Saham big banks tertekan, valuasi BBNI hingga BBCA makin murah

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Koreksi saham perbankan berkapitalisasi besar sepanjang 2026 telah membawa valuasi sejumlah big banks ke level yang relatif rendah dibandingkan rata-rata historis. Kondisi ini membuka peluang re-rating, meski investor masih menunggu kepastian mengenai pertumbuhan laba dan perbaikan margin.

Advertisements

Berdasarkan data per 7 Oktober 2026, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) sekitar 6,20 kali dengan price to book value (PBV) 0,78 kali.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memiliki PER sekitar 6,15 kali dan PBV 1,34 kali. Sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berada pada PER 7,77 kali dan PBV 1,48 kali.

Advertisements

Adapun PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih diperdagangkan pada valuasi premium dengan PER sekitar 12,85 kali dan PBV 2,76 kali.

Kondisi tersebut menunjukkan telah terjadi multiple compression pada saham-saham perbankan besar. Investor kini bersedia membayar lebih rendah untuk setiap rupiah laba maupun nilai buku bank dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Utang KDMP ke Himbara Siap Dibayar: Menanti Verifikasi Koperasi

Dari sisi valuasi absolut, BBNI menjadi salah satu bank besar dengan valuasi paling rendah. PER BBNI kini sekitar 6,20 kali, sedangkan PBV berada di bawah satu kali.

Pada akhir 2025, PER BBNI masih berada di kisaran 8-9 kali dengan PBV sekitar 0,9 kali. Artinya, terjadi penurunan multiple yang cukup signifikan dalam waktu kurang dari satu tahun.

BMRI juga berada pada level valuasi rendah dengan PER sekitar 6,15 kali dan PBV 1,34 kali. Dengan tingkat pengembalian terhadap ekuitas atau return on equity (ROE) yang masih tinggi, penurunan valuasi BMRI menunjukkan pasar telah memberikan diskon lebih besar terhadap saham tersebut.

Sementara itu, BBRI kini diperdagangkan pada PER sekitar 7,77 kali dan PBV 1,48 kali. Valuasi tersebut juga jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Secara historis, PER BBRI sempat berada di kisaran 25 kali pada 2021, sebelum turun menjadi sekitar 14 kali pada 2022-2023, 10 kali pada 2024 dan sekitar 9,7 kali pada 2025. Kini, multiple BBRI telah turun ke sekitar 7,7 kali.

Berbeda dengan ketiga bank tersebut, BBCA memang telah mengalami derating, tetapi valuasinya masih berada di level premium. PER BBCA kini sekitar 12,85 kali, turun dari sekitar 17,4 kali pada akhir 2025.

Artinya, meski valuasi BBCA sudah turun cukup banyak dibandingkan level sebelumnya, investor masih memberikan premi atas fundamental perseroan. Dengan demikian, BBCA belum dapat dikategorikan sebagai bank dengan valuasi murah dibandingkan peers di kelompok big banks.

Basis investor masyarakat juga menjadi perhatian di tengah koreksi saham perbankan.

BBRI, misalnya, memiliki basis pemegang saham masyarakat yang besar. Berdasarkan data BEI, porsi kepemilikan masyarakat di BBRI mencapai sekitar 46,75% jika kategori masyarakat warkat dan nonwarkat digabungkan.

Bank Mandiri juga memiliki porsi kepemilikan masyarakat sekitar 40,46%. Kemudian, porsi kepemilikan masyarakat di BBNI mencapai sekitar 40,47%, sedangkan BBCA sekitar 44,64%.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, secara valuasi saham big banks saat ini relatif menarik dibandingkan rata-rata historis, terutama setelah mengalami tekanan harga dan derating multiple.

Pembiayaan Multiguna Tumbuh Pesat, Multifinance Tetap Waspadai Daya Beli

Menurut Nafan, BBNI menjadi salah satu yang paling undervalued karena PBV dan PER-nya relatif rendah dibandingkan peers. Sementara itu, BMRI menawarkan kombinasi antara valuasi, profitabilitas dan prospek pertumbuhan.

BBRI dinilai menarik dari sisi recovery earnings, sedangkan BBCA tetap memiliki kualitas fundamental yang paling defensif meski masih memperoleh premi valuasi.

Nafan menilai, penurunan PER dan PBV big banks lebih banyak mencerminkan penurunan ekspektasi investor terhadap pertumbuhan laba dan peningkatan risk premium, bukan memburuknya fundamental perbankan secara struktural.

