Begini Strategi PHR Jaga Produksi Migas di Lapangan Tua

Hikma Lia

Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus merumuskan dan menerapkan berbagai strategi taktis guna menjaga stabilitas produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional, khususnya di tengah tantangan pengelolaan lapangan-lapangan migas yang telah memasuki usia senja atau mature fields. Blok Rokan, yang berlokasi di Provinsi Riau, memegang peranan yang sangat vital dalam konstelasi energi nasional. Wilayah kerja ini merupakan salah satu produsen minyak mentah terbesar di Indonesia saat ini, dengan kontribusi yang sangat signifikan yakni mencapai hampir sepertiga dari total produksi minyak bumi nasional. Mengingat besarnya kontribusi tersebut, fluktuasi produksi di Blok Rokan akan berdampak langsung terhadap ketahanan energi nasional, sehingga pengelolaan lapangan tua di wilayah ini memerlukan pendekatan yang luar biasa dan sistematis.

Advertisements

Dalam upaya menjaga kinerja produksi di wilayah kerja yang sudah berumur tua ini, PHR menerapkan tiga pilar strategi utama. Strategi tersebut meliputi optimalisasi lapangan eksisting yang sudah beroperasi, pelaksanaan kegiatan eksplorasi yang agresif untuk mencari cadangan baru, serta pemanfaatan teknologi mutakhir guna meningkatkan efisiensi dan perolehan migas. Ketiga pilar ini saling terintegrasi untuk memastikan bahwa setiap tetes minyak yang berada di dalam perut bumi dapat diproduksikan secara optimal dan ekonomis, sekaligus menekan laju penurunan alamiah (natural decline) yang biasa terjadi pada lapangan-lapangan minyak yang sudah lama beroperasi.

Corporate Secretary PHR, Eviyanti Rofraida, menjelaskan bahwa langkah paling mendasar dan krusial dalam mempertahankan kinerja produksi adalah dengan menjaga baseline production. Menjaga baseline berarti memastikan bahwa sumur-sumur yang saat ini aktif berproduksi tetap dapat menghasilkan migas pada tingkat yang stabil. Dengan pengelolaan yang tepat, laju penurunan produksi alami dari sumur-sumur tua tersebut dapat ditekan seminimal mungkin. Eviyanti menekankan bahwa fokus utama perusahaan adalah menahan agar grafik penurunan produksi tidak merosot tajam, dan jika memungkinkan, menjaga agar penurunan tersebut hanya terjadi dalam skala yang sangat kecil atau bahkan mendatar.

Advertisements

Upaya mempertahankan baseline production ini kemudian diperkuat dengan strategi pencarian sumber-sumber produksi baru di sekitar wilayah kerja yang sudah ada. PHR tidak hanya mengandalkan sumur yang aktif, tetapi secara aktif mengevaluasi kembali potensi-potensi terpendam berdasarkan basis data geologi dan geofisika yang tersedia. Melalui evaluasi data yang komprehensif, perusahaan dapat mengidentifikasi struktur atau lapisan batuan yang sebelumnya terlewatkan atau belum diproduksikan secara optimal. Proses evaluasi ini menjadi landasan penting sebelum perusahaan memutuskan untuk melakukan pengeboran sumur pengembangan baru maupun sumur eksplorasi.

Di samping evaluasi data, kegiatan eksplorasi terus digulirkan secara konsisten untuk menemukan sumber daya migas baru yang dapat dikembangkan menjadi sumber produksi di masa depan. Langkah eksplorasi ini merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting untuk menjamin keberlanjutan pasokan energi nasional. Dalam konteks ini, penerapan teknologi modern menjadi motor penggerak utama. Berbagai pendekatan teknologi canggih diterapkan oleh PHR, mulai dari teknologi pencitraan bawah permukaan yang lebih akurat hingga teknik stimulasi sumur yang dapat meningkatkan produktivitas lapangan serta memaksimalkan pengurasan cadangan minyak yang masih tersisa di dalam reservoir.

Salah satu contoh nyata dari keberhasilan strategi pengembangan potensi migas ini juga dapat dilihat di wilayah kerja Pertamina lainnya, seperti di Jambi. Proyek Puspa Asri menjadi salah satu proyek strategis yang saat ini mendapatkan perhatian penuh dari Pertamina. Proyek pengembangan ini diproyeksikan mampu memberikan tambahan volume produksi yang sangat berarti bagi Pertamina EP Jambi. Kehadiran proyek Puspa Asri ini membuktikan bahwa penguatan ketahanan energi nasional tidak hanya bergantung pada penemuan lapangan-lapangan baru berskala raksasa (giant fields), melainkan juga pada kemampuan industri dalam mengonversi potensi sumber daya yang ada menjadi produksi riil secara efektif dan efisien melalui sentuhan teknologi serta inovasi yang berkelanjutan.

