Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara menyampaikan arah streamlining atau perampingan bisnis Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ke depan. Dari total 1.074 perusahaan yang berada dalam ekosistem BUMN saat ini, pemerintah menargetkan jumlah tersebut dapat dipangkas menjadi sekitar 200 perusahaan saja.
Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria mengungkapkan, streamlining perusahaan pelat merah menjadi fokus kerja Danantara dalam tahun pertama pembentukannya. Pembenahan itu dilakukan untuk menyehatkan perusahaan negara sekaligus membuat struktur dan arah bisnis BUMN lebih jelas.
Dalam proses streamlining ribuan perusahaan itu, Danantara mengelompokkan perusahaan BUMN ke dalam empat kategori. Keempat kategori itu adalah perusahaan yang dapat ditutup atau dilikuidasi, didivestasi atau dijual, dikonsolidasi atau digabung, serta direstrukturisasi. Sebab tak semua perusahaan memiliki masalah yang sama.
“Untuk perusahaan ini yang ujungnya itu kan ada yang ditutup, ada yang direstrukturisasi. Bentuk restrukturisasi itu berbagai macam,” kata Dony saat ditemui seusai acara Executive Breakfast Meeting Dua Tahun Danantara di Jakarta, Jumat (2/10).
Baca juga:
- ESDM Ungkap Ada Potensi Kerja Sama Hidrogen dengan Perusahaan Amerika Serikat
- Berburu Kartu BRIZZI Edisi Spesial ARKIV: Ini Lokasi Beli & Panduan Lengkapnya!
- OJK Luncurkan Peta Jalan RP3I, Perkuat Peran Perbankan Sebagai Penggerak Ekonomi
Ia menjelaskan, restrukturisasi dapat dilakukan melalui sejumlah skema, antara lain penambahan ekuitas, pengalihan aset atau inbreng hingga restrukturisasi pinjaman. Sementara itu, Danantara dan BP BUMN telah selesai memetakan perusahaan berdasarkan skema penanganan dan sedang mengeksekusinya. Langkah eksekusi itu dilakukan secara bertahap.
“Ini sudah selesai kami tentukan, sehingga harapannya yang selalu disampaikan oleh Bapak Presiden (Prabowo Subianto), kami harapkan akhir tahun ini tinggal hanya 200 pusat saja yang kita kelola,” ujarnya.
Dia mencontohkan, untuk BUMN karya, asuransi, dan manajemen investasi, Danantara melakukan konsolidasi atau merger. Adapun untuk PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), akan dilakukan proses restrukturisasi. Skemanya pun berbeda. Langkah penyehatan GIAA adalah dengan menyuntikkan modal lewat skema private placement dan inbreng, sementara KRAS dengan memberikan pinjaman.
Sementara pada proses streamlining lainnya, Danantara memutuskan untuk memangkas 50 anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan mengarahkan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) untuk memangkas seluruh anak usahanya.
Salah satu kelompok perusahaan yang masuk dalam agenda awal restrukturisasi adalah BUMN karya. Danantara akan lebih dulu menangani PT PP Tbk (PTPP), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Brantas Abipraya dan PT Nindya Karya. Menurut Dony, keempat perusahaan itu menjadi prioritas lantaran proses konsolidasi atau merger dinilai relatif lebih mudah dilakukan.
Dia menuturkan, proses merger dan restrukturisasi keempat perusahaan tersebut akan diselesaikan terlebih dulu sebelum Danantara melanjutkan penanganan terhadap perusahaan BUMN lainnya.
Sementara itu, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT) akan ditangani pada tahap berikutnya. Menurut Dony, kedua perusahaan memiliki persoalan yang lebih kompleks, terutama terkait beban utang dan kondisi aset. “Kalau yang Adhi Karya dan lainnya, mereka adalah yang sehat. Jadi hanya WIKA dan Waskita yang akan menjadi persoalan,” ujarnya.
Dony menjelaskan, restrukturisasi WIKA dan Waskita membutuhkan upaya lebih besar karena Danantara perlu terlebih dahulu menyehatkan aset dan menurunkan beban utang kedua perusahaan.
“Karena membutuhkan effort kita untuk melakukan restrukturisasi, investasi aset mereka, menurunkan utangnya. Sisanya akan kita restrukturisasi,” kata Dony.
Dalam kesempatan terpisah sebelumnya, Dony menargetkan restrukturisasi BUMN rampung hingga akhir tahun ini.




