Pengamat Pasar Modal memberikan analisisnya. Ia berpendapat bahwa perkembangan positif ini dapat dikategorikan sebagai indikasi awal bahwa pemodal asing mulai kembali meningkatkan eksposur investasi mereka pada aset-aset keuangan di Indonesia. Kendati demikian, Irwan mengingatkan para pelaku pasar untuk tetap bersikap realistis. Menurut pandangannya, kondisi yang terjadi saat ini belum dapat ditafsirkan sebagai sebuah pembalikan tren yang bersifat struktural atau jangka panjang. Ini lebih merupakan sinyal awal di mana asing mulai melirik kembali pasar Indonesia, namun belum bisa dipastikan apakah ini merupakan titik balik yang sepenuhnya permanen secara struktural.

Indikasi kuat mengenai adanya aktivitas re-entry dari investor asing ini juga tercermin secara nyata dari pergerakan dana asing pada akhir bulan Agustus hingga awal September. Pada rentang waktu 31 Agustus hingga 4 September 2026, investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) dengan nilai akumulatif mencapai sekitar Rp 1,85 triliun. Aliran dana segar dari luar negeri ini sebagian besar mengalir deras ke sektor perbankan, khususnya pada saham-saham bank raksasa yang sering disebut sebagai big banks.

Secara lebih terperinci, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memimpin perolehan dengan mencatatkan net foreign buy sebesar kurang lebih Rp 1,41 triliun. Posisi berikutnya ditempati oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang berhasil membukukan aksi beli bersih asing senilai Rp 1,2 triliun. Tidak ketinggalan, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mencatatkan aliran masuk dana asing sebesar Rp 1,01 triliun, disusul oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang mengantongi net buy asing sekitar Rp 261 miiliar. Masuknya dana asing ke sektor perbankan ini menunjukkan bahwa sektor finansial tetap menjadi motor penggerak utama sekaligus pintu masuk pertama bagi investor global yang ingin berinvestasi di Indonesia.

Pandangan senada juga disampaikan oleh Budi Frensidy, seorang Guru Besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI). Budi membenarkan adanya indikasi awal mengenai kembalinya investor asing ke pasar saham domestik, terutama ke sektor perbankan yang berkapitalisasi pasar besar. Berdasarkan pengamatannya pada pekan yang sama, investor asing memang membukukan net buy yang cukup signifikan, yakni sekitar Rp 2,3 triliun di seluruh pasar. Namun, Budi menekankan pentingnya melihat angka mingguan ini dalam perspektif yang lebih luas, yaitu dengan membandingkannya terhadap kinerja aliran dana sepanjang tahun berjalan (Year-to-Date/YTD).

Budi menjelaskan bahwa investor tidak boleh terburu-buru menyimpulkan bahwa tren telah berbalik arah sepenuhnya. Hal ini dikarenakan secara kumulatif sepanjang tahun berjalan, investor asing sebenarnya masih mencatatkan net outflow yang cukup besar, yakni berada di kisaran US$ 3,94 miliar. Oleh sebab itu, ia menilai bahwa kondisi pasar saat ini lebih tepat didefinisikan sebagai fase awal dari tactical re-entry, di mana asing memanfaatkan momentum jangka pendek untuk masuk kembali ke saham-saham yang valuasinya sudah relatif murah setelah mengalami tekanan jual dalam beberapa bulan sebelumnya.

Sementara itu, David Kurniawan yang merupakan Equity Analyst dari PT Indo Premier Sekuritas, memaparkan data yang memperkuat indikasi masuknya aliran dana asing tersebut. Dalam keterangan resminya, David menyebutkan bahwa sepanjang pekan yang berlangsung dari 31 Agustus hingga 4 September 2026, investor asing secara kumulatif mencatatkan net inflow sebesar Rp 2,3 triliun di seluruh pasar keuangan Indonesia. Jika ditarik khusus pada pasar reguler saja, nilai net inflow asing tersebut tercatat mencapai Rp 1,6 triliun. Konsentrasi pembelian asing memang sangat terpusat pada jajaran saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI. Keempat emiten perbankan papan atas ini secara kolektif sukses menyumbang nilai net foreign buy lebih dari Rp 3,19 triliun di pasar reguler.

Terkait prospek ke depan, Irwan Ariston menilai bahwa peluang bagi berlanjutnya arus modal masuk asing ke pasar saham Indonesia hingga penghujung tahun 2026 masih terbuka lebar. Namun, keberlangsungan dari tren positif ini akan sangat bergantung dan ditentukan oleh dinamika kondisi ekonomi global. Salah satu faktor eksternal paling krusial yang menjadi perhatian utama para pelaku pasar adalah arah kebijakan moneter dari bank sentral Amerika Serikat, yaitu The Federal Reserve (The Fed).

Saat ini, konsensus pasar memperkirakan adanya peluang sebesar 58% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 15-16 September. Apabila keputusan kenaikan suku bunga tersebut ternyata sudah diantisipasi dan dihitung (priced in) oleh pasar, serta jika pernyataan resmi dari pejabat The Fed tidak bernada terlalu agresif atau hawkish, maka arus dana asing ke pasar keuangan Indonesia berpotensi besar akan terus berlanjut. Sebaliknya, jika terjadi kejutan kebijakan yang bersifat sangat hawkish dari The Fed, hal tersebut berisiko memicu lonjakan kembali pada tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) serta memperkuat nilai tukar dolar AS. Skenario buruk ini berpotensi mengikis daya tarik aset-aset keuangan di negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, dan memicu kembali aliran modal keluar.

