Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup naik pada perdagangan Jumat (11/9) seiring harga minyak dunia yang mulai turun. Pelaku pasar mengabaikan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) setelah rilis data inflasi terbaru Amerika Serikat (AS).
Dow Jones Industrial Average naik 509,19 poin atau 0,98% menjadi 52.573,29. S&P 500 bertambah 0,86% ke level 7.656,98. Adapun Nasdaq Composite naik 0,96% menjadi 26.333,04.
Meski menguat pada perdagangan terakhir pekan lalu, ketiga indeks utama tersebut masih mencatatkan kinerja negatif secara mingguan. Dow Jones turun 1,6%, S&P 500 melemah 0,8%, dan Nasdaq turun sekitar 0,7%. Penurunan tersebut menjadi pekan negatif pertama Nasdaq dalam tiga pekan terakhir.
Penguatan Wall Street terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Data CME Group FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan depan mencapai sekitar 86%.
Chief Global Strategist Principal Asset Management Seema Shah mengatakan perhatian pasar kini mulai bergeser dari kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga menjadi seberapa banyak kenaikan yang diperlukan dalam siklus tersebut.
“Perdebatan dengan cepat bergeser dari apakah The Fed akan menaikkan suku bunga menjadi pertanyaan yang lebih penting, yakni berapa kali kenaikan suku bunga yang pada akhirnya diperlukan dalam siklus ini,” ujar Seema Shah dikutip dari CNBC, Senin (14/9).
Menurut dia, The Fed kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga hanya satu kali. Kebijakan tersebut dinilai bukan lagi sekadar upaya menyesuaikan kondisi ekonomi.
“Setelah inflasi berada di atas target selama setengah dekade, para pembuat kebijakan kemungkinan akan menyimpulkan bahwa diperlukan lebih dari satu kali kenaikan suku bunga untuk kembali menciptakan stabilitas harga,” katanya.
Sementara itu harga minyak mentah mulai terkoreksi setelah melonjak tajam sepanjang pekan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 2,4% menjadi US$ 100,05 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent turun 2,8% menjadi US$ 104,61 per barel.
Meski terkoreksi pada perdagangan terakhir pekan lalu, harga WTI masih melonjak hampir 10% secara mingguan. Harga Brent juga naik hampir 9%.
Kenaikan harga energi turut menjadi perhatian karena memberikan tekanan terhadap inflasi AS. Data terbaru menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) naik 0,4% secara bulanan pada Agustus dan 3,4% secara tahunan, sesuai dengan perkiraan Dow Jones.
Sementara itu, inflasi inti atau core CPI yang tidak memperhitungkan harga makanan dan energi naik 0,3% secara bulanan. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Imbal hasil obligasi Treasury AS relatif stabil setelah data inflasi dirilis. Namun, imbal hasil Treasury tenor dua tahun menembus 4,6% dan menyentuh level tertinggi sejak Juli 2024.
Kenaikan imbal hasil tersebut mencerminkan meningkatnya ekspektasi pasar bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga.




