IHSG Longsor 3,28% Sepekan, Ini Proyeksinya di Pekan Depan

Hikma Lia

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan dinamika yang menarik pada penutupan pekan ini, tepatnya pada hari Jumat, 2 Oktober 2026. Setelah mengalami tekanan yang bertubi-tubi sejak beberapa pekan sebelumnya, indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut akhirnya berhasil mencatatkan rebound atau pembalikan arah ke zona hijau. Meskipun demikian, para pelaku pasar tetap harus bersikap waspada karena bayang-bayang tekanan jual yang masif masih menyelimuti pergerakan IHSG secara keseluruhan.

Advertisements

Pada sesi penutupan perdagangan hari Jumat, 2 Oktober 2026, IHSG ditutup menguat sebesar 27,39 poin atau setara dengan kenaikan 0,46% ke level 6.036,89. Walaupun penguatan harian ini memberikan sedikit angin segar bagi para investor, rapor merah yang cukup tebal masih membayangi performa indeks jika dilihat dalam basis mingguan. Sepanjang pekan tersebut, IHSG tercatat masih mengalami penurunan atau longsor yang cukup dalam, yakni mencapai 3,28%.

Melihat fenomena pergerakan pasar ini, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan analisis mendalam mengenai kondisi riil yang sedang terjadi. Menurut Nafan, penguatan IHSG yang terjadi di akhir pekan ini lebih tepat dinilai sebagai sebuah technical rebound atau pembalikan arah teknis jangka pendek. Kenaikan ini merupakan reaksi wajar dari pasar setelah mengalami tekanan jual yang sangat intensif sepanjang bulan September hingga awal Oktober 2026. Ia mengingatkan bahwa momentum bearish atau tren penurunan masih terlihat cukup kuat, sehingga kenaikan satu hari ini tidak dapat langsung disimpulkan sebagai awal dari pembalikan tren menjadi bullish secara permanen.

Advertisements

Nafan Aji Gusta menegaskan bahwa harapan agar IHSG dapat kembali memasuki fase bullish yang kokoh sebenarnya masih sangat terbuka lebar bagi para pelaku pasar. Namun, jika menganalisis kondisi pasar per 2 Oktober 2026, ia memproyeksikan bahwa proses pemulihan tersebut tidak akan terjadi secara instan atau langsung melompat ke arah tren penguatan yang agresif. Proses pemulihan ini diperkirakan harus diawali dengan fase stabilisasi pergerakan indeks terlebih dahulu yang kemudian disusul oleh technical rebound secara bertahap sebelum akhirnya mampu membangun fondasi tren bullish yang solid.

Untuk memahami latar belakang tekanan yang dialami pasar, performa historis IHSG sepanjang bulan September 2026 memang menunjukkan koreksi yang sangat tajam. Selama bulan September tersebut, IHSG tercatat merosot hingga 7,95% dan harus menutup bulan di level 6.071. Tekanan koreksi ini ternyata masih terus berlanjut hingga memasuki awal bulan Oktober. Pada perdagangan tanggal 1 Oktober 2026, IHSG kembali melemah dan ditutup pada level 6.009,50, sebelum akhirnya berhasil mengalami technical rebound ke level 6.036,89 pada perdagangan hari Jumat berikutnya.

Nafan Aji Gusta juga memaparkan bahwa untuk beralih ke tren bullish yang lebih konsisten dan berkelanjutan, terdapat sejumlah prasyarat atau kondisi pasar yang harus terpenuhi. Kondisi-kondisi tersebut meliputi kestabilan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, meredanya yield atau imbal hasil dari obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), berkurangnya aksi jual bersih oleh investor asing hingga berbalik menjadi aksi beli bersih (net buy), serta pulihnya kepercayaan para investor global maupun domestik terhadap prospek pasar modal Indonesia secara menyeluruh.

Salah satu faktor domestik yang menjadi perhatian utama investor adalah nilai tukar rupiah yang sempat tertekan sangat dalam hingga menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS pada tanggal 29 September 2026. Menurut Nafan, rupiah harus kembali bergerak stabil untuk memulihkan kepercayaan pasar. Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi global, khususnya yield US Treasury (UST), juga menjadi sumber tekanan eksternal yang sangat signifikan bagi pasar negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Oleh karena itu, meredanya yield UST menjadi salah satu kunci penting agar tekanan terhadap aliran modal keluar dapat diminimalkan.

