BANYU POS JAKARTA. Kinerja emiten properti kawasan industri dinilai masih cerah didorong oleh peningkatan permintaan lahan untuk sektor otomotif dan data center. Tren ini diproyeksikan akan berlanjut hingga tahun 2027.
PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) optimistis dengan sektor properti kawasan industri hingga tahun 2027.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan DMAS, Tondy Suwanto mengatakan, suku bunga Bank Indonesia (BI) yang masih tinggi dinilai merupakan tantangan yang lebih nyata untuk sektor properti residensial, bukan kawasan industri.
Selain itu, volatilitas rupiah dianggap sebagai peluang lantaran pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) justru menarik investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia.
Transaksi Kripto Anjlok di Juli, Investor Tunggu Arah Pasar yang Lebih Jelas
“Melemahnya rupiah bagi investor asing malah menjadi lebih murah. Jadi kami melihat bahwa outlook untuk kawasan industri sangat prospektif dan optimistis,” ujarnya dalam Public Expose Live PT Puradelta Lestari Tbk Senin (7/9/2026).
Dengan prospek yang cukup cerah, DMAS pun berencana menaikkan target marketing sales di tahun 2026. Sayangnya, Tondy belum menyebutkan angka pasti target baru marketing sales DMAS di tahun ini maupun di tahun 2027.
Namun sebagai gambaran, target marketing sales DMAS sebesar Rp 2,08 triliun di tahun 2026. Per semester I 2026, marketing sales DMAS sebesar Rp 1,15 triliun, setara dengan 55% dari target tahun ini.
“Kami melihat sektor data center masih sangat prospektif,” paparnya.
Tingginya minat industri data center tercermin dari total permintaan lahan industri di Kota Deltamas yang telah mencapai sekitar 85 hektare hingga pertengahan 2026. Sekitar 75% dari permintaan tersebut berasal dari pelaku industri data center.
“Mengenai negara (asal investor), ada dari Asia, AS, dan domestik,” tuturnya.
Optimistis pada Sektor Kawasan Industri, SSIA Targetkan Marketing Sales 60 Ha di 2027
Senada, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) melihat prospek sektor properti kawasan industri masih cukup stabil di tahun 2027 dengan permintaan investasi datang dari China.
Direktur SSIA Wilson Effendy mengatakan, kondisi tahun depan diperkirakan tidak akan banyak berubah dari tahun 2026.
“Pergerakan rupiah sudah cukup stabil terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan tingkat suku bunga memang arahnya naik, tapi kita lihat dalam 6 bulan ke depan,” ujarnya dalam Public Expose Live SSIA, Senin (7/9/2026).
SSIA pun menargetkan pendapatan prapenjualan alias marketing sales stabil di 60 hektare pada tahun 2027.
VP Investor Relations & Sustainability SSIA, Erlin Budiman menambahkan, marketing sales ditargetkan sebesar Rp 135 hektare di tahun 2026 didorong oleh permintaan di Subang Smartpolitan yang cukup besar.
“Tapi kalau kami lihat untuk tahun 2027 (marketing sales) akan cukup stabil di 60 hektare,” paparnya.
Per hari ini, total ada 175 perusahaan global yang berasal dari sektor otomotif, supply chain, consumer goods, elektronik, farmasi, dan data center.
Mayoritas tenant di Karawang berasal dari sektor otomotif. Sementara, tenant di Subang Smartpolitan berasal dari sektor otomotif, elektronik, consumer goods, dan tekstil.
“Ke depan, profil tenant kami melihat ada kemiripan dengan tenant yang sudah ada di Subang,” ungkapnya.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan melihat, kinerja emiten kawasan industri akan terdorong percepatan realisasi investasi di semester II 2026.
Kinerja Return Unitlink Saham Terkontraksi Paling Dalam per Agustus 2026
Di akhir 2026 hingga 2027, sentimen positif untuk sektor ini berasal dari booming data center, ekspansi EV/ekosistem baterai, dan penurunan suku bunga BI.
“Sementara, sentimen negatif berasal dari ketidakpastian geopolitik global dan siklus negosiasi lahan yang lambat,” ujarnya kepada Kontan, Senin (7/9/2026).
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai, saat ini permintaan tidak hanya berasal dari manufaktur konvensional, tetapi juga semakin banyak datang dari data center, industri kendaraan listrik atau EV, elektronik, logistik, hingga industri berteknologi tinggi.
