Produksi & ekspansi jadi penopang Pertamina Geothermal (PGEO), ini rekomendasi analis

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dinilai masih memiliki prospek pertumbuhan yang positif hingga 2029, ditopang peningkatan produksi dan pengembangan sejumlah proyek panas bumi.

Advertisements

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama mengatakan, kenaikan produksi dan keandalan aset masih menjadi penopang utama kinerja PGEO hingga akhir 2026.

“Sampai Juli, produksi sudah mencapai 3.222 GWh dari target setahun 5.255 GWh, sementara availability factor masih berada di sekitar 99,5%. Jadi secara operasional posisinya masih cukup kuat dan target produksi tahun ini masih cukup realistis selama tidak ada gangguan besar,” kata Kevin kepada Kontan, Selasa (6/10/2026).

Advertisements

Namun, Kevin memperkirakan pertumbuhan secara year-on-year (YoY) akan lebih normal pada semester II-2026. Pasalnya, Lumut Balai Unit 2 telah beroperasi penuh sejak akhir Juni 2025 sehingga periode pembanding tahun ini sudah memperoleh kontribusi dari unit tersebut.

Laba Pertamina Geothermal (PGEO) Tumbuh 15,48%, Produksi Geothermal Cetak Rekor

Hingga semester I-2026, PGEO membukukan pendapatan US$ 235,03 juta atau tumbuh 14,7% secara tahunan. Laba bersih perusahaan juga meningkat 15,48% menjadi US$ 79,61 juta.

Sementara itu, kontribusi langsung dari Lumut Balai Unit 3 dan 4 belum akan terlihat hingga 2029. Kevin menyebut kedua proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi masing-masing pada 2030 dan 2032.

“Kalau bicara pertumbuhan sampai 2029, kontribusi langsungnya justru belum datang dari Lumut Balai Unit 3 dan 4 karena roadmap terbaru menargetkan keduanya baru beroperasi pada 2030 dan 2032,” ujarnya.

Menurut Kevin, tambahan kapasitas PGEO hingga 2029 lebih banyak berasal dari Hululais, sejumlah proyek co-generation dan low pressure, serta Gunung Tiga yang ditargetkan beroperasi pada 2029.

Co-generation merupakan pemanfaatan panas bumi dari aset yang sudah ada untuk menghasilkan energi tambahan, sedangkan proyek low pressure memanfaatkan sumber uap bertekanan rendah. Menurut Kevin, co-generation cukup menarik karena memanfaatkan sumber panas bumi dari aset yang sudah ada sehingga risiko eksplorasinya relatif lebih rendah dibandingkan proyek greenfield atau proyek yang dikembangkan dari area baru.

Secara keseluruhan, roadmap PGEO menunjukkan kapasitas terpasang berpotensi meningkat dari 727 MW pada 2026 menjadi sekitar 1.027 MW pada 2029, dengan catatan proyek-proyek tersebut berjalan sesuai jadwal.

Pertamina Geothermal (PGEO) Siapkan Listrik Panas Bumi untuk Green Data Center

“Untuk Lumut Balai 3 dan 4, progres pengeboran dan pendanaan tetap penting karena bisa memberi kepastian lebih besar terhadap pertumbuhan setelah 2029,” kata Kevin.

Dari sisi katalis, Kevin melihat kemampuan PGEO menjaga produksi dan keandalan aset serta memastikan proyek baru berjalan sesuai jadwal menjadi faktor utama. Dalam waktu dekat, progres pengeboran Lumut Balai, pengujian sumur Gunung Tiga, dan perkembangan proyek co-generation akan menjadi perhatian.

Adapun risiko yang perlu dicermati antara lain keterlambatan proyek, kondisi reservoir dan hasil pengeboran, kenaikan biaya pengembangan, serta ketergantungan yang masih cukup besar terhadap PLN.

Dari sisi pergerakan saham, Kevin melihat PGEO mulai menunjukkan rebound setelah mengalami koreksi dan kini kembali berada di area MA50.

“Momentum rebound masih berpotensi berlanjut selama harga mampu bertahan di area tersebut, dengan target jangka pendek di kisaran Rp 1.000-Rp 1.040 per saham,” pungkasnya.

PGEO Gelar MESOP 127 Juta Saham Mulai 24 Agustus Selama 30 Hari

Advertisements

Also Read

Tags