Booming Data Center AI, Ini 16 Saham BEI yang Diuntungkan

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Investasi kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) global kini mulai bergeser dari pengembangan perangkat lunak dan chip menuju pembangunan infrastruktur fisik, terutama pusat data (data center).

Advertisements

Tren ini membuka peluang baru bagi sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI), mulai dari operator data center, penyedia jaringan, perusahaan listrik, hingga pengembang kawasan industri.

Head of Research PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam riset 8 September 2026 menyebut Asia Tenggara berpotensi menjadi salah satu pusat pertumbuhan data center global. Keterbatasan kapasitas di Singapura menjadi salah satu pendorong investasi untuk bergeser ke wilayah sekitar, seperti Johor di Malaysia, Batam, hingga Jabodetabek.

Advertisements

IHSG Terkoreksi 1,43% di Pekan Ini, Simak Proyeksi di Pekan Depan

Indonesia dinilai memiliki sejumlah keunggulan untuk menangkap peluang tersebut. Keunggulannya bukan semata-mata pada tarif listrik yang murah, melainkan kemampuan menyediakan listrik yang andal selama 24 jam, kapasitas yang dapat diperluas, ketersediaan lahan industri serta jaringan serat optik.

Pertumbuhan data center juga akan berdampak langsung terhadap kebutuhan listrik. S&P Global memperkirakan konsumsi listrik data center di Asia Tenggara akan meningkat tiga kali lipat menjadi 16,4 gigawatt (GW) pada 2035.

Indonesia diproyeksikan mengambil sekitar 14% dari total kebutuhan tersebut atau setara sekitar 2,3 GW. Jabodetabek serta kawasan Batam–Riau diperkirakan menjadi lokasi utama pertumbuhan.

Sementara itu, Goldman Sachs menempatkan koridor Singapura–Johor–Riau (SIJORI) sebagai salah satu simpul strategis dalam ekosistem data center regional.

Goldman Sachs juga menaikkan proyeksi pertumbuhan permintaan listrik data center global pada 2030 menjadi 170% dibandingkan 2025. Pertumbuhan tersebut ditopang neraca keuangan perusahaan hyperscaler yang kuat serta penggunaan kontrak take-or-pay.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan listrik menjadi salah satu mata rantai penting dalam ekspansi data center.

Dalam pemetaan Kiwoom Sekuritas, terdapat 16 emiten BEI yang memiliki keterkaitan dengan ekosistem data center. Emiten-emiten tersebut dikelompokkan berdasarkan sumber pendapatan dan posisi mereka dalam rantai bisnis data center.

Dari sisi penyedia listrik dan utilitas, PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) menjadi salah satu emiten yang dinilai dapat memperoleh manfaat langsung dari peningkatan konsumsi listrik di kawasan industri.

Bitcoin dan Ethereum Terkoreksi, Ini Sentimen yang Patut Dicermati Investor

Pertumbuhan kebutuhan listrik data center menjadi peluang bagi POWR karena perusahaan memiliki eksposur terhadap pelanggan industri. Semakin besar kapasitas data center yang dibangun, semakin besar pula kebutuhan listrik yang harus dipenuhi.

Selain POWR, peluang juga muncul dari sektor kawasan industri. PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), dan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) berpotensi memperoleh manfaat melalui penjualan lahan industri maupun penyediaan utilitas pendukung.

Di lini operator data center dan komputasi AI, Kiwoom Sekuritas memasukkan PT Indosat Tbk (ISAT), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Keempat emiten tersebut menurut Liza memiliki keterkaitan langsung dengan bisnis data center maupun komputasi AI. ISAT, misalnya, terhubung dengan bisnis komputasi AI melalui Zankore, sedangkan DCII, TLKM, dan DSSA memiliki bisnis penyediaan kapasitas serta layanan data center.

Sementara itu, dari sisi infrastruktur jaringan dan interkoneksi, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) juga berpeluang menikmati pertumbuhan kebutuhan data center.

INET dapat memperoleh peluang dari kebutuhan jaringan fiber, bandwidth, IP transit, interkoneksi antar-data center hingga fasilitas SIDI JKT01.

Adapun emiten lain yang turut memiliki keterkaitan dengan ekosistem data center antara lain PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MGLV), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), serta PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL).

Meski jumlah emiten yang memiliki eksposur terhadap data center cukup banyak, Kiwoom Sekuritas mengingatkan bahwa tingkat manfaat yang diterima masing-masing perusahaan berbeda.

Menurut Liza, investor perlu melihat lebih jauh daripada sekadar narasi pertumbuhan data center. Emiten yang berpotensi menjadi penerima manfaat paling kuat dalam jangka panjang adalah perusahaan yang mampu mengubah peluang tersebut menjadi kontrak pelanggan yang nyata.

Obligasi Korporasi Diprediksi Ramai Lagi Kuartal IV 2026, Ini Pemicunya

Selain kontrak, pertumbuhan recurring income dan laba bersih juga menjadi indikator penting untuk melihat apakah ekspansi data center benar-benar memberikan dampak terhadap kinerja perusahaan.

Menurut Liza, ledakan investasi AI tidak hanya menjadi cerita bagi perusahaan teknologi. Kebutuhan data center yang terus meningkat juga berpotensi menciptakan efek domino ke sektor listrik, kawasan industri, jaringan fiber, telekomunikasi, gas hingga energi terbarukan.

Advertisements

Also Read

Tags