Tekanan eksternal yang dipicu oleh kenaikan yield US Treasury dan penguatan nilai tukar dolar AS secara global telah mendorong peningkatan aksi jual oleh investor asing di pasar modal dalam negeri. Sebagai gambaran konkret, pada perdagangan tanggal 1 Oktober 2026, investor asing mencatatkan nilai penjualan bersih (net sell) yang mencapai sekitar Rp 240,4 miliar di pasar reguler. Jika diakumulasikan sepanjang tahun berjalan di 2026, total nilai net sell yang dilakukan oleh investor asing telah menyentuh angka yang sangat signifikan, yakni berkisar di angka Rp 107,4 triliun. Penurunan angka net sell asing ini menjadi indikator penting yang dinantikan pasar untuk memicu pembalikan arah indeks.

Tantangan eksternal bagi pasar modal Indonesia juga semakin diperberat oleh faktor komoditas global dan ketegangan geopolitik. Harga minyak mentah dunia yang terus bertahan di level tinggi serta meningkatnya suhu politik dan ketegangan militer di kawasan Timur Tengah turut memberikan kontribusi negatif terhadap sentimen pasar global. Kondisi ini memicu kehati-hatian yang tinggi di kalangan investor global, yang cenderung memilih untuk mengamankan aset mereka pada instrumen investasi yang lebih aman atau safe haven.

Dari dalam negeri, para pelaku pasar juga dihadapkan pada beberapa sentimen yang menuntut sikap waspada. Kenaikan angka inflasi pada bulan September 2026 serta adanya ketidakpastian politik dan arah kebijakan pasca-dilakukannya reshuffle kabinet membuat para investor cenderung mengambil sikap wait and see. Mereka memilih untuk menahan diri dari transaksi besar sembari mengamati perkembangan situasi politik dan ekonomi domestik dalam beberapa waktu ke depan.

Meskipun demikian, fundamental ekonomi makro Indonesia sebenarnya tidak sepenuhnya menjadi beban bagi pergerakan pasar saham. Indonesia masih memiliki beberapa pilar penyangga ekonomi yang cukup kuat, seperti pencapaian surplus neraca perdagangan pada bulan Agustus 2026 yang berhasil mencatatkan angka sebesar US$ 3,55 miliar. Selain itu, likuiditas di pasar keuangan domestik juga mendapatkan dukungan tambahan melalui kebijakan Bank Indonesia yang meningkatkan porsi pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sepanjang bulan September 2026.

Untuk proyeksi perdagangan pada pekan depan, Nafan Aji Gusta memperkirakan bahwa pergerakan IHSG masih akan berada dalam fase konsolidasi. Berdasarkan analisis teknikal yang dilakukannya, ia menetapkan level support pertama IHSG berada di angka 6.016, dengan level support kedua yang lebih kuat berada di level 5.851. Sementara itu, untuk target penguatan atau level resistance, IHSG diperkirakan akan menghadapi tantangan awal di level 6.180, dan jika berhasil ditembus, target resistance berikutnya berada di level 6.335.

Di tengah fluktuasi indeks saham yang dinamis ini, terdapat beberapa aksi korporasi besar yang juga menarik perhatian para pelaku pasar. Salah satunya adalah rencana pembagian dividen interim oleh raksasa otomotif PT Astra International Tbk (ASII). Perusahaan tersebut dijadwalkan akan membagikan dividen interim dengan total nilai mencapai Rp 3,89 triliun. Bagi para pemburu dividen, tanggal cum dividen untuk aksi korporasi ini dijadwalkan jatuh pada tanggal 14 Oktober 2026, yang diharapkan dapat memberikan sentimen positif tersendiri bagi pergerakan saham emiten berkode ASII tersebut.

Selain pasar ekuitas, instrumen investasi alternatif seperti emas batangan juga mengalami penyesuaian harga di akhir pekan. Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari Sabtu, 3 Oktober 2026, tercatat mengalami penurunan sebesar Rp 2.000 per gram. Dengan penurunan tersebut, harga emas Antam kini berada di level Rp 2.574.000 per gram. Perkembangan harga emas ini tetap menjadi salah satu acuan penting bagi para investor dalam menyeimbangkan portofolio investasi mereka di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global dan domestik.

Advertisements

Also Read

Tags