BANYU POS JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada awal pekan.
Memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia menjadi sentimen utama yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.
Melansir data Bloomberg, Jumat (11/9), rupiah ditutup melemah 64 poin atau 0,36% ke level Rp17.611 per dolar Amerika Serikat (AS).
Rupiah bahkan sempat terdepresiasi hingga 80 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.547 per dolar AS.
Jelang FOMC The Fed, Rupiah Diproyeksi Bergerak di Rp17.580–Rp17.680
Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah melemah 0,43% atau 75 poin ke level Rp17.611 per dolar AS dari Rp17.536 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah pada Jumat dipengaruhi penguatan indeks dolar AS di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.
Sentimen tersebut diperkuat oleh rilis data Producer Price Index (PPI) AS pada Agustus yang meningkat 5,4% secara tahunan (year on year/YoY).
Kenaikan inflasi di tingkat produsen tersebut menjaga peluang kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed), sementara investor masih mencermati data inflasi konsumen AS sebagai petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.
Untuk perdagangan Senin (14/9), Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan menghadapi tekanan dari eskalasi militer di Selat Hormuz dan serangan kelompok Houthi di kawasan Selat Bab el-Mandeb. Gangguan di dua jalur pelayaran strategis tersebut berpotensi semakin menghambat pasokan energi global.
Harga Emas Antam Hari Ini Minggu 13 September 2026 Stabil di Rp2,604 Juta per Gram
Kondisi tersebut telah mendorong harga minyak mentah dunia menembus US$100 per barel.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi tantangan tambahan karena Indonesia masih berstatus sebagai net importer minyak.
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi energi, sekaligus mendorong permintaan dolar AS untuk membiayai impor minyak.
Tekanan tersebut juga berpotensi meningkatkan inflasi barang impor dan memperberat kondisi fiskal pemerintah.
“Pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan fiskal dan moneter. Ini yang membuat batu sandungan tersendiri. Anggaran fiskal (APBN) jebol karena beban subsidi yang tidak rasional dan pemerintah mempertahankan subsidi BBM,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (11/9).
Memerah di Pekan Ini, IHSG Bisa Rebound pada Pekan Depan?
Di sisi lain, Indonesia masih berpeluang mendapatkan tambahan penerimaan dari kenaikan harga sejumlah komoditas ekspor, seperti batu bara dan crude palm oil (CPO). Namun, Ibrahim menilai tambahan penerimaan tersebut belum tentu mampu mengimbangi kenaikan biaya impor minyak mentah.
Dengan mempertimbangkan sentimen eksternal dan domestik tersebut, Ibrahim memproyeksikan rupiah pada perdagangan Senin akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Rupiah diperkirakan berada di rentang Rp17.610 hingga Rp17.650 per dolar AS.




