IHSG diprediksi masih tertekan Kamis (8/10), investor perlu cermati 3 sentimen ini

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (8/10/2026) diperkirakan masih dibayangi tekanan eksternal. Investor akan mencermati perkembangan harga minyak dunia, penguatan dolar AS, serta hasil risalah rapat The Federal Reserve atau FOMC Minutes.

Advertisements

Pada perdagangan Rabu (7/10/2026), IHSG ditutup melemah 0,75% atau 46,21 poin ke level 6.146,72.

Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksi pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Menurutnya, tekanan terhadap IHSG sejalan dengan mayoritas bursa regional Asia yang turut melemah setelah harga minyak mentah dunia meningkat akibat eskalasi Houthi yang menyerang jalur distribusi energi.

Advertisements

Kenaikan harga minyak tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi energi. Pada saat yang sama, penguatan indeks dolar AS (DXY) turut memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia, termasuk rupiah.

Dividen Interim vs SBN Ritel, Mana Lebih Menarik?

Untuk perdagangan Kamis (8/10/2026), Herditya memperkirakan IHSG akan bergerak pada area support 6.134 dan resistance 6.156. Investor akan mencermati pergerakan harga energi dunia sekaligus menunggu rilis FOMC Minutes untuk mendapatkan gambaran mengenai arah kebijakan The Fed selanjutnya.

Dari sisi saham, Herditya merekomendasikan investor mencermati sejumlah saham, yakni DEWA pada rentang Rp 380-Rp 396, HRTA Rp 2.250-Rp 2.300, dan TLKM Rp 2.400-Rp 2.460.

Sementara itu, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai IHSG masih memiliki peluang untuk mencatatkan technical rebound meski sebelumnya terkoreksi pada perdagangan Rabu.

“Tekanan terutama berasal dari saham BYAN, sementara investor tetap mencermati kenaikan yield US Treasury dan harga minyak. Di sisi lain, sentimen domestik mendapat katalis dari FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market, serta posisi cadangan devisa September yang relatif solid di US$146,3 miliar, hanya turun tipis dari US$146,5 miliar pada Agustus,” ujarnya kepada Kontan (7/10/2026).

Untuk perdagangan Kamis, Reza menilai perhatian pasar akan beralih pada respons terhadap FOMC Minutes yang dirilis Rabu malam. Investor terutama akan mencermati perbedaan pandangan di antara anggota The Fed mengenai potensi kenaikan suku bunga berikutnya.

Siap-Siap! Sejumlah BUMN Bakal Melantai di BEI pada 2027, Ini Sektornya

Selain itu, yield US Treasury 10 tahun yang kembali berada di sekitar 5,3% dan harga Brent yang bertahan di atas US$100 per barel masih menjadi risiko bagi tekanan inflasi serta biaya dana global.

Pelaku pasar juga akan mencermati hasil lelang US Treasury 10 tahun dan perkembangan konflik di Timur Tengah. Kedua faktor tersebut berpotensi kembali memengaruhi pergerakan harga energi dan sentimen pasar saham global.

Secara teknikal, Reza menyebut area support IHSG berada pada level 6.100-6.120. Sementara itu, resistance sekaligus area gap berada di kisaran 6.200-6.240.

Namun, kenaikan yield US Treasury dan indikator MACD yang belum sepenuhnya menunjukkan sinyal bullish membuat investor masih membutuhkan konfirmasi momentum sebelum IHSG dapat melanjutkan penguatan.

Advertisements

Also Read

Tags