Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, telah menyampaikan peringatan serius mengenai dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap lanskap pasar tenaga kerja global. Perhatian utamanya tertuju pada kelompok rentan, khususnya para lulusan baru yang baru saja memasuki bursa kerja dan berupaya mendapatkan pekerjaan pertama mereka. Georgieva secara tegas menggambarkan pengaruh AI ini sebagai “tsunami yang bergerak perlahan,” sebuah analogi yang menggarisbawahi sifat perubahan yang bertahap namun memiliki daya hancur yang signifikan dan meluas.
Menurut Georgieva, segmen populasi yang paling berisiko adalah kaum muda yang baru saja menyelesaikan pendidikan dan siap untuk berkontribusi di dunia profesional. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa banyak posisi tingkat pemula atau entry-level, yang secara tradisional berfungsi sebagai gerbang utama bagi individu untuk membangun karier profesional, kini sangat berpotensi untuk digantikan atau diotomatisasi oleh teknologi AI. Posisi-posisi ini seringkali melibatkan tugas-tugas rutin, berulang, dan berbasis aturan yang sangat cocok untuk diotomatisasi, sehingga mengurangi kebutuhan akan campur tangan manusia.
“Orang-orang yang pertama-tama perlu dikhawatirkan adalah kaum muda yang memasuki pasar tenaga kerja,” demikian penekanan Georgieva, sebagaimana dikutip dari CNBC International pada hari Senin, 12 Oktober. Pernyataan ini menyoroti kekhawatiran mendalam mengenai prospek karier bagi generasi mendatang. Lulusan baru biasanya memulai perjalanan profesional mereka dengan mengemban tugas-tugas yang terstruktur dan dapat diprediksi. Pengalaman awal ini krusial untuk pengembangan keterampilan, pemahaman tentang dinamika tempat kerja, dan membangun jaringan profesional. Namun, dengan semakin meluasnya otomatisasi pekerjaan-pekerjaan dasar ini, kesempatan bagi mereka untuk memperoleh pengalaman kerja awal yang fundamental berisiko menyusut drastis, menghambat jalur perkembangan karier mereka.
Kekhawatiran yang serupa juga diungkapkan oleh Presiden Singapura, Tharman Shanmugaratnam, yang juga menjabat sebagai Ketua Bersama Dewan Pekerjaan Bank Dunia. Shanmugaratnam menyerukan agar pemerintah di seluruh dunia mempertimbangkan untuk mengintegrasikan program dukungan ketenagakerjaan yang telah terbukti efektif selama pandemi Covid-19 ke dalam kerangka kebijakan struktural jangka panjang. Tujuannya adalah untuk menciptakan mekanisme yang lebih kuat dan berkelanjutan guna membantu generasi muda melakukan transisi yang mulus ke dunia kerja yang semakin kompetitif dan digerakkan oleh teknologi.
Tharman mengemukakan bahwa kolaborasi erat antara pemerintah dan sektor swasta adalah kunci. Pemerintah perlu merancang dan menerapkan insentif yang menarik bagi perusahaan, mendorong mereka untuk tetap merekrut lulusan baru meskipun ada tekanan dari otomatisasi. Permintaan terhadap tenaga kerja untuk posisi awal karier, yang merupakan “jenjang pertama dalam pekerjaan,” telah menunjukkan tren pelemahan. Ini bukan hanya fenomena sementara, melainkan indikasi pergeseran fundamental dalam kebutuhan pasar kerja. Penurunan permintaan ini menimbulkan tantangan serius bagi lembaga pendidikan dan para pembuat kebijakan untuk memastikan bahwa lulusan memiliki keterampilan yang relevan dan ada jalur yang jelas menuju pekerjaan.
Peringatan dari para pemimpin institusi global ini mengindikasikan pergeseran signifikan dalam fokus pembuat kebijakan. Jika sebelumnya perdebatan mengenai AI cenderung berkisar pada pertanyaan apakah teknologi ini akan mengganggu pasar tenaga kerja, kini diskusinya telah bergeser ke arah yang lebih proaktif: bagaimana mengurangi dampak negatif dari perubahan ini terhadap pekerja, khususnya mereka yang paling rentan. Transformasi ini bukan lagi pertanyaan “jika” tetapi “bagaimana” dan “kapan.”
