Tebus murah BYAN di tengah risiko gadai saham JARR-PGUN milik Haji Isam

Hikma Lia

Dua saham milik bos Jhonlin Group, Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) digadai kepada bank BUMN PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Advertisements

Aksi itu seiring dengan manuver crazy rich Kalimantan itu mengakuisisi emiten tambang batu bara milik konglomerat Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Melalui PT Jhonlin Baratama, jumlah saham BYAN yang dicaplok Haji Isam bertambah 84,09 juta saham menjadi 10,08 miliar saham. Manajemen Bayan Resources mengatakan jumlah saham biasa perusahaan yang akan dialihkan kepada PT Jhonlin Baratama bertambah menjadi 10.084.088.370 saham dari sebelumnya 10.000.000.500 saham atau sekitar 30,25%.

Advertisements

Lalu saham BYAN terpantau mencatatkan transaksi crossing jumbo di pasar negosiasi pada Rabu (7/10) kemarin, dengan total transaksi sekitar 10,08 miliar saham atau Rp 26,1 triliun, di harga Rp 2.588 per saham. Aksi senyap itu terjadi tiga kali.

Baca juga:

  • IHSG Ditutup Naik 1,04%, Ada Crossing Jumbo di Saham VICI, DOOH, hingga SMMA
  • Aksi Senyap Saraswati Ponakan Prabowo Bidik 2,4% Saham dan jadi Komisaris VICI
  • Margin Trading: Cara Kerja, Kelebihan, Risiko, dan Hal-Hal yang Perlu Diketahui

Melihat hal itu, Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Fauzan Luthfi Djamal mengatakan, opsi menjual saham JARR dan PGUN secara praktis tidak tersedia. Pasalnya, porsi saham publik (free float) JARR hanya 2,70%, sedangkan PGUN 0,07%.

Nilai blok saham yang dijaminkan mencapai sekitar Rp 64,7 triliun, sementara nilai transaksi harian kedua saham hanya Rp 71,7 miliar secara gabungan. Fauzan mengatakan nilai tersebut setara dengan sekitar 900 hari bursa jika pengendali menjadi satu-satunya penjual.

Ia juga menyoroti penjualan saham dalam jumlah besar juga berisiko menghancurkan harga saham yang justru menjadi dasar nilai jaminan itu sendiri.

Fauzan juga mencatat aksi tersebut merupakan gadai saham, bukan repurchase agreement (repo). Dalam gadai saham, kepemilikan tetap berada di tangan pengendali, sedangkan dalam repo kepemilikan berpindah ke pemberi dana.

“Perbedaan ini bisa nentuin siapa pemilik saham apabila terjadi wanprestasi,” kata Fauzan kepada Katadata.co.id, Kamis (9/10).

Namun, terkait apakah aksi ini menjadi exit liquidity bagi pengendali PGUN dan JARR, Fauzan mengatakan, secara hukum hal itu mungkin tidak terjadi karena gadai bukan merupakan pengalihan kepemilikan. Namun, secara ekonomi, aksi ini menjadi satu-satunya cara untuk mengubah nilai saham di pasar menjadi uang tunai tanpa melalui proses pembentukan harga di pasar.

Menurut Fauzan, kuncinya ada di aset apa yang dapat ditagih bank apabila pinjaman macet. Apabila bank hanya dapat mengambil saham yang dijaminkan, bank akan menjadi pemegang saham yang sulit dijual. Sementara itu, secara ekonomi, pengendali sudah menukar saham dengan uang tunai berdasarkan harga pasar.

“Trus, apabila bank juga dapat menagih aset dan arus kas grup yang lain, misalnya tambang, kebun, pabrik, atau jaminan pribadi, maka ini pinjaman korporasi biasa dan sahamnya hanya berfungsi sebagai pengikat,” kata Fauzan.

Haji Isam Gadai 100% Saham PGUN dan JARR

JARR sebelumnya mengumumkan telah menggadaikan saham pengendali perseroan, PT Eshan Agro Sentosa kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) pada Rabu (30/9) pekan lalu. Sementara laporan mengenai aksi korporasi itu disampaikan perseroan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (7/10).

Dalam dokumen itu disebutkan, PT Eshan Agro Sentosa menggadaikan saham ke BMRI mencapai 7.997.556.204 lembar atau 100% dari total saham yang dimiliki Eshan.

“Penandatanganan akta gadai saham milik PT Eshan Agro Sentosa, yang merupakan pengendali dari perseroan dalam rangka bagian dari pengikatan jaminan atas fasilitas Kredit yang diperoleh perseroan dari Bank Mandiri,” ungkap Direktur Utama JARR, Indra Irawan, dalam dokumen tersebut.

PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) melaporkan penggadaian seluruh saham milik tiga pemegang sahamnya, yakni PT Araya Agro Lestari sebanyak 2,20 miliar saham, PT Citra Agro Raya sebanyak 2,19 miliar saham, dan PT Baramega Citra Mulia Persada sebanyak 900 juta saham. Transaksi tersebut pada 30 September 2026

Advertisements

Also Read

Tags