6 Emiten Siap Buyback Saham Rp2 Triliun, Ada UNTR dan TOWR

Hikma Lia

Dinamika pasar modal dalam negeri menjelang akhir tahun 2026 diwarnai oleh berbagai langkah strategis dari para pelaku pasar. Sejumlah emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) kini tengah bersiap untuk melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali saham atau yang lebih dikenal dengan istilah buyback. Langkah ini diambil di tengah kondisi pasar saham yang fluktuatif serta kinerja keuangan masing-masing emiten yang cukup beragam. Alokasi dana yang dipersiapkan oleh para emiten ini pun tergolong sangat fantastis, dengan rentang nilai mulai dari puluhan miliar rupiah hingga menembus angka triliunan rupiah.

Advertisements

Secara umum, keputusan emiten untuk melakukan buyback kerap dipandang sebagai langkah taktis untuk menjaga stabilitas harga saham di pasar sekunder. Ketika pasar mengalami tekanan atau ketidakpastian, aksi pembelian kembali ini dapat berfungsi sebagai penopang agar harga saham tidak merosot lebih dalam. Di samping itu, pengumuman buyback juga sering kali dimaknai oleh para pelaku pasar sebagai sinyal positif dari pihak manajemen. Sinyal ini menunjukkan bahwa manajemen perusahaan meyakini bahwa harga saham mereka saat ini sudah tergolong murah atau berada di bawah nilai intrinsik yang sebenarnya, sehingga sangat menarik untuk dibeli kembali.

Rencana Aksi Buyback dari Grup Astra dan Emiten Terkemuka Lainnya

Salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia, Grup PT Astra International Tbk (ASII), menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjaga nilai pemegang sahamnya melalui rencana aksi korporasi ini. Dua anak usaha utama dari Grup Astra telah secara resmi mengumumkan rencana alokasi dana untuk melakukan buyback saham di pasar.

Advertisements

Emiten pertama adalah PT United Tractors Tbk (UNTR), yang mengalokasikan anggaran yang sangat besar, yakni mencapai Rp 2 triliun. Langkah UNTR ini menjadi salah satu daya tarik utama di pasar modal mengingat besarnya nilai dana yang disiapkan. Anak usaha Astra lainnya, yaitu PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), juga tidak ketinggalan dengan menyiapkan dana sebesar Rp 400 miliar untuk melancarkan aksi serupa.

Selain dari Grup Astra, beberapa emiten terkemuka dari berbagai sektor industri juga telah menyusun rencana buyback mereka masing-masing. Di antaranya adalah:

  • PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang mengalokasikan dana sebesar Rp 500 miliar.
  • PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang juga menyiapkan dana sebesar Rp 500 miliar.
  • PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dengan alokasi dana yang cukup signifikan sebesar Rp 1,38 triliun.
  • PT Harum Energy Tbk (HRUM) yang menganggarkan dana sebesar Rp 120 miliar.

Kehadiran rencana buyback dari berbagai sektor ini menunjukkan bahwa strategi menjaga stabilitas harga saham dan memanfaatkan momentum valuasi rendah tengah menjadi tren yang diadopsi secara luas oleh emiten-emiten besar di bursa domestik.

Mengukur Efektivitas Aksi Buyback: Analisis Likuiditas dan Realisasi

Meskipun rencana buyback sering kali disambut hangat oleh investor, efektivitas dari aksi korporasi ini di lapangan sangat bergantung pada beberapa faktor teknis. Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menjabarkan bahwa setidaknya ada dua faktor utama yang menentukan apakah aksi buyback suatu emiten akan berdampak signifikan atau tidak terhadap pergerakan harga sahamnya.

Faktor pertama yang harus dicermati adalah perbandingan antara besaran dana yang dialokasikan untuk buyback dengan total kapitalisasi pasar (market capitalization) serta tingkat likuiditas transaksi harian saham tersebut. Jika dana buyback yang disiapkan tergolong kecil dibandingkan dengan kapitalisasi pasar atau volume perdagangan harian, maka dampak langsungnya terhadap pergerakan harga mungkin tidak akan terlalu terasa di pasar.

Faktor kedua yang tidak kalah penting adalah tingkat kesungguhan atau realisasi dari emiten itu sendiri. Muhammad Wafi mengingatkan bahwa dalam banyak kasus di pasar modal, tidak sedikit emiten yang mengumumkan rencana buyback dengan nilai yang sangat besar, namun pada kenyaksanaannya realisasi pembelian kembali saham tersebut jauh lebih rendah dari komitmen awal yang telah dipublikasikan kepada publik.

Oleh karena itu, efektivitas buyback akan jauh lebih optimal apabila dilakukan pada saat harga saham emiten tersebut memang benar-benar telah jatuh di bawah nilai intrinsiknya. Selain itu, kondisi keuangan perusahaan juga harus mendukung, di mana emiten memiliki kelebihan arus kas (excess cash) yang tidak mendesak untuk digunakan dalam mendanai ekspansi bisnis yang produktif.