Tekanan terhadap NIM menjadi perhatian karena kenaikan cost of fund (CoF) berpotensi membatasi ekspansi margin. Sementara itu, pertumbuhan kredit juga masih menjadi faktor yang perlu dipantau.

“Pasar saat ini cenderung melakukan earnings-growth compression atau de-rating terhadap sektor perbankan karena mempertanyakan keberlanjutan pertumbuhan laba, bukan karena terjadi kerusakan fundamental yang signifikan,” kata Nafan kepada kontan,co,id, Rabu (7/10).

Menurut dia, valuasi murah dapat menjadi katalis awal untuk mendorong technical rebound maupun re-rating. Namun, valuasi murah saja belum cukup untuk mendorong kenaikan harga yang berkelanjutan.

Nafan menyebut, pasar masih membutuhkan konfirmasi berupa stabilisasi rupiah, penurunan CoF, perbaikan NIM, serta pertumbuhan kredit yang tetap solid agar ekspektasi pertumbuhan laba kembali meningkat.

Dengan kondisi tersebut, Nafan melihat saham big banks sebagai kandidat re-rating. Jika NIM mulai mencapai titik terendah dan pertumbuhan laba kembali mengakselerasi, ruang pemulihan multiple semakin terbuka.

Dari sisi risk-reward, Nafan melihat BBNI menarik dari sisi valuasi, BMRI menawarkan keseimbangan antara valuasi dan fundamental, BBRI berpotensi menjadi recovery play, sementara BBCA lebih sesuai bagi investor yang mengutamakan kualitas dan defensif.

Nafan memberikan rekomendasi buy untuk keempat saham tersebut, dengan target harga BBCA Rp7.900, BBNI Rp4.020, BBRI Rp3.570, dan BMRI Rp4.720.

Managing Director Solstice Indonesia Handiman Soetoyo memiliki pandangan bahwa tingkat diskon big banks terhadap rata-rata historisnya relatif berimbang.

Berdasarkan forward PBV FY2026 dibandingkan rata-rata lima tahun, BBCA berada di 2,6 kali versus 4 kali atau diskon 35%. BMRI 1,1 kali versus 1,7 kali atau diskon 35%, BBRI 1,4 kali versus 2,1 kali atau diskon 33%, dan BBNI 0,7 kali versus 1,1 kali atau diskon 35%.

“Semua hampir mirip tingkat undervaluasi-nya dibanding rata-rata historis,” ujar Handiman.

Menurut Handiman, penurunan valuasi lebih mencerminkan perubahan ekspektasi dan kenaikan risk premium daripada kerusakan fundamental.

10 Unitlink Saham dengan Return Tertinggi hingga September 2026

Tekanan likuiditas yang berpotensi mendorong kenaikan CoF dan menekan NIM, ditambah meningkatnya risiko kredit, menjadi faktor yang mendorong penurunan valuation multiple.

“Fundamental masih tumbuh, tetapi investor meragukan sustainability dari ROE dan pertumbuhan laba ke depan,” katanya.

Handiman juga menilai valuasi murah belum cukup menjadi katalis bagi kenaikan harga saham. Investor perlu melihat tekanan likuiditas mereda, NIM mulai berbalik arah dan estimasi laba direvisi naik.

Dari empat big banks, Handiman memilih BMRI sebagai saham dengan risk-reward paling menarik hingga akhir 2026.

Salah satu alasannya adalah momentum laba BMRI. Laba bank-only delapan bulan 2026 tumbuh 22,3% yoy, didukung laba inti pre-provision operating profit (PPOP) yang naik 23%. Sementara itu, cost of credit (CoC) berada di level 0,6%.

Handiman melihat, katalis BMRI berasal dari membaiknya posisi likuiditas dan stabilisasi NIM. Selain itu, asset yield repricing berpotensi terjadi mengingat besarnya porsi kredit korporasi berbunga floating.

Dengan sustainable ROE 18%, Handiman memperkirakan rentang valuasi wajar BMRI berdasarkan PBV berada di 1,4-1,6 kali, setara dengan harga Rp5.300-Rp6.100 per saham.

Namun, risiko utama BMRI saat ini berada pada likuiditas dan permodalan. CAR BMRI tercatat 17,5% per Juni 2026

Advertisements

Also Read

Tags