KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja portofolio investasi pada September 2026 bergerak variatif dengan kejutan lonjakan nilai tukar dolar Australia (AUD) dan pemulihan aset kripto, di tengah koreksi tajam pasar saham serta komoditas emas.
Berdasarkan data Bloomberg, pasangan mata uang AUD/IDR memimpin penguatan valas hingga 12,59% secara bulanan (month on month/MoM) ke level Rp 14.281,96, disusul kenaikan aset kripto Ethereum sebesar 8,72% MoM ke level US$ 2.685,97 dan Bitcoin naik 7,62% MoM ke US$ 84.023.
Kondisi berbeda melanda instrumen saham dan emas spot. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi aset berkinerja paling terpuruk setelah melemah 6,96% MoM ke level 6.071,13.
Imbal Hasil SBN 10 Tahun Diproyeksi 7,10%-7,25% Hari Ini
Di pasar komoditas, emas spot meluncur -6,58% MoM menjadi US$ 4.186,7 per ons troi, yang menyeret Emas Antam turun -2,81% MoM ke Rp 2.595.000 per gram. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD/IDR) melemah 0,97% MoM ke posisi Rp 17.894 per dolar AS.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai lonjakan AUD terhadap rupiah terdorong oleh kombinasi repricing suku bunga Australia yang hawkish dan tingginya harga komoditas ekspor Australia.
Keputusan Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga acuan (cash rate) sebesar 25 basis poin menjadi 4,60% pada 29 September berupaya meredam inflasi serta kenaikan harga energi.
Ditambah Indeks Harga Komoditas Australia yang masih naik 15,5% secara tahunan per Agustus, aset berdenominasi AUD menjadi kian atraktif di mata investor global di tengah volatilitas rupiah.
Mengenai prospek nilai tukar rupiah, Syafruddin melihat pergerakan mata uang Garuda hingga akhir tahun masih dibayangi bias melemah lantaran imbal hasil US Treasury yang tetap tinggi.
Walau Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75% pada September serta mengantongi cadangan devisa sebesar US$ 146,5 miliar, tekanan eksternal diprediksi menjaga kurs tetap volatil. Pasar surat utang negara juga menuntut imbal hasil yang lebih tinggi.
Abadi Lestari (RLCO) Buka Kanal Domestik untuk Produk Sarang Burung Walet Premium
“Untuk obligasi pemerintah, yield berpotensi tetap tinggi karena pasar meminta kompensasi atas risiko kurs dan suku bunga global,” kata Syafruddin kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Memasuki akhir tahun 2026, tekanan yield global turut membayangi pasar obligasi korporasi, terutama bagi emiten dengan tingkat utang besar. Meski demikian, prospek instrumen berimbal hasil tetap secara umum dipandang masih cukup menarik untuk dilirik investor.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy memproyeksikan pergerakan rupiah terhadap dolar AS hingga akhir tahun akan tertahan di kisaran Rp 17.700 hingga Rp 18.200 per dolar AS.
Menurut perhitungan Budi, imbal hasil Obligasi Negara (SBN) tenor 5 tahun diproyeksikan berada di kisaran 6,8%–7,1%, sedangkan SBN tenor 10 tahun berkisar antara 7,0%–7,3% pada akhir tahun.
“Dalam kondisi rupiah yang masih volatil, saya lebih memilih sekitar 35%–40% pasar uang dan 60–65% fixed income,” kata Budi.
Strategi diversifikasi portofolio dengan fokus pada instrumen pasar uang serta SBN tenor pendek-menengah dan obligasi korporasi berperingkat kredit tinggi menjadi opsi yang paling ideal untuk menjaga stabilitas imbal hasil.
Penambahan durasi panjang pada portofolio obligasi sebaiknya baru dilakukan setelah tekanan imbal hasil US Treasury mulai mereda mendekati penutupan tahun.




