Sultan miliarder Malaysia membeli saham di perusahaan pertambangan lokal, Southern Alliance Mining Ltd., yang sedang berekspansi ke sektor logam tanah jarang (rare earth element), termasuk melalui proyek di negara bagian asalnya, Johor.
Dikutip dari Bloomberg, Selasa (13/10), Sultan Ibrahim Iskandar membeli 2,25 persen saham Southern Alliance Mining, perusahaan penambang bijih besi yang terdaftar di bursa Singapura, seharga SGD 6,1 juta atau sekitar USD 4,8 juta, demikian pernyataan perusahaan tersebut.
Ia memperoleh saham tersebut dari Direktur Pelaksana perusahaan, Pek Kok Sam, dengan harga SGD 0,425 per saham, hampir 12 persen lebih tinggi dari harga penutupan hari Senin, kata perusahaan itu dalam pernyataan pada Senin malam. Saham Southern Alliance Mining naik 10,5 persen menjadi SGD 0,42 di Singapura pada Selasa pagi.
Sultan Ibrahim memiliki berbagai kepentingan bisnis yang luas meliputi real estate, telekomunikasi dan infrastruktur, terutama melalui kepemilikan sahamnya di berbagai perusahaan.
Ia menjabat selama lima tahun sebagai raja Malaysia di bawah sistem monarki bergilir yang unik di negara itu, di mana sembilan penguasa turun-temurun bergantian menduduki takhta.
Perwakilan dari istana nasional Malaysia tidak segera menanggapi permintaan komentar pada hari Selasa.
Pada September 2025, Southern Alliance Mining mengakuisisi 40 persen saham MCRE Resources, yang bermitra dengan China Rare Earth Corp. untuk operasi penambangan logam tanah jarang di negara bagian Perak.

Southern Alliance Mining juga sedang mengupayakan akuisisi Paramount Synergy Sdn Bhd. untuk proyek mineral langka di Johor, seiring dengan upaya mereka memposisikan diri di garis depan sektor yang sedang berkembang ini.
Perusahaan ini telah mempertahankan operasional pertambangan di negara bagian selatan Malaysia tersebut selama bertahun-tahun melalui tambang andalannya, Chaah Mine, dan terus mengejar peluang pengembangan sumber daya mineral di negara tersebut.
Malaysia telah menyatakan ambisinya untuk menjadi pemain yang kompetitif secara global di industri logam tanah jarang, yang menarik minat signifikan dari penambang dan pengolah asing.
Negara ini menjadi tuan rumah bagi Lynas Rare Earths Ltd dari Australia, salah satu dari hanya dua produsen utama di luar China, dengan konglomerat lokal seperti Berjaya Corp Bhd. juga menjajaki proyek-proyek.
Carester SAS dari Prancis juga berencana membangun pabrik pemisahan logam tanah jarang di negara bagian Perak bagian utara sebagai bagian dari usaha patungan dengan Malaco Mining Group dari Malaysia.
Pek dari Southern Alliance tetap menjadi pemegang saham pengendali perusahaan, dengan kepemilikan langsung sebesar 55,74 persen. Perusahaan tersebut menyatakan bahwa mereka bukan pihak dalam transaksi tersebut dan tidak menerima hasil apa pun.
Pengalihan saham ini tidak akan mengakibatkan perubahan apa pun pada manajemen, operasional, atau arah strategis perusahaan, demikian pernyataan tersebut.