Colliers mencatat data center menjadi salah satu pendorong utama permintaan kawasan industri Greater Jakarta pada kuartal II 2026, bersama EV, logistik, elektronik dan FMCG.
“Kawasan yang memiliki kesiapan listrik, utilitas dan konektivitas akan mempunyai posisi yang semakin strategis,” ujarnya kepada Kontan, Senin (7/9/2026).
Tema AI juga secara tidak langsung menjadi katalis yang menarik bagi sektor ini. Peningkatan adopsi AI dan digitalisasi membutuhkan tambahan kapasitas komputasi dan data center, yang pada akhirnya meningkatkan kebutuhan terhadap lahan dengan pasokan listrik besar, jaringan telekomunikasi yang baik dan infrastruktur yang memadai.
“Jadi, dampak positifnya tidak otomatis seluruh emiten kawasan industri, tetapi terutama kawasan yang memang sudah memiliki ekosistem dan utilitas untuk menerima tenant data center,” katanya.
Secara makro, tren investasi juga masih mendukung. Realisasi investasi Indonesia pada semester I 2026 mencapai sekitar Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2% YoY, dengan penerimaan modal asing (PMA) menyumbang sekitar separuh dari total investasi. Pemerintah juga menargetkan investasi nasional meningkat menjadi Rp2.322 triliun pada 2027.
Apabila tren investasi ini berlanjut, sektor kawasan industri akan menjadi salah satu penerima manfaat karena ekspansi manufaktur dan digital infrastructure membutuhkan land bank baru.
Namun, kata Ekky, tetap ada beberapa faktor pemberat. Ketidakpastian geopolitik, volatilitas rupiah, suku bunga yang relatif tinggi serta perlambatan ekonomi global dapat menyebabkan investor asing menunda keputusan ekspansi.
“Selain itu, khusus data center, ketersediaan dan redundansi pasokan listrik menjadi faktor yang sangat penting sehingga tidak semua land bank otomatis bisa dikembangkan untuk kebutuhan tersebut,” katanya.
Di tengah sentimen positif untuk emiten kawasan industri, saham DMAS dan SSIA juga mengalami peningkatan dari awal tahun 2026.
Saham DMAS naik 56,59% year to date (YTD) dan saham SSIA naik 6,85% YTD.
Analis Kiwoom Sekuritas Adrian Djie melihat, kedua saham tersebut masih menarik untuk dikoleksi, tetapi lebih cocok dengan strategi buy on weakness atau akumulasi bertahap ketimbang all-in di harga tinggi.
“Ini mengingat valuasi sudah mulai mengikutsertakan optimisme tema data center dan realisasi tenant baru,” ujarnya kepada Kontan, Senin.
Ekky berpandangan, kinerja operasional dan saham DMAS dan SSIA masih menarik.
Untuk DMAS, fundamentalnya saat ini relatif lebih solid karena pertumbuhan laba sudah terealisasi dan eksposur terhadap data center cukup nyata. Bahkan sebagian penjualan lahan industrinya berasal dari perusahaan-perusahaan data center seperti Digital Edge, Princeton Digital Group, Indoedge, dan STT GDC.
“Selain itu, DMAS juga memiliki karakter yang relatif defensif dari sisi neraca dan historis pembagian dividen,” katanya.
Sementara SSIA menawarkan potensi pertumbuhan yang lebih agresif. Kehadiran BYD sebagai anchor tenant dapat menciptakan efek lanjutan berupa masuknya supplier dan industri pendukung EV ke kawasan Subang. Apabila pipeline tersebut mulai dikonversi menjadi marketing sales, pertumbuhan SSIA pada 2027 bisa semakin kuat.
Namun, investor tetap perlu memperhatikan realisasi marketing sales baru karena sebagian besar katalis ke depan masih bergantung kepada konversi pipeline Subang.
“Dibanding DMAS, SSIA memiliki potensi upside lebih besar tetapi execution risk-nya juga relatif lebih tinggi,” tuturnya.
Adrian pun merekomendasikan trading buy untuk SSIA dengan target harga terdekat di level Rp 1.875 per saham.
Sedangkan, Ekky merekomendasikan beli untuk DMAS dengan target harga di Rp 220 – Rp 230 per saham. Rekomendasi buy on weakness disematkan untuk SSIA dengan target harga di Rp 2.250 – Rp 2.500 per saham.