Selain mencermati kebijakan The Fed, investor global dan domestik juga wajib memantau sejumlah indikator fundamental dalam negeri. Beberapa faktor penentu yang sangat vital antara lain adalah stabilitas nilai tukar rupiah, pergerakan yield obligasi negara, arah kebijakan suku bunga dari Bank Indonesia (BI), serta kinerja pertumbuhan laba bersih dari emiten-emiten di bursa. Faktor-faktor domestik inilah yang nantinya akan menguji apakah arus masuk modal asing yang terjadi saat ini hanya bersifat temporer atau mampu bertransformasi menjadi tren penguatan yang lebih berkelanjutan.

Budi Frensidy menambahkan analisisnya bahwa peluang terjadinya re-entry asing dalam skala yang lebih besar akan semakin terbuka apabila nilai tukar rupiah mampu bergerak stabil, yield obligasi domestik tetap terkendali, fundamental ekonomi makro nasional terjaga dengan baik, serta tingkat valuasi saham-saham di Indonesia dinilai masih cukup atraktif bagi pemodal global. Menurut Budi, kunci utamanya terletak pada sinergi kebijakan antara The Fed dan Bank Indonesia, stabilitas mata uang rupiah, serta tingkat kepercayaan investor global terhadap arah kebijakan ekonomi serta langkah-langkah reformasi pasar modal yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia.

Apabila ditinjau dari sudut pandang sektoral, sektor perbankan dengan kapitalisasi pasar besar tetap menjadi pilihan utama dan tujuan pertama bagi penempatan dana investor asing. Irwan Ariston berpendapat bahwa emiten seperti BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI akan terus menjadi target utama perburuan asing karena faktor likuiditasnya yang sangat tinggi. Saham-saham ini juga berfungsi sebagai instrumen representatif (proxy) terbaik bagi investor asing untuk mendapatkan eksposur langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia.

Setelah sektor perbankan jenuh, potensi rotasi sektor diperkirakan akan mulai mengalir ke sektor komoditas dan energi. Irwan mengidentifikasi beberapa saham yang menarik untuk dicermati dalam skenario rotasi ini, di antaranya adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Emiten-emiten tersebut dinilai memiliki daya tarik tersendiri karena menawarkan visibilitas kinerja laba bersih yang relatif stabil dan prospek bisnis yang baik.

Di sisi lain, Budi Frensidy memproyeksikan bahwa aliran dana asing juga memiliki potensi untuk merambah ke sektor-sektor defensif dan esensial lainnya, seperti sektor telekomunikasi, barang konsumsi (consumer goods), serta sektor industri. Beberapa saham berkapitalisasi besar seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT United Tractors Tbk (UNTR) dinilai sangat layak untuk diperhatikan. Saham-saham ini tidak hanya memiliki likuiditas transaksi yang tinggi, tetapi juga menjadi pilihan yang aman bagi investor institusi besar yang ingin mendiversifikasi portofolionya. Budi menyarankan agar pelaku pasar menerapkan strategi investasi yang berfokus pada saham-saham dengan fundamental kokoh daripada berspekulasi pada saham-saham lapis kedua atau ketiga yang harganya sudah melonjak terlalu tinggi tanpa didukung oleh kinerja keuangan yang solid.

Meskipun pintu masuk bagi kembalinya dana asing mulai terbuka, investor domestik tetap diimbau untuk tidak lengah dan harus senantiasa waspada terhadap berbagai risiko yang mengintai. Irwan menekankan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap menjadi indikator utama yang harus dipantau. Sebagai informasi, nilai tukar rupiah pada perdagangan hari Senin (7/9) ditutup menguat tipis ke level Rp 17.640 per dolar AS. Pergerakan nilai tukar ini, bersama dengan fluktuasi yield US Treasury, arah kebijakan moneter The Fed dan Bank Indonesia, serta realisasi pertumbuhan laba emiten, akan menjadi kompas penting bagi investor untuk mengukur arah pergerakan dana asing ke depan.

Dalam jangka pendek, agenda pertemuan FOMC yang berlangsung pada 15-16 September mendatang akan menjadi ujian krusial pertama bagi pasar keuangan global. Selain keputusan mengenai suku bunga acuan, rilis data inflasi Amerika Serikat atau Consumer Price Index (CPI) juga diprediksi akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap ekspektasi pasar atas langkah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.

Budi Frensidy juga mengingatkan adanya faktor risiko lain yang berpotensi menghambat arus modal ke emerging markets. Faktor tersebut antara lain adalah potensi kenaikan yield US Treasury serta lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik global. Oleh karena itu, investor sangat disarankan untuk memantau pergerakan yield obligasi AS dan harga komoditas minyak secara simultan bersamaan dengan pemantauan terhadap data transaksi harian investor asing (foreign flow).

Menghadapi situasi pasar yang dinamis ini, Irwan menyarankan para investor domestik untuk tidak melakukan tindakan impulsif seperti mengejar saham-saham yang harganya sudah terlanjur naik tinggi akibat aksi beli asing. Strategi investasi yang paling bijaksana untuk diterapkan saat ini adalah melakukan akumulasi saham secara bertahap, terutama ketika pasar sedang mengalami koreksi atau pelemahan sementara (accumulate on weakness), dengan catatan fundamental emiten tersebut tetap solid dan aliran dana asing masih terus mengalir masuk secara konsisten.

Senada dengan pandangan tersebut, Budi juga merekomendasikan strategi buy on weakness pada jajaran saham berkapitalisasi pasar besar. Menurutnya, koreksi harga yang terjadi di pasar justru harus dipandang sebagai peluang emas untuk masuk dan mengoleksi saham-saham berkualitas dengan harga yang lebih murah, asalkan landasan fundamental perusahaan serta dukungan aliran dana asing masih tetap solid dan terjaga.

Advertisements

Also Read

Tags