Tantangan ini menjadi semakin kompleks mengingat konteks demografi global, terutama di Asia, di mana tren penuaan penduduk berpotensi mengurangi jumlah angkatan kerja produktif. Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, menyoroti skala masalah ini dengan perkiraan bahwa sekitar 1,2 miliar anak muda akan mencapai usia 18 tahun dalam kurun waktu 15 tahun ke depan. Angka yang fantastis ini menuntut penciptaan lapangan kerja dalam skala besar, sebuah tugas yang secara historis sebagian besar diemban oleh sektor swasta.
Sektor swasta, yang secara konsisten menghasilkan antara 75 hingga 85% lapangan kerja di sebagian besar negara, diharapkan untuk menyerap sebagian besar angkatan kerja baru yang masif ini. Banga menekankan bahwa pemerintah memiliki peran krusial dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perusahaan untuk memperluas perekrutan. Ini dapat dicapai melalui berbagai strategi, termasuk pembangunan infrastruktur yang memadai, penyusunan kebijakan yang secara eksplisit mendukung penciptaan lapangan kerja, serta pengurangan risiko investasi bagi sektor swasta. Dengan meminimalkan hambatan dan memberikan kepastian, pemerintah dapat mendorong sektor swasta untuk berinvestasi dan, pada gilirannya, menciptakan peluang kerja. “Modal swasta yang menciptakan lapangan kerja,” kata Banga, menggarisbawahi peran fundamental investasi swasta.
IMF memperkirakan bahwa sekitar 40% dari seluruh pekerjaan di dunia pada akhirnya akan mengalami perubahan substansial akibat integrasi AI. Perubahan ini dapat bermanifestasi dalam beberapa cara: peningkatan kemampuan pekerja melalui alat AI, penurunan kebutuhan tenaga kerja untuk tugas-tugas tertentu yang kini diotomatisasi, atau bahkan penghapusan total beberapa jenis pekerjaan. Proyeksi ini menunjukkan tingkat disrupsi yang luas dan mendalam di berbagai sektor ekonomi.
Paparan terhadap AI diperkirakan akan mencapai puncaknya di negara-negara maju, dengan angka sekitar 60%. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh tingkat adopsi teknologi yang lebih tinggi dan struktur ekonomi yang lebih banyak mengandalkan pekerjaan berbasis pengetahuan yang rentan terhadap otomatisasi AI. Sebaliknya, di negara-negara berpendapatan rendah, angka paparan diperkirakan sekitar 23%. Namun, Georgieva dengan tegas menyatakan bahwa angka yang lebih rendah di negara-negara miskin tidak secara otomatis berarti mereka lebih terlindungi. Sebaliknya, ini lebih merupakan indikator bahwa adopsi AI di wilayah tersebut belum meluas secara signifikan. Begitu teknologi ini mulai meresap, dampaknya bisa jadi sama, atau bahkan lebih, disruptif tanpa persiapan yang memadai.
Tekanan terhadap kesempatan kerja sudah mulai terlihat jelas, terutama di sektor teknologi, yang ironisnya merupakan garda terdepan inovasi AI. Tharman Shanmugaratnam mencatat bahwa untuk pertama kalinya dalam satu abad, permintaan terhadap lulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat mengalami penurunan. Fenomena ini sangat signifikan mengingat AS adalah pusat inovasi teknologi global. Selain itu, keunggulan upah yang secara historis dinikmati oleh pemegang gelar sarjana juga mulai menyusut, menandakan bahwa nilai pasar dari pendidikan tinggi tradisional mungkin sedang mengalami rekalibrasi di era AI.
Tanpa kebijakan yang tepat dan intervensi yang strategis, lulusan baru berisiko kehilangan lebih dari satu tahun kesempatan berharga untuk mengembangkan keterampilan esensial melalui pengalaman kerja. Kehilangan waktu ini tidak hanya menghambat perkembangan karier individu tetapi juga dapat mengikis kepercayaan generasi muda terhadap masa depan dan sistem yang seharusnya mendukung mereka. Ini menciptakan potensi jurang kesenjangan keterampilan dan pengalaman yang sulit diatasi di kemudian hari.
