PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (dengan kode emiten NAYZ) sedang berada di ambang transformasi bisnis yang sangat signifikan. Perusahaan yang selama ini dikenal luas oleh masyarakat dan pelaku pasar modal sebagai produsen makanan bayi kini bersiap melebarkan sayapnya ke sektor yang jauh berbeda, yaitu industri telekomunikasi dan solusi digital. Langkah berani ini diambil setelah masuknya pengendali baru, yaitu Saiko Consultancy Pte Ltd, sebuah perusahaan holding yang berbasis di Singapura. Perubahan haluan bisnis yang sangat kontras ini menandai babak baru bagi perjalanan korporasi NAYZ di lantai bursa.
Rencana Ekspansi dan Nilai Transaksi Fantastis
Keputusan ekspansi PT Hassana Boga Sejahtera Tbk ke sektor telekomunikasi diwujudkan melalui rencana akuisisi yang bernilai fantastis. NAYZ berencana mengambil alih mayoritas kepemilikan saham di Bangkok Tellink Co Ltd (BTL), sebuah perusahaan teknologi telekomunikasi dan penyedia solusi digital terintegrasi yang berbasis di Thailand. Dalam rencana aksi korporasi ini, NAYZ akan membeli sebanyak 5.692.500 lembar saham yang mewakili 75% dari seluruh modal saham yang telah diterbitkan dan disetor penuh pada Bangkok Tellink Co Ltd dari Saiko Consultancy Pte Ltd.
Nilai transaksi akuisisi ini mencapai USD 125 juta atau setara dengan kurang lebih Rp 2,23 triliun. Angka tersebut menunjukkan skala transaksi yang sangat besar bagi emiten sekelas NAYZ, terutama jika dibandingkan dengan skala bisnis makanan bayi yang selama ini menjadi penopang utama pendapatan perseroan. Bangkok Tellink sendiri dikenal sebagai pemain di sektor teknologi telekomunikasi yang memiliki portofolio solusi digital terintegrasi di Thailand, didirikan serta dipimpin langsung oleh Nusttanakit Sasiarnon.
Struktur Kepemilikan dan Peran Strategis Nusttanakit Sasiarnon
Masuknya Bangkok Tellink ke dalam portofolio bisnis NAYZ tidak lepas dari peran penting Nusttanakit Sasiarnon. Beliau bukan hanya pendiri dan pemimpin Bangkok Tellink Co Ltd, melainkan juga memiliki posisi strategis di dalam tubuh PT Hassana Boga Sejahtera Tbk. Sejak diadakannya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biar (RUPSLB) pada hari Jumat, 2 Oktober lalu, Nusttanakit telah resmi menjabat sebagai salah satu direktur di NAYZ.
Selain menjabat sebagai direktur, Nusttanakit Sasiarnon juga diidentifikasi sebagai pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) dari Saiko Consultancy Pte Ltd. Saiko Consultancy sendiri merupakan entitas holding asal Singapura yang saat ini menggenggam kepemilikan sebesar 29,41% saham di NAYZ. Hubungan kepemilikan dan kepengurusan yang saling bertautan ini menunjukkan bahwa rencana akuisisi Bangkok Tellink oleh NAYZ dari Saiko Consultancy merupakan sebuah transaksi afiliasi yang sangat erat, di mana Nusttanakit bertindak sebagai penghubung utama di antara entitas-entitas tersebut.
Kronologi Perubahan Pengendali NAYZ
Perubahan peta kepemilikan PT Hassana Boga Sejahtera Tbk dimulai beberapa bulan sebelum rencana akuisisi Bangkok Tellink diumumkan ke publik. Tepatnya pada tanggal 19 Agustus 2026, terjadi aksi korporasi berupa pengambilalihan saham pengendali NAYZ oleh Saiko Consultancy Pte Ltd. Dalam transaksi tersebut, perusahaan holding asal Singapura ini mengambil alih sebanyak 750.000.000 lembar saham NAYZ.
Jumlah saham yang diambil alih tersebut setara dengan 29,41% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan. Saham-saham ini sebelumnya dimiliki oleh PT Asia Intrainvesta. Dengan selesainya transaksi pada pertengahan Agustus 2026 tersebut, Saiko Consultancy secara resmi menggeser posisi PT Asia Intrainvesta dan mengukuhkan dirinya sebagai pemegang saham pengendali baru dari PT Hassana Boga Sejahtera Tbk.
Mekanisme Pembayaran dan Skema Transaksi Inbreng
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip pada hari Selasa, 6 Oktober, rencana pengambilalihan 75% saham Bangkok Tellink ini telah dituangkan dalam Penandatanganan Perjanjian Pengalihan Saham Bersyarat (Conditional Share Purchase Agreement) antara Saiko Consultancy Pte Ltd selaku penjual dan NAYZ selaku pembeli.