Namun demikian, Eviyanti Rofraida mengingatkan bahwa keberlanjutan operasional industri hulu migas tidak dapat dicapai oleh pelaku industri sendirian. Kegiatan operasional yang masif, mulai dari pemeliharaan sumur, kegiatan eksplorasi, hingga pengembangan wilayah kerja baru, membutuhkan dukungan penuh dan kolaborasi yang erat dari berbagai pemangku kepentingan lintas sektor. Dukungan dari pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga institusi pendidikan tinggi sangat dibutuhkan untuk menciptakan iklim operasional yang kondusif. Kolaborasi ini penting agar seluruh rangkaian kegiatan industri hulu migas dapat berjalan dengan aman, lancar, efisien, dan memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi lingkungan serta masyarakat sekitar.

Dari perspektif kebijakan energi nasional yang lebih luas, Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Muhammad Kholid Syeirazi, memberikan pandangan mengenai pentingnya memperkuat fondasi ketahanan energi negara. Menurut Kholid, langkah paling mendasar dan mutlak untuk memperkuat ketahanan energi nasional adalah dengan meningkatkan volume produksi energi secara keseluruhan. Peningkatan ini tidak boleh hanya bertumpu pada satu jenis sumber energi saja, melainkan harus mencakup optimalisasi sumber energi fosil yang saat ini masih mendominasi, sekaligus mempercepat pengembangan sumber-sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

Kholid menambahkan bahwa upaya peningkatan produksi energi nasional harus berjalan beriringan dengan program diversifikasi sumber energi. Diversifikasi ini penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap jenis bahan bakar tertentu yang pasokannya masih mengandalkan impor. Sebagai contoh, pengembangan program biodiesel berbasis bahan nabati merupakan salah satu instrumen strategis yang efektif untuk menekan angka impor bahan bakar minyak jenis solar. Selain biodiesel, pemerintah juga tengah mendorong dan mempercepat pengembangan etanol sebagai bahan campuran bahan bakar alternatif guna memenuhi kebutuhan bensin nasional, yang diharapkan dapat memperkuat kemandirian energi di sektor transportasi.

Dalam merumuskan arah kebijakan energi ke depan, Dewan Energi Nasional menekankan bahwa penguatan ketahanan energi harus didasarkan pada prinsip keseimbangan yang kokoh. Kebijakan energi nasional harus mampu menyelaraskan tiga aspek utama, yaitu kebutuhan untuk meningkatkan produksi energi guna memenuhi permintaan domestik yang terus tumbuh, komitmen terhadap keberlanjutan dan kelestarian lingkungan hidup, serta aspek keterjangkauan ekonomi bagi masyarakat luas. Dengan menjaga keseimbangan ketiga aspek tersebut, proses transisi energi dan diversifikasi energi di Indonesia tidak hanya akan fokus pada pemenuhan kuantitas semata, melainkan juga tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Selain berfokus pada sisi produksi dan diversifikasi, Dewan Energi Nasional juga terus mendorong langkah strategis lainnya, yaitu percepatan pembentukan Cadangan Penyangga Energi (CPE). Kholid menegaskan bahwa konsep cadangan penyangga energi ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan cadangan operasional yang selama ini dimiliki oleh badan usaha atau perusahaan migas. Jika cadangan operasional digunakan untuk mendukung kelancaran distribusi harian dan kegiatan bisnis sehari-hari, maka cadangan penyangga energi dirancang khusus sebagai cadangan strategis negara yang hanya boleh digunakan dalam kondisi darurat atau saat terjadi krisis pasokan energi nasional.

Berdasarkan target jangka panjang, Dewan Energi Nasional memproyeksikan pembentukan cadangan penyangga energi ini dapat mencapai volume yang setara dengan 30 hari kebutuhan impor nasional. Target ambisius ini ditargetkan dapat terealisasi sepenuhnya paling lambat pada tahun 2035 mendatang. Walaupun target tersebut membutuhkan investasi dan infrastruktur penyimpanan yang sangat besar, DEN mendorong agar implementasinya dilakukan secara bertahap dan realistis dalam waktu dekat. Sebagai langkah awal sebelum mencapai target 30 hari, pemerintah diharapkan dapat membangun kapasitas cadangan untuk memenuhi kebutuhan selama lima hari terlebih dahulu, kemudian ditingkatkan secara bertahap menjadi sepuluh hari, hingga akhirnya mencapai target ideal 30 hari. Secara jangka panjang, kapasitas cadangan penyangga energi yang ideal bagi sebuah negara adalah 60 hari, bahkan jika memungkinkan dapat ditingkatkan hingga mencapai 90 hari guna menjamin kedaulatan energi nasional yang seutuhnya dari berbagai gejolak geopolitik global.

Advertisements

Also Read

Tags