Di sisi lain, AI juga menjadi pendorong signifikan bagi pertumbuhan ekonomi global melalui peningkatan investasi dan perdagangan yang berkaitan dengan teknologi tersebut. Georgieva mengemukakan bahwa investasi dan aktivitas perdagangan yang terkait dengan AI telah berperan penting dalam menopang pertumbuhan di sejumlah negara. Faktor ini turut menjaga ekspansi ekonomi global mendekati angka 3 persen, bahkan di tengah guncangan pasokan energi dan ketidakpastian ekonomi lainnya. Ini menunjukkan dualitas AI: sebagai sumber disrupsi sekaligus katalisator pertumbuhan. “Cintai, benci, atau takutlah terhadapnya. AI sudah hadir dan kita telah melihat gelombang pertama dampaknya,” ujar Georgieva, menegaskan realitas yang tak terhindarkan ini.
Adopsi AI Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi tapi Tidak Otomatis Hasilkan Lebih Banyak Pekerjaan
Georgieva memperkirakan bahwa adopsi AI berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,5 hingga 1 poin persentase di negara-negara maju di Asia. Sementara itu, di negara-negara berkembang Asia, peningkatannya diperkirakan mencapai 0,2 hingga 0,8 poin persentase. Dalam skenario dengan dampak tertinggi, pertumbuhan tambahan ini bahkan berpotensi mengimbangi kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh penuaan penduduk, menawarkan secercah harapan di tengah tantangan demografi.
Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tidak secara otomatis menjamin penciptaan lebih banyak lapangan kerja. Tharman Shanmugaratnam memberikan contoh kasus Cina, India, dan negara-negara berkembang di Asia Tenggara, yang semuanya telah mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup baik. Namun, paradoksnya, tingkat penciptaan lapangan kerja di negara-negara tersebut masih tergolong lemah. Fenomena ini, yang sering disebut sebagai “pertumbuhan tanpa pekerjaan” atau jobless growth, menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas yang didorong oleh teknologi mungkin tidak selalu diterjemahkan menjadi peningkatan kesempatan kerja bagi populasi yang tumbuh.
Menurut Tharman, kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi yang kuat dan penciptaan lapangan kerja yang lambat berisiko melebar lebih jauh apabila pemerintah tidak mengambil langkah antisipasi yang proaktif dan strategis terhadap perkembangan AI. Implikasi dari “tsunami yang bergerak perlahan” ini adalah kebutuhan untuk mempersiapkan diri secara komprehensif. Tharman menilai bahwa dampak AI terhadap pekerjaan akan berlangsung secara bertahap, sesuai dengan jenis tugas yang secara progresif dapat diotomatisasi. Kondisi ini, meskipun menantang, memberikan jendela waktu yang krusial bagi pemerintah, perusahaan, dan lembaga pendidikan untuk beradaptasi dan mempersiapkan tenaga kerja menghadapi perubahan struktural yang akan datang.
Ia menekankan pentingnya menciptakan kesempatan bagi pekerja untuk belajar sambil bekerja, atau learning while working. Model ini memungkinkan individu untuk terus memperbarui dan meningkatkan keterampilan mereka seiring dengan evolusi teknologi dan kebutuhan industri. Selain itu, perguruan tinggi juga memiliki peran vital untuk mengarahkan kurikulum pendidikan pada pelatihan terapan yang lebih praktis dan relevan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan tuntutan pasar industri yang terus berubah, menjembatani kesenjangan antara dunia akademis dan kebutuhan dunia kerja.
Di tengah pesatnya perkembangan AI, tantangan utama bagi pemerintah bukan hanya sekadar menjaga laju pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, pemerintah dihadapkan pada tugas yang lebih kompleks: memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan oleh AI juga mampu menciptakan kesempatan kerja yang inklusif dan berkelanjutan bagi generasi muda. Keseimbangan antara inovasi teknologi dan keadilan sosial menjadi kunci.
Oleh karena itu, kebijakan yang berfokus pada perekrutan lulusan baru, program pelatihan keterampilan yang adaptif, dan penguatan kerja sama antara pemerintah dengan sektor swasta menjadi sejumlah langkah yang secara konsisten disoroti oleh para pembuat kebijakan global. Upaya-upaya ini diharapkan dapat mengurangi risiko terganggunya jalur awal karier yang krusial akibat gelombang otomatisasi yang dibawa oleh kecerdasan buatan, memastikan bahwa transformasi digital ini membawa kemakmuran yang merata bagi semua lapisan masyarakat.