Untuk menyelesaikan transaksi senilai USD 125 juta ini, kedua belah pihak menyepakati skema pembayaran yang terbagi menjadi dua bagian utama:
- Pembayaran Tunai (20%): Sebanyak 20% dari total saham Bangkok Tellink yang hendak diambil alih akan dibayarkan oleh NAYZ secara tunai setelah seluruh proses penyelesaian transaksi terpenuhi.
- Setoran Modal Non-Uang atau Inbreng (80%): Sisa 80% dari nilai transaksi akan diselesaikan melalui mekanisme kontribusi modal dalam bentuk selain uang (inbreng). Dalam skema ini, Saiko Consultancy akan menyerahkan sisa porsi saham Bangkok Tellink kepada NAYZ sebagai setoran modal untuk pelaksanaan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue yang akan digelar oleh NAYZ.
Namun, penyelesaian seluruh rangkaian transaksi ini tidak serta-merta terjadi begitu saja. Transaksi ini masih bergantung pada pemenuhan berbagai persyaratan pendahuluan yang telah diatur secara rinci di dalam perjanjian tertulis. Salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah perolehan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) independen NAYZ, mengingat status transaksi ini yang melibatkan pihak terafiliasi.
Kewajiban Penawaran Tender Wajib (Mandatory Tender Offer)
Sebagai konsekuensi logis dari masuknya Saiko Consultancy sebagai pemegang saham pengendali baru NAYZ sejak 19 Agustus 2026, perusahaan asal Singapura tersebut berkewajiban untuk melaksanakan Penawaran Tender Wajib (Mandatory Tender Offer/MTO) terhadap saham publik yang beredar di masyarakat. Hal ini sesuai dengan regulasi pasar modal yang berlaku untuk melindungi hak-hak pemegang saham minoritas saat terjadi perubahan pengendali.
Untuk menjalankan kewajiban tender wajib tersebut, Saiko Consultancy telah menyiapkan dana segar dengan jumlah maksimal mencapai Rp 87,68 miliar. Guna memperlancar proses pelaksanaan di lapangan, Saiko Consultancy telah menunjuk anak usahanya, yaitu PT Saiko Consultancy Grand (SCG), sebagai pihak pelaksana teknis penawaran tender wajib tersebut.
Respons Positif Pasar dan Pergerakan Saham NAYZ
Pengumuman mengenai rencana akuisisi Bangkok Tellink langsung direspons secara positif oleh para pelaku pasar modal di Bursa Efek Indonesia. Sentimen positif dari rencana diversifikasi bisnis ke sektor teknologi telekomunikasi ini memicu lonjakan harga saham NAYZ secara signifikan dalam waktu singkat.
Pada perdagangan hari Senin, 5 Oktober, saham NAYZ tercatat melonjak sebesar 9,59% dan ditutup di level Rp 80 per lembar saham. Tren kenaikan ini terus berlanjut pada perdagangan hari berikutnya, Selasa, 6 Oktober, di mana saham NAYZ kembali melesat sebesar 10% hingga menyentuh level Rp 88 per lembar saham. Jika diakumulasikan dalam kurun waktu satu pekan perdagangan, saham emiten makanan bayi yang sedang bertransformasi ini telah mencatatkan kenaikan fantastis sebesar 27,54%.
Analisis Kinerja Keuangan dan Kondisi Fundamental Perseroan
Meskipun pergerakan harga saham NAYZ di pasar sekunder menunjukkan performa yang sangat impresif akibat sentimen akuisisi, kondisi fundamental keuangan perseroan sebenarnya masih menghadapi tantangan yang cukup berat. Berdasarkan laporan keuangan interim pada semester pertama tahun 2026, NAYZ masih mencatatkan kinerja operasional yang kurang memuaskan dengan kerugian yang membengkak.
Pada paruh pertama tahun 2026, PT Hassana Boga Sejahtera Tbk membukukan rugi bersih sebesar Rp 2,97 miliar. Angka kerugian ini mengalami pembengkakan yang sangat signifikan, yaitu mencapai 156,03% jika dibandingkan dengan kerugian pada periode yang sama di tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 1,16 miliar.
Pembengkakan rugi bersih ini terutama dipicu oleh penurunan pendapatan usaha perseroan yang sangat drastis. Pendapatan NAYZ merosot tajam dari Rp 17,80 miliar pada semester pertama tahun sebelumnya menjadi hanya sebesar Rp 3,64 miliar secara tahunan atau year-on-year (YoY). Di sisi lain, beban keuangan yang harus ditanggung oleh perseroan juga mengalami peningkatan dari Rp 30,06 juta menjadi sebesar Rp 40,17 juta secara tahunan pada semester pertama tahun 2026 ini. Kondisi fundamental yang tertekan ini diduga menjadi salah satu faktor pendorong bagi manajemen dan pengendali baru untuk melakukan langkah strategis berupa perubahan arah bisnis demi memperbaiki kinerja keuangan perseroan di masa mendatang.