Pentingnya Perbaikan Fundamental Ketimbang Sekadar Sentimen Jangka Pendek

Meskipun buyback dapat memberikan sentimen positif yang instan, para pelaku pasar diingatkan untuk tidak melupakan kondisi fundamental perusahaan. Muhammad Wafi menegaskan bahwa aksi buyback bukanlah obat mujarab yang dapat menggantikan kinerja fundamental yang sehat. Apabila kinerja keuangan atau laba bersih suatu emiten sedang mengalami tren penurunan, maka aksi buyback pada dasarnya hanya akan berfungsi sebagai penahan sementara yang memperlambat tekanan penurunan harga saham, bukan membalikkan arah tren secara permanen.

Bagi emiten yang ingin menjaga pertumbuhan nilai saham secara jangka panjang dan berkelanjutan, strategi yang jauh lebih kokoh adalah dengan fokus pada perbaikan margin keuntungan, menjaga pertumbuhan laba bersih secara konsisten dari waktu ke waktu, serta membagikan dividen secara rutin kepada para pemegang sahamnya.

Sebagai contoh, rencana buyback jumbo senilai Rp 2 triliun oleh PT United Tractors Tbk (UNTR) dapat diinterpretasikan sebagai sinyal kuat dari manajemen bahwa harga saham mereka saat ini sudah sangat murah. Hal ini terjadi setelah kinerja laba bersih UNTR pada semester pertama sempat mengalami penurunan tajam sebesar 88,2% akibat kendala terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta operasional di tambang Martabe. Namun, seiring dengan mulai pulihnya kedua faktor kendala tersebut, aksi buyback diharapkan dapat mempercepat pemulihan kepercayaan pasar terhadap saham UNTR.

Di sisi lain, rencana buyback PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) senilai Rp 1,38 triliun juga tergolong sangat besar. Meski demikian, para investor disarankan untuk tetap waspada dan memperhatikan dinamika industri nikel global. Saat ini, sektor nikel masih dibayangi oleh tantangan kelebihan pasokan (oversupply) yang menekan harga komoditas tersebut di pasar internasional.

Sementara untuk PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), investor perlu melakukan analisis yang lebih mendalam. Hal ini dikarenakan TOWR memiliki eksposur beban utang yang cukup signifikan di tengah kondisi tingkat suku bunga yang masih bertahan di level tinggi. Investor disarankan untuk memeriksa apakah pendanaan buyback tersebut murni berasal dari kas internal perusahaan atau justru menggunakan fasilitas utang baru, serta memantau seberapa besar persentase realisasi dari rencana tersebut nantinya.

Perspektif Pasar: Buyback Sebagai Bantalan Harga Saham

Dari sudut pandang analisis pasar yang lain, Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto, mengemukakan bahwa aksi buyback bagaimanapun tetap memberikan dampak psikologis yang positif bagi para pelaku pasar. Secara mekanisme pasar, aksi ini akan menciptakan tambahan permintaan (demand) secara langsung melalui antrean beli (bid) yang dipasang oleh perusahaan di pasar reguler.

Kehadiran permintaan baru ini secara otomatis memberikan keyakinan ekstra bagi para investor ritel maupun institusi bahwa pihak manajemen sendiri sangat percaya dengan prospek masa depan bisnis mereka. Biasanya, emiten akan mulai mengeksekusi rencana buyback ini ketika harga saham mereka sudah mengalami koreksi yang cukup dalam. Pada titik inilah, buyback berperan penting sebagai bantalan pengaman yang mengurangi tekanan jual berlebih dalam jangka pendek.

Namun, senada dengan pandangan sebelumnya, Pandhu Dewanto juga menekankan bahwa untuk tren kenaikan harga saham dalam jangka panjang, pasar tetap membutuhkan konfirmasi nyata berupa pertumbuhan kinerja operasional dan perbaikan laporan keuangan yang solid. Investor disarankan untuk membandingkan nilai buyback dengan kapitalisasi pasar emiten guna mengukur seberapa besar pengurangan pasokan (supply) saham yang beredar di pasar nantinya.

Dalam konteks valuasi, Pandhu Dewanto menilai saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) saat ini memiliki daya tarik yang cukup menarik. Berdasarkan data pasar, rasio Price to Earnings (PER) TOWR berada di kisaran 6,5 kali, sedangkan rasio Price to Book Value (PBV) berada di level sekitar 0,8 kali. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa valuasi saham TOWR sudah tergolong murah atau undervalued.

Dengan mempertimbangkan tingkat valuasi tersebut, investor dapat mempertimbangkan strategi pembelian secara bertahap saat harga melemah atau buy on weakness pada saham TOWR. Untuk target jangka pendek, area Rp 450 hingga Rp 500 dapat dijadikan sebagai sasaran realistis untuk memanfaatkan momentum teknikal dari aksi buyback ini. Sementara itu, bagi para investor yang memiliki cakrawala investasi jangka panjang dan memiliki kesabaran ekstra untuk menunggu pemulihan kondisi pasar secara menyeluruh, target harga saham TOWR dapat diproyeksikan menuju kisaran Rp 600 hingga Rp 650 per lembar saham.

Advertisements

Also Read

